Sore itu, di depan cermin berukuran kira-kira 60cmx80cm ada wajah perempuan yang saya kenal betul. Lengan kiri memegang sisir dan gunting berada di lengan kanan. Sebagai anak yang pernah belajar PPKN di sekolah dasar dan di madrasah (walaupun guru ppkn itu masuk cuma ngasih tugas lalu muncul kembali dari laci meja saat bel pulang sekolah), saya tahu apa yang mesti dilakukan.
“Yakin bisa?” tanya ibu saya.
Sedari kecil saya perhatikan, ibu saya jarang sekali menggunting rambut di salon-salon pasar atau salon-salon banci di tikungan gang. Menggunting rambut bagi ibu saya adalah pekerjaan yang bisa dilakukan sendiri. Hasilnya; menurut saya tentu cantik. Tidak tahu kalo yang menilai Ivan Gunawan.
“Bisa.” jawab saya yakin. Gunting beralih ke tangan saya.
Sebelum menawarkan diri untuk menggunting rambut ibu, saya punya beberapa pengalaman yang cukup mampu membuat saya yakin kalau menggunting rambut adalah hal yang bisa saya lakukan meskipun sebelumnya tidak pernah.
Saat SD, pengalaman menggunting rambut saya dapatkan dari saudara saya. Kala itu, kalau boleh jujur, dia adalah tamu yang cukup mengerikan buat saya. Bagaimana tidak, setiap dia bertamu, pasti akan terjadi proses menggunting rambut; hal yang tidak saya sukai.
Setelah selesai dicukur saya selalu bercermin, dan di sana; saya temukan diri saya menjadi korban. Tapi, saya tidak menangis. Setidaknya bisa menahan itu sampai saudara saya pulang. Anehnya, setelah selesai dicukur dan sebelum saudara saya yang baik perangainya itu pulang, saya selalu diberi uang jajan. Lalu kesedihan saya selesai. Hmm, untuk mendapatkan sesuatu memang selalu ada ‘harga’ yang mesti dibayar, saudaraku. Entah itu uang atau lainnya.
Saya masih menyimpan foto itu; di usia SD, saya dengan style rambut bayi. Maaf, tidak untuk dikonsumsi publik. Jadi, tidak saya upload, ya. Saudara saya itu telah mengajarkan kepada saya bagaimana mencukur rambut agar tumbuh kembalinya lama. LAMA SEKALI. Terima kasih, saudaraku.
Saat Mts atau madrasah, saya dikenalkan dengan namanya razia rambut. Proses mencukur rambut oleh guru kala itu tidak kalah mengerikan. Kalau kamu terjaring razia, hasil akhir rambut kepala kamu tidak lain adalah botak. Dan botak, tidak lain adalah sapaan baru di sekolah. Sapaan yang membuat hatimu nyeri dan kamu bakal mengalami itu minimal dua minggu. Guru itu mengajarkan kepada saya; mencukur rambut semestinya dilakukan dengan tenang, tanpa dendam dan tidak bisa salah. Jika salah, bakal ada sesuatu yang tidak bisa diulang. Sesuatu yang tidak bisa diulang seringkali menyakitkan.
Sewaktu SMA, saya kebanyakan lolos dari razia. Entah karena rambut saya memenuhi kriteria atau karena saya selalu tidak ada saat razia berlangsung atau berhasil melarikan diri. Satu dua kali pernah terjaring razia, tidak menarik untuk diceritakan kembali. Tapi tenang saja, di tingkat ini, pendidikan mengenai mencukur, saya pelajari dengan cara merapihkan rambut teman saya. Dengan silet. Ya, silet. Hasilnya; hmm… ada luka-lukanya. Tapi, kan...
Pengalaman saya mengenai menggunting rambut tidak berhenti di situ saja. Saya pernah teleportasi; berpindah ke suatu tempat dengan cara rahasia. Sekedip mata saja, saya sudah berada di Spanyol (tentu saja ini bohong). Di sana, saya belajar dengan Pakde Almando, belio ini mencukur rambut dengan senjata orang-orang Jepang. Ya, dua samurai. Pakde Almando ini mengajarkan kepada kita bahwa hidup tak boleh terlalu kaku. Di tangannya, samurai bisa menjadi alat cukur. Barangkali guru-guru sekolah bisa meniru ini?
Pakde Almando sedang mencukur mbak maimun
Setelah ke Spanyol, dan saya tidak menemukan ale-ale di sana, padahal tembolok serasa kering, akhirnya saya teleportasi lagi ke China. Di China, kamu bisa menemui Wang Xiayou—kang cukur rambut dengan gaya kungfu. Belio ini mencukur rambut dengan posisi terbalik; kaki di atas, kepala di bawah, hati disakiti. Mencukur rambut dan seni bela diri adalah komposisi yang indah, bagi Wang Xiayou.
Wang Xiayou--bajunya belum ada yang kering
Dengan pengetahuan itulah, saya mulai menggunting rambut ibu saya. Selama proses menggunting rambut, saya mengelilingi ibu saya; dari depan, pindah ke belakang, ke samping kanan, ke samping kiri. Begitu terus. Ternyata saya benar-benar berbakat dalam hal ini.
“Kok dari tadi nggak pake sisir?” tanya ibu saya.
Saya diam. Wajah saya sudah penuh keringat.
Di depan cermin itu, ibu saya diam melihat hasil rambutnya dan saya cepat-cepat pamit untuk mandi saja.
foto sudah melewati proses edit ribuan kali
aya enggak pernah bayangin sebelumnya, dari dunia maya segalanya bisa buat kita jadi lebih dekat dan jauh pada saat yang bersamaan. Dekat dengan yang sebelumnya jauh, jauh dengan hal yang sudah lama dekat.
Apapun itu, secara sadar atau enggak. Kadang nguntungin, kadang ngerugiin. Hidup emang berpasangan.
Satu tahun yang lalu secara enggak sengaja, saya berkenalan dengan seseorang yang emang aktif di dunia maya. Karena, pekerjaannnya emang di situ. Namanya; Ery. Sebagai anak yang menghormati orang yang lebih tua dan menjaga agar “terkesan” memiliki sopan santun, saya beri tambahan “mas” untuk memanggilnya.
Ery Mas. HEHE.
Ceritanya dimulai dari pertama saya belajar nge-blog yang kemudian teman saya menyarankan untuk berkenalan dengan Mas Ery ini. Ternyata, si Mas satu ini sudah kapalan soal nge-blog, youtube, social media atau apapun yang berhubungan dengan dollar. Dollar, mba-mas! 14 ribu sekarang! Ibu-ibu kompleks aja gak bisa nawar turun.
Awalnya saya ragu, karena baru kenalan aja Mas Ery ini sudah nyambut saya bak tamu besar dari Amerika yang nyasar karena ikut aliran-aliran aneh. Saya tanya sedikit tentang nge-blog, dijawab dengan baik-baik, jelas, dan lebih panjang dari pertanyaannya. Jelas aja, saya jadi suudzon dan mawas diri. Radar negatif sekitar menyala. Jangan-jangan kebaikan Mas Ery ini bentuk penyamaran dari tim pencari orang yang cocok untuk bom bunuh diri. Tapi, sayangnya bukan. Yah, padahal kalo iya, saya mau lho, Mas. Soal nge-bom mah saya sudah kapalan, Mas. Nge-bom like di fb. HEHE.
Dan yang keren dari si Mas Ery ini adalah dia gak minta dan gak mau dikasih bayaran apapun. Baik berupa uang maupun seperangkat alat sholat; mukena, jilbab dan sebagainya. Cocok! Saya juga gak mau ngasih. Eh. Dasar pelit amat saya ini. Huft.
Tapi, ilmu internet marketing yang dia kasih gak kira-kira, gak dibatas-batasi. Ugal-ugalan nih orang. Dia berdarah-darah buat dapetin ilmu itu, tapi ditaburin kayak anak bayi dikasih botol bedak. Cuma satu yang dia mau; saya bisa berhasil.
Baik bener, kan? Gak pake pamrih. Yang sekarang ngaku “Tulus” aja kalo nyanyi “sepasang sepatu” masih minta bayaran. Emaap. Atau saya aja yang bikinin teh buat emak sendiri kadang masih pake cembetut. Tapi, Mas Ery ini sudah bisa dan mau ngeladenin orang yang bukan siapa-siapanya dengan segala kemampuannya. Salut! Teladan.
Dari situlah kami jadi akrab. Jauh kami jadi dekat. Tapi, ada satu hal yang mesti ngelus dada kalo ngadepin Mas Ery yang beruntung bisa sudah menikah ini (kalo ngeliat dari foto yang diupload di fb; seperti Nicta Gyna dan Tukul Arwana). Masalahnya bermula dari Mas Ery yang suka nyinyirin jomlo; saya. Kalo ada waktu dan kesempatan. Sialnya, ada terus. Dia bilang saya gak laku lah, homo lah, bukan lelaki sejati. Gila kan?! Kok dia bisa tahu rahasia itu. Haha. Enggaklah. Saya laku, tapi belum. *kemudian hening lama*
Dan, untuk menghentikan prilaku Mas Ery yang gak menyenangkan itu, yang bisa membuatnya kena pasal dan dipidana seperti mbah-mbah yang nyuri ranting pohon tempo lalu, di kesempatan kali ini saya mau klarifikasi bahwa;
Ingat! Sebagai jomlo, saya ini gonta-ganti pasangan setiap harinya; baik, buruk, bahagia, sedih, keramaian hati, kesepian dan lain-lain. Apapun pasangannya sekarang, saya mesti belajar nerima itu dulu dengan lapang dada sebelum mendapat pasangan yang lain (baca; perempuan). Tapi, kalo ada mba-mba yang mau nemenin saya untuk proses menerima itu; ya… why not? Heleh.
Jadi, cukup jelas, ya, Mas Ery. Saya ini jomlo tapi playboy. Gak sembarang. Jadi, jangan sembarang. Haha.
Nyinyiran Mas Ery itu saya anggap cuma kelakar doang untuk nyiptain canda dan tawa. Biar lebih akrab. Selebihnya, saya mau berterima kasih kepada Mas Ery selama setahun ini yang sudah membantu saya. Semoga aja saya ketularan untuk selalu belajar memberi tanpa pamrih. Karena pamrih apa yang sudah saya kasih untuk-NYA yang bisa membuat saya memberi? Nihil.
Mas Ery dari tadi udah dipuji tuh. Ya… tahu dirilah harus bayar berapa (ternyata saya masih minta pamrih) Haha.
Sekian sharing dari saya, thanks maksimal sudah mau mampir dan baca, ya, mba-mas. Kamu juga boleh dong sharing mengenai dunia maya; apa yang buat kamu dekat dengan hal yang sebelumnya jauh atau buat kamu jauh dengan hal yang sudah lama dekat? Tulis di kolom kometar, ya, mba-mas.
Jangan kayak kemarin-kemarin, nulisnya malah di kolom TTS dan kolom susu. Huft.