Showing posts with label Cernak. Show all posts

Cerita Dongeng Anak-anak; Lalat Hijau dan Teman Baru


foto by Google

Beberapa kali naskah cernak atau cerita dongeng anak-anak saya gak ada kabar setelah kirim ke koran-koran lokal. Mungkin saatnya saya harus kirim ke koran Mancanegara. Hehe. Jadi, daripada mubazir dibiarin sendirian di folder laptop, entar debuan atau suatu ketika ilang terkana virus, lebih baik saya posting di blog aja. Kali aja ada yang baca terus difilm-in, kan? Waduh…ketinggian imajinasi saya.

Baiklah ini dongengnya, selamat membaca.


Lalat Hijau dan Teman Baru

Oleh: Mas Agus


Lalat Hijau yang pindah rumah ke tempat baru yang lebih luas dan bagus tak juga membuatnya bahagia. Sudah satu minggu ini, ia belum juga menemukan teman baru.

“Sabarlah, Nak. Pasti nanti kamu punya teman baru.” nasihat Ibunya.

Lalat Hijau kemudian keluar rumah untuk bermain meski sendirian. Berusaha menikmati pemandangan yang ada di sekelilingnya agar tak merasa bosan. Belum lama ia terbang, Lalat Hijau melihat ada dua anak Lalat seumurannya. Kemudian ia mendekat, mengajak berkenalan.

“Kalian Lalat Hitam, ya?” tanya Lalat Hijau. “Boleh aku ikut bermain?”

“Tidak bisa!” Satu Lalat Hitam menghindar.

“Iya. Kamu berbeda dengan kami. Lalat Hijau itu kotor dan jorok!” kata Lalat Hitam satu lagi.

Kemudian dua Lalat Hitam itu menjauh, meninggalkan Lalat Hijau sendirian. Lalat Hijau sedih. Ia ingin segera pulang dan mengatakan pada ibunya bahwa ia ingin pindah rumah saja. Di tempat ini, ia tidak akan menemukan teman baru.

Lalat Hijau kemudian terbang kembali. Di perjalanan pulang, ia melihat binatang kecil tergeletak di tanah. Lalat Hijau mencoba mendekat.

“Tolong…” rintihnya.

“Kamu siapa?” tanya Lalat Hijau ragu.

“Aku Nyamuk. Tolong bawa aku pulang. Aku tak kuat terbang karena sayapku terluka,” mohon Nyamuk.

“Baiklah. Tunjukkan rumahmu.”

Lalat Hijau kemudian menopang tubuh Nyamuk kecil itu, mengantar pulang sampai rumahnya. Beberapa saat kemudian, mereka sudah sampai di kediaman Nyamuk. Keluarga Nyamuk sangat panik saat melihat sayap anaknya terluka.

“Ada apa ini?” tanya Ayah Nyamuk.

“Tidak tahu. Aku hanya menolongnya.” kata Lalat Hijau.

“Ayah, Aku…” kata anak Nyamuk mencoba menjelaskan. Tapi, belum sempat ia menjelaskan, anak Nyamuk itu sudah pingsan. Mungkin lukanya parah.

“Pasti ini karena kau, Lalat Hijau. Ayo mengaku saja!” ancam kakak Nyamuk.

“Bukan!” bela Lalat Hijau.

“Jangan bohong kau, Lalat Hijau!” Marah kakak Nyamuk. “Tubuhmu itu kotor dan jorok. Itu yang menyebabkan adikku tak sadarkan diri. Pergi kau dari sini!”

Lalat Hijau tak bisa apa-apa lagi. Keluarga Nyamuk sama sekali tak ada yang mempercayainya. Ia menangis lalu terbang dengan amat cepat melampiaskan kekecewaannya. Sampai-sampai ia menabrak dinding dan membuatnya pusing.

“Ibu…” rintih Lalat Hijau kesakitan. Kemudian ia tak sadarkan diri.

Saat terbangun, tiba-tiba Lalat Hijau sudah berada di rumah. Di dekatnya ada ibunya.

“Ada apa denganmu, Nak?” tanya Ibunya.

“Ibu, ayo kita pindah rumah saja. Di sini aku tidak akan memiliki teman baru. Semuanya jahat.”

Kemudian Lalat Hijau menceritakan apa yang telah terjadi sebelumnya.

“Ibu bayangkan, aku sudah menolong tetapi malah dituduh. Bukannya mereka mengucapkan terima kasih,” gerutu Lalat Hijau.

“Nak, orang baik itu tidak pernah minta timbal balik atas kebaikannya. Itu yang namanya menolong dengan tulus.”

“Tapi, Bu…” keluh Lalat Hijau masih sakit hati. “Kita juga dibilang bau, kotor dan jorok.”

Belum sempat Ibu menjawab, suara pintu rumah mereka diketuk. Cepat-cepat mereka berdua membuka, melihat siapa yang datang.

“Maafkan kami Lalat Hijau. Kami telah salah sangka. Kami datang ke sini untuk berterima kasih kepadamu,” kata Ayah Nyamuk.

“Benar. Sebagai ucapan terima kasih, semua makanan ini untukmu,” Kakak Nyamuk memberi banyak makanan. “Maafkan kami yang telah menghina kamu. Dulu, Lalat Hijau yang tinggal di tempat kami sangat jahat dan jorok. Tapi kamu berbeda. Kamu Lalat Hijau yang sangat baik.”

“Wah…terima kasih,” kata Lalat Hijau yang heran dengan apa yang dialaminya.

“Kami semua ingin berteman denganmu. Maukah kamu menjadi teman kami?” kata anak Nyamuk yang tiba-tiba muncul dari belakang dan diikuti dua Lalat Hitam tadi.

“Tentu saja.”

Lalat Hijau sangat senang. Ternyata kebaikan yang telah dilakukannya mendapat balasan lebih baik dari yang ia pikirkan. Setiap memberi kebaikan pasti terbalas kebaikan.


Maaf kalo gak menghibur. Haha.

“Egel dan Owel” Sebuah Cerita Anak-anak Sebelum Tidur.


“Egel dan Owel” Sebuah cerita anak-anak sebelum tidur.
foto by Google


Tanpa sengaja saya menemukan satu file cerita anak-anak yang pernah saya buat tempo dulu. Sudah lama sekali. Kalau nggak salah waktu zaman Megalitikum. Nah, untuk anak-anak yang sulit tidur, kebetulan nih. Coba baca cerita ini deh. Kali aja baru baca judul langsung pagi  ngantuk. Selamat membaca atau dibacakan.

Egel dan Owel

Oleh; Mas Agus


Suatu pagi di tengah sawah yang sejuk, Egel si burung Elang yang gagah sedang berlomba menangkap tikus dengan burung-burung yang lain. Hanya satu yang tidak ikut, Owel si burung hantu.

“Owel itu hanya burung hantu yang tidak bisa apa-apa selain menakuti dengan wajah buruk rupanya saja,” hina Egel.

“Aku tidak pernah berniat menakuti siapa-siapa. Tuhan memang memberiku wajah seperti ini,” bela Owel.

“Ya. Kau burung yang tidak berguna,” kata Elang mentertawainya.

“Aku bisa menangkap tikus.”

Semua burung yang mendengarnya ikut tertawa. Meremehkan.

“Kalau begitu buktikan! Ayo kita berlomba menangkap tikus.” Egel menantang.

Kemudian Owel dan Egel bertengger di tubuh orang-orangan sawah. Bersiap bertanding untuk menangkap mangsa secepat-cepatnya.

 “Satu…dua…” Burung yang lain mulai menghitung. “tiga!”

Kemudian Egel dan Owel terbang bersamaan untuk menikam tikus yang bersembunyi di sawah. Tapi, Owel, si burung hantu itu tidak bisa melihat dengan jelas mangsanya pada siang hari. Itu kelemahannya.

“Dapat!” kata Elang bersemangat menunjukan tikus di gigi tajamnya.

“Ya. Kau menang,” Owel menerima kekalahannya. Ia begitu sedih.

“Lihat ini! Aku mendapatkan mangsa lagi tak lebih dari satu menit,” Kali ini Egel menunjukan anak ayam.

“Akulah yang paling hebat! Kau hanya burung hantu berwajah mengerikan yang suka menakuti petani!” kata Egel sombong.

Owel berusaha agar tetap sabar menghadapi Egel. Dikepakan kedua sayapnya untuk terbang dan kembali ke rumah. Belum sempat Owel menjauh dari Egel, ia mendengar suara berisik para petani. Burung-burung lain terbang menjauh.

“Ini dia elang yang sering memakan anak ayam kita! Ayo kita bunuh saja!” teriak para petani yang menangkap Egel.

Owel bingung bagaimana menyelamatkan musuhnya itu. Saat ia mendekat, Egel sudah dimasukan dalam kurungan besi dan dibawa ke salah satu rumah petani.

*

Pada malam harinya, Owel dengan cepat memangsa tikus-tikus di sawah. Puluhan tikus sudah ia dapatkan. Itulah kelebihan yang dimilikinya dari burung lain. Matanya bisa melihat dengan terang dalam kegelapan. Setelah terkumpul cukup, ia pergi menemui Egel.

“Tidak usah sok baik kau, Owel!” tolak Egel ketika Owel memberinya beberapa tikus.

“Aku hanya ingin berbagi makanan kepadamu. Aku tahu, kamu pasti lapar sekarang,”

“Tidak usah sok peduli! Pergi saja sana! Besok para petani itu akan membunuhku.”

Owel kemudian pergi dan memikirkan cara agar Egel bisa keluar dari kurungan dan tak jadi dibunuh para petani. Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, Egel dibebaskan dan tak jadi dibunuh. Malah, ia diberi daging ayam segar oleh para petani.

“Berterimakasihlah kepada Owel. Karena dia, kamu bisa bebas dan mendapat makanan enak,” kata petani.

“Bagaimana bisa?” tanya Egel bingung.

“Kami membuat perjanjian. Jika Owel bisa membasmi tikus lebih dari seratus, kamu dibebaskan dan diberi makan setiap hari. Semalam, Owel bisa melakukannya. Dia memang burung yang hebat.”

Mendengar itu, Egel jadi sedih. Ia menyesal atas apa yang dilakukan sebelumnya. Ternyata Owel burung hantu yang baik, yang suka menolong. Egel kemudian terbang dan mencari Owel untuk meminta maaf. Ternyata semua ciptaan punya kelebihan dan kekurangan masing-masing.


Selamat tidur adik-adik. Salam buat mbanya, ya. Eh.


Cernak Dimuat Di Padang Ekspress



Ini Cerita anak perdana yang dimuat di Padang Ekspress. Cerita anak, ya, bukan cerita dewasa. Eh.

Ya, mudah-mudahan aja terhibur. Minimal bisa ngobatin insomnianya. Happy Reading!





Tolong Kancil, Teman!


Kancil berlari dengan kencang memasuki hutan untuk menemui teman-temannya. Ia perlu bantuan Orang Utan, Si Dokter itu untuk mengobati sakit adiknya. Masalahnya, tempat tinggal Orang Utan itu harus menyeberangi sungai yang banyak sekali Buayanya. Dan Kancil tidak bisa menyeberanginya.

“Monyet tolong aku,” kata Kancil dengan napas kelelahan ketika baru saja tiba di rumah monyet. “Adikku sakit. Bisakah kamu menyebrangi sungai untuk memanggil Orang Utan?”

Tapi Monyet malah tertawa. “Kancil, jangan coba membohongi aku lagi seperti waktu itu. Aku tidak mau!” Monyet menolak. Kancil mengingat hari sebelumnya. Ia pernah membohongi Monyet, bilang bahwa Monyet dipanggil Kura-Kura untuk hal penting. Lekas Monyet pergi ke rumah Kura-Kura. Tapi, setiba di sana, Kura-Kura bilang ia tidak pernah memanggil.

“Kali ini aku tidak berbohong,” kata Kancil menyakinkan.

“Tidak. Aku tidak mau tertipu lagi. Pergi saja sendiri sana!” Monyet mengusir.

Kancil putus asa lalu meninggalkan Monyet. Ia berpikir siapa lagi temannya yang bisa menolong. Oh, iya! Anjing baik itu pasti bisa! seru Kancil. Cepat ia kembali berlari menuju rumah Pak Tani, tempat tinggal Anjing. Itu dia Anjing! Kancil melihat dari kejauhan. Anjing sedang menjaga perkebunan Pak Tani. Segera Kancil menghampiri.

“Anjing, kau kan akrab dengan Buaya, bisakah kamu menolong aku untuk memanggil Orang Utan? Adikku sedang sakit,” keluh Kancil.

“Kenapa tidak kau saja?”

“Aku pernah membohongi Buaya waktu itu. Jadi aku tidak mungkin bisa menyeberangi sungai lagi.”

“Aku tidak mau. Kau pasti mau membodohiku lagi, kan? Aku tidak mau tertipu lagi,” tolak Anjing.

“Kemarin saja kau bilang aku dipanggil Pak Tani, tapi setelah kutinggal, kau mencuri mentimun kami. Kau pasti berbohong lagi.”

“Tidak. Aku tidak berbohong. Adikku benar sedang sakit. Kumohon bantu aku…”

“Aku tidak mau. Kau pembohong, Kancil. Sana pergi! Sebelum Pak Tani menghajarmu!” Anjing juga mengusirnya.

Kancil sangat putus asa dan tidak tahu harus meminta tolong siapa lagi. Ia berjalan menunduk dan menangis. Kancil menyesal pernah membohongi teman-temannya itu. Sekarang, ia menerima hukuman, teman-temannya tidak ada yang mempercayainya lagi.

“Hei Kancil! Kau kenapa?” tanya Singa, Si Raja Hutan melihat Kancil murung.

“Jangan dekat-dekat!” teriak Kancil ketakutan.

“Tenang…Aku tidak akan memakanmu. Aku ingin menolongmu. Aku kan Raja di sini. Sekarang, apa yang bisa aku bantu, Kancil? Katakan saja.”

“Tidak! Kau pasti berbohong, Singa. Kamu pasti mau memakanku!”

Kancil berlari secepat-cepatnya meninggalkan Singa. Kemudian ia kembali ke rumah untuk melihat keadaan adiknya. Dilihat wajah adiknya yang pucat dan menggigil kedinginan. Bagaimana ini?! Sakit adikku tambah parah! Kancil mengeluh sendiri.

“Tolong! Tolong!” teriak Kancil.

Tidak ada yang menyahut. Kancil menangis dan benar-benar menyesal. Tidak ada yang mempedulikan dia.  Beberapa saat kemudian, Singa datang dengan Anjing, Monyet, Orang Utan serta binatang hutan lainnya.

“Maafkan kami, Kancil. Kami mengira kamu membohongi kami lagi,” Anjing dan Monyet memeluk Kancil.

“Tidak. Aku yang minta maaf kepada kalian karena sering membohongi kalian. Maafkan aku, ya. Terimakasih sudah menolongku,” kata Kancil.

“Berterimakasihlah kepada Singa. Singa yang menanyakan kami masalahmu dan Singa juga yang memanggil Orang Utan.” Monyet menjelaskan.

Kancil tambah malu. Barusan saja ia menuduh Singa akan memakannya. Ternyata tidak begitu. Kemudian Kancil meminta maaf kepada Singa dan berterimakasih kepada semua teman-temannya. Ia berjanji kepada diri sendiri agar tidak pernah membohongi teman-temannya lagi.



Untuk Alpukat dan Es Kacang Merah, selamat ulang tahun, ya...)