Showing posts with label Cuap-cuap. Show all posts

Berhenti Mendefinisikan Cinta Sayang


Bagaimana definisi ‘cinta’ menurutmu?
Beberapa hari yang lewat, ada yang bertamu ke rumah saya. Laki-laki. Sudah menikah. Sudah punya bayi. Bayinya perempuan. Jari bayinya mungil-mungil. Mulutnya imut. Kadang ngoceh-ngoceh, tapi tidak jelas bicara apa. Dipakein bondu dan kaos kaki warna ungu. Lucu. Dicubit-cubit pipinya, dia tidak melawan. Malah senyum. Ketawa. Terus ngoceh-ngoceh tidak jelas lagi. Ya, cubit-cubit lagi pipinya. Bayinya suka genggem jari telunjuk saya. Genggemannya lumayan kuat. Mumumumumumu...

Kapan kamu punya bayi?

Oke. Baiklah. Kembali ke pertanyaan saja; bagaimana definisi ‘cinta’ menurutmu?

Ada yang bilang, cinta adalah tentang melepaskan. Cinta adalah pengorbanan. Cinta adalah penerimaan. Cinta adalah kepercayaan. Dan cinta adalah-adalah lainnya.

Cukup! Berhenti mendefinisikan cinta, sayang.

Jangan pertemukan cinta dengan tanda tanya. Kita sama-sama sudah bosan dengan tafsir yang banyak, tapi tidak pernah benar memahaminya.

Biar bayi saja yang mendefinisikan cinta. Yang bicara cinta. Yang mengoceh tidak jelas. Tetapi kita bisa merasakan ada kebahagiaan yang murni di sana. Ada cinta yang murni cinta.

Nah...fyi, jika kamu perempuan, ternyata saya lelaki yang berpeluang besar bisa membantumu memiliki bayi.

*dijewer mamak*

Tulisan ini diikutkan tantangan menulis #kampusfiksi #basabasistore #pertanyaanapadefinisicinta

Mengenai Kekasih


   Kamu mungkin sudah bisa menebak seperti apa kekasih yang didambakan bagi hampir setiap orang adalah tidak jauh dari humoris, menarik, fisik yang baik, membuat nyaman, sukses finansial atau semacamnya yang atau mendekati sempurna. Tapi, jika kamu tanya mengenai kekasih yang saya dambakan, saya akan jawab dengan jujur dan sesederhana mungkin; kembali ke kata pertama pada paragraf ini.

Cara Menghapal Sejarah Hidup Seseorang Dalam Waktu Kurang Dari Sehari

unsplash.com


Kelak, yang saya tulis di bawah ini akan membuat makhluk berakal yang hidup empat puluh sampai lima puluh tahun mendatang menemukan ilmu yang semakin memajukan teknologi dan peradaban manusia di Indonesia.

Peradaban gundulmu!

Saya bohong, kok. Ehehe.

Akhir-akhir ini, saya mencoba untuk lebih sering mendengarkan daripada mengecap berbicara. Dari sana, saya menarik dan menggulung beberapa kesimpulan bahwa; pertama, masa hidup manusia tidak lebih dari sehari. Kedua, tidak ada yang menarik, kecuali diri sendiri.

Kesimpulan saya tentu bisa saja salah. Tapi.

Kemarin siang—saat saya dalam perjalanan pulang ke rumah dengan kereta api, saya bertemu teman MTs saya yang sudah lama sekali tidak bertemu. Kurang lebih 31.104.000 detik. Berapa tahun tuh?

Yap. Kamu benar.  1.866.240.000 sekon.

Sebelum berada di dalam kereta, saya sering membayangkan bahwa di dalam nanti saya akan duduk berdekatan dengan perempuan yang punya senyum seperti bayi atau bapak-bapak yang punya cerita lucu atau minimal jangan ketemu mas-mas yang suka bilang; ‘biarkan uang yang bekerja untuk Anda’. Jangan...saya sudah lelah dengan kapal pesiar, ‘kaki-kaki’ atau downline yang dikoar-koarkan itu. Dan terima kasih, saya bertemu dengan Fajar, teman MTs yang jika kita menebak berapa umurnya, pasti kelebihan 5 sampai 8 tahun. Wajahnya sekarang penuh jambang ala Ridho Roma Kelapa. Alhasil, kami mendadak reuni di dalam kereta.

Yang tidak saya lupakan dari sosok Fajar ini adalah dia menyukai Michael Jackson. Di kelas—waktu itu, ia sering menirukan gerakan penyanyi pop yang telah meninggal dunia tersebut. Dan itu bagi saya pribadi adalah hal yang ‘aneh’ sekali. Maksud saya, Fajar menyukai Michael Jackson tepat ketika penyanyi tersebut meninggal dunia. Tapi, ya, tidak apa-apa. Saya baru ingat, kita saja pernah lebih mencintai seseorang, tepat ketika seseorang itu telah pergi.

Kami membicarakan banyak hal. Tentang perkebunan di Indonesia (itu bidangnya), dunia jurnalistik dan tentang wisudanya yang beberapa hari lagi. Dan kamu tahu, dari pembicaraan tersebut, hampir seluruh yang saya bicarakan dengannya adalah tentangnya, bukan saya. Biasanya memang seperti itu yang kamu dapat dari mendengar. Mari kita tinggalkan Fajar sebentar. Di depan tempat kami duduk ada satu ibu-ibu muda yang gelisah entah karena apa.

“Kenapa, Bu?” Saya tanya.

“Ini kenapa? Barusan jatuh. Jadi gini.” Dia balik tanya sambil menunjukkan layar handphone-nya yang menghitam.

Karena satu pertanyaan itu, saya bisa menghapal sejarah hidupnya dan keluarganya tidak lebih dari tiga jam. Saya hampir tahu masa hidupnya. Di mana dia sekolah dan pindah sekolah, kenakalan waktu dia sekolah, prestasi, pekerjaan-pekerjaan yang pernah dia kerjakan, bagaimana dia menikah, beberapa kebiasaan suaminya, perbedaan ia, anak-anaknya dan suaminya, nama anaknya, kenakalan anaknya, di mana sekolah anaknya dan banyak banyak lainnya.

Ya, karena satu pertanyaan itu, obrolan kami jadi memanjang. Saat saya mendengarkan, orang-orang lebih tertarik menceritakan hidupnya daripada mendengar cerita hidup orang lain. Cerita diri sendiri tampaknya selalu lebih menarik daripada orang lain. Meskipun, jika ada cerita orang lain yang memang lebih ‘megah’, berkesan dan berbekas, tetap saja rasanya lebih nikmat menceritakan kisahnya sendiri. Saat saya mendengarkan orang lain bercerita, saya merasa mereka seringkali lebih bersemangat dibanding saat mereka mendengar saya bercerita.

Sebelum saya menyesal kereta berhenti dan kami turun, saya bertanya; “ada keponakan atau saudara yang seumuran dengan saya, Tante?”

“Ada.” Dia senyum. Mengeluarkan hape lain dari dompet kecil. “Tapi, sudah punya pacar.”

Tiba-tiba saya ingin melupakan apa yang sudah dia ceritakan. Tidak menarik!

Jika kamu ingin tahu sejarah hidup seseorang, yang harus kamu lakukan hanyalah mendengarkan. Tapi, apakah hal itu menarik?


Sebelum Menggunting Rambut Ibu



Sore itu, di depan cermin berukuran kira-kira 60cmx80cm ada wajah perempuan yang saya kenal betul. Lengan kiri memegang sisir dan gunting berada di lengan kanan. Sebagai anak yang pernah belajar PPKN di sekolah dasar dan di madrasah (walaupun guru ppkn itu masuk cuma ngasih tugas lalu muncul kembali dari laci meja saat bel pulang sekolah), saya tahu apa yang mesti dilakukan.

“Yakin bisa?” tanya ibu saya.

Sedari kecil saya perhatikan, ibu saya jarang sekali menggunting rambut di salon-salon pasar atau salon-salon banci di tikungan gang. Menggunting rambut bagi ibu saya adalah pekerjaan yang bisa dilakukan sendiri. Hasilnya; menurut saya tentu cantik. Tidak tahu kalo yang menilai Ivan Gunawan.

“Bisa.” jawab saya yakin. Gunting beralih ke tangan saya.

Sebelum menawarkan diri untuk menggunting rambut ibu, saya punya beberapa pengalaman yang cukup mampu membuat saya yakin kalau menggunting rambut adalah hal yang bisa saya lakukan meskipun sebelumnya tidak pernah.

Saat SD, pengalaman menggunting rambut saya dapatkan dari saudara saya. Kala itu, kalau boleh jujur, dia adalah tamu yang cukup mengerikan buat saya. Bagaimana tidak, setiap dia bertamu, pasti akan terjadi proses menggunting rambut; hal yang tidak saya sukai.

Setelah selesai dicukur saya selalu bercermin, dan di sana; saya temukan diri saya menjadi korban. Tapi, saya tidak menangis. Setidaknya bisa menahan itu sampai saudara saya pulang. Anehnya, setelah selesai dicukur dan sebelum saudara saya yang baik perangainya itu pulang, saya selalu diberi uang jajan. Lalu kesedihan saya selesai. Hmm, untuk mendapatkan sesuatu memang selalu ada ‘harga’ yang mesti dibayar, saudaraku. Entah itu uang atau lainnya.

Saya  masih menyimpan foto itu; di usia SD, saya dengan style rambut bayi. Maaf, tidak untuk dikonsumsi publik. Jadi, tidak saya upload, ya. Saudara saya itu telah mengajarkan kepada saya bagaimana mencukur rambut agar tumbuh kembalinya lama. LAMA SEKALI. Terima kasih, saudaraku.

Saat Mts atau madrasah, saya dikenalkan dengan namanya razia rambut. Proses mencukur rambut oleh guru kala itu tidak kalah mengerikan. Kalau kamu terjaring razia, hasil akhir rambut kepala kamu tidak lain adalah botak. Dan botak, tidak lain adalah sapaan baru di sekolah. Sapaan yang membuat hatimu nyeri dan kamu bakal mengalami itu minimal dua minggu. Guru itu mengajarkan kepada saya; mencukur rambut semestinya dilakukan dengan tenang, tanpa dendam dan tidak bisa salah. Jika salah, bakal ada sesuatu yang tidak bisa diulang. Sesuatu yang tidak bisa diulang seringkali menyakitkan.

Sewaktu SMA, saya kebanyakan lolos dari razia. Entah karena rambut saya memenuhi kriteria atau karena saya selalu tidak ada saat razia berlangsung atau berhasil melarikan diri. Satu dua kali pernah terjaring razia, tidak menarik untuk diceritakan kembali. Tapi tenang saja, di tingkat ini, pendidikan mengenai mencukur, saya pelajari dengan cara merapihkan rambut teman saya. Dengan silet. Ya, silet. Hasilnya; hmm… ada luka-lukanya. Tapi, kan...

Pengalaman saya mengenai menggunting rambut tidak berhenti di situ saja. Saya pernah teleportasi; berpindah ke suatu tempat dengan cara rahasia. Sekedip mata saja, saya sudah berada di Spanyol (tentu saja ini bohong). Di sana, saya belajar dengan Pakde Almando, belio ini mencukur rambut dengan senjata orang-orang Jepang. Ya, dua samurai. Pakde Almando ini mengajarkan kepada kita bahwa hidup tak boleh terlalu kaku. Di tangannya, samurai bisa menjadi alat cukur. Barangkali guru-guru sekolah bisa meniru ini?

Pakde Almando sedang mencukur mbak maimun

Setelah ke Spanyol, dan saya tidak menemukan ale-ale di sana, padahal tembolok serasa kering, akhirnya saya teleportasi lagi ke China. Di China, kamu bisa menemui Wang Xiayou—kang cukur rambut dengan gaya kungfu. Belio ini mencukur rambut dengan posisi terbalik; kaki di atas, kepala di bawah, hati disakiti. Mencukur rambut dan seni bela diri adalah komposisi yang indah, bagi Wang Xiayou.

Wang Xiayou--bajunya belum ada yang kering

Dengan pengetahuan itulah, saya mulai menggunting rambut ibu saya. Selama proses menggunting rambut, saya mengelilingi ibu saya; dari depan, pindah ke belakang, ke samping kanan, ke samping kiri. Begitu terus. Ternyata saya benar-benar berbakat dalam hal ini.

“Kok dari tadi nggak pake sisir?” tanya ibu saya.

Saya diam. Wajah saya sudah penuh keringat.

Di depan cermin itu, ibu saya diam melihat hasil rambutnya dan saya cepat-cepat pamit untuk mandi saja.

Wi-fi dan Hal Lain Yang Lebih Penting


wi-fi dan hal lain yang lebih penting
Tugu Payan Mas, Tugu Kotabumi

Tampaknya Bapak Agung kami, bupati Lampung Utara sudah mulai peka mengenai satu dari sekian perasaan warganya. Baru-baru ini, di taman dan tugu kota sudah tersedia wi-fi gratis. Dan itu artinya, kota kita tak perlu takut lagi kehabisan kuota.

Kota, kita dan kuota. Ketiga hal itu berkawan baik satu sama lain. Kita butuh kota agar hubungan punya tempat tinggal. Dan kuota, seringkali jadi perantara yang bagus untuk mempertemukan kita di zaman layar sentuh dan malu berkenalan secara langsung ini. Ya, pura-pura ngerti sajala, kita yang saya maksud itu anak-anak muda gemes sekarang.

Terima kasih, Pak Agung dan rekanan atas pemasangan wifi-nya. Eh, sebentar. Tunggu dulu.

Sebelum berterima kasih kepada beliau, ada baiknya kita nggak melupakan Hedy Lamar. Artis Wanita Hollywood yang terkenal dan sensasional di era perang dunia. Tapi jangan salah. Mbak Hedy Lamar dan temannya inilah penemu sistem komunikasi rahasia di tahun 1942. Alat yang sangat membantu sekali mempertahankan keamanan dalam komunikasi militer pada waktu itu. Singkatnya, penemuan tersebut jugalah yang menjadikan lahirnya teknologi modern di zaman ini; handphone, bluetooth dan ya, wi-fi.

Kabarnya, akan ada teknologi terbaru macam wi-fi, yaitu li-fi (light fidelity). Kecepatan internetnya 1Gpbs bahkan bisa sampai 224 Gbps hanya dengan bantuan lampu LED. Tapi, jangan dibayanginlah. Masih ada kartu tri, kok. Ehgimana-gimana.

Yang jelas, terima kasih untuk Mbak Hedy Lamar.
wi-fi dan hal lain yang lebih penting
Taman Santap, Taman Kota

Garis bawahi; artis terkenal dan sensasional bisa menemukan alat yang berguna untuk masa depan.

Jadi, tidak menutup kemungkinan, artis-artis terkenal dan sensasional di Indonesia yang sering kita cemooh dan nyinyirin itu bisa juga membuat penemuan-penemuan canggih—yang kita tidak tahu. Mungkin, Bang Ipul sedang bikin alat-alat hebat untuk masa depan. Siapa yang tahu. Halah!

Kembali lagi ke wi-fi di pusat kota. Ada hal yang luput dari rekanan saat memasang wi-fi gratis di taman kota, ialah pemasangan colokan. Padahal ini penting. Apalagi untuk laptop saya yang ditinggal buang air kecil saja sudah mati kalau tidak di-charge.

Dan, saya juga punya banyak kenalan yang memiliki permasalahan sederhana tapi cukup rumit. Permasalahan itu jauh lebih penting dari proyek pengadaan wi-fi gratis di pusat kota, yaitu pengadaan wife bagi jomlo yang umurnya kian menua.

Juga barangkali tidak ada perempuan yang peduli dengan tetek bengek atau siapa itu Hedy Lamar yang sudah saya jelaskan sesingkat-singkatnya di atas. Yang lebih mereka pedulikan ialah; kapan adek dilamar?

Itu.

Manis Yang Berbulu




Sudah lama nggak nulis di blog. Ada jeda selama tiga bulan lebih. Nulis setelah lama nggak nulis rasanya kaku kayak bincang pertama kali sama calon mertua atau ngerjain soal ujian matematika di kantor guru. Sendirian. Malam hari. Penerangannya cuma nyala lilin doang.

Eh, itu mah uji nyali.

Sekarang sudah jam setengah dua belas. Itu artinya malam minggu tanggal tiga puluh Januari bakal ketemu akhir. Sunyi dan sepi. Tapi, mata belum mau diajak tidur. Kopi masih ada sedikit. Tiga teguk. Tenang, kopinya nggak beracun, kok. Sianidanya saya pisah.

Di pojok ruangan, ada kucing saya yang sudah tidur dari jam delapan tadi.

Entah cuma kucing saya atau semua watak kucing memang menghabiskan waktu dengan tidur(?). Mungkin dunia di dalam tidurnya lebih nyata dan menyenangkan ketimbang dunia saat dia terjaga. Kucing saya bangun cuma karena satu hal; makan.

Seringkali dia bangun di waktu yang nggak tepat. Saat-saat stok makanan kosong. Sayangnya lapar kucing ternyata nggak bisa ditunda—meski dengan Okky Jelly Drink. Kalau sudah begitu, saya membiarkannya mencari makan di luar rumah. Ya, dalam hal ini saya bukanlah contoh majikan yang baik.

Pernah suatu ketika ia mengalami kesialan. Mencari makan di luar rumah ternyata bukan pilihan yang baik. Kucing saya seringkali pulang dengan bulu-bulu yang basah. Haru melihat kucing yang kebasahan saat hari sedang cerah-cerahnya. Saya mengeringkan badannya dan ia terus mengeong yang nggak saya pahami maksudnya. Yang pasti satu hal;

Ada yang membuatnya basah. Disiram(?)

Di rumah, saya pernah memelihara dua kucing. Pertama, kucing yang sekarang lagi tidur ini dan kedua, anak kucing tanggung yang tiba-tiba masuk ke rumah entah dari mana. Yang akhirnya dipelihara nggak lebih dari dua tahun. Kucing kedua meninggal karena sakit yang nggak begitu jelas. Mungkin dalam bahasa kedokteran di dunia kucing disebut “Miaw”.

Selama masa pemeliharaan, kedua kucing itu nggak pernah berteman semenit pun. Masing-masing. Hidup sendiri-sendiri. Saya pernah berpikir, apakah kucing nggak mengalami rasa kesepian seperti yang dialami manusia jika hidup sendirian? Kalau mereka merasa kesepian, gimana cara kucing mengatasi itu? Kalau nggak, kenapa bisa nggak?

Soalnya, kucing perempuan yang saya pelihara dari masih bayi ini sudah kehilangan sanak saudaranya. Kakak-kakaknya sudah mati, induknya pergi tiba-tiba tanpa kabar, tanpa meninggalkan surat. Dan dia adalah kucing perempuan yang gagal punya keturunan. Anak-anaknya lahir dan kemudian mati. Singkat. Jika kucing saya adalah manusia, mungkin kesehatan tubuhnya sudah digerogoti oleh pikiran. Sungguh dramatis sekali kisah ini. Semoga Mas Hanung Bramantyo membaca ini. Halah!

Sebaliknya, ternyata kucing ini bisa mengatasi kesedihannya dengan baik. Dia masih sanggup hidup lama. Sampai sekarang. Umurnya beda lima tahun dengan umur saya. Sekarang umur saya 20 tahun. Namanya, Manis. Dia adalah salah satu manis yang berbulu. Ehgimana.

Jika saya sedang kesepian, dia bisa saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Di situlah salah satu hal menyenangkan dari yang namanya memelihara. Apapun yang dipelihara, yang pasti kita menabung kasih sayang. Yang pada akhirnya, tabungan kasih sayang itu kembali ke kita.

Tapi, saya sadar; jauh di luar itu, memelihara kucing sama saja menyiapkan kehilangan dan kesedihan. Waktu itu pasti datang. Saya sudah dua kali mengalaminya.

Saya pernah baca entah di mana; jika kucing merasa umurnya sudah sangat pendek, ia akan berusaha untuk pergi meninggalkan rumah dan pemiliknya sebelum kematian datang. Maybe.

Nah… Ini Manis bangun. Mau ngapain dia deket-deket sini? Mau nemenin saya nulis? Ah. Nggak mungkin deh. Pasti mau makan.

Jangan naik meja! Awas kopi!

Oke. Terima kasih, Manis. Kopinya tumpah.

Sebenernya yang majikan itu saya atau kucing?

Teman Paling Setia



Dewasa ini, Mbah-mbah nggak seperti anak-anak lagi.

Pembukaan macam apa itu. Maap. Abaikan!

Dalam hidup, ada sebuah titik di mana kita memiliki waktu dan keadaan sendiri. Nggak ada orang lain, temen-temen, kecuali diri sendiri. Itu yang saya alami pagi ini. Orang-orang sibuk dengan kehidupannya masing-masing, temen-temen sibuk dengan urusannya masing-masing, keluarga sedang nggak di rumah. Mau telpon atau chat temen takut ganggu, mau ngelamar perempuan biar rame tapi nggak tahu siapa itu. Kamu bacanya terharu nggak, Mbak?

Maka, nggak ada temen lain yang bisa nemenin saya pagi ini selain minuman hangat. Kali ini, saya pilih kopi. Segelas aja cukup. Ngomongin tentang temen, kopi punya ikatan yang cukup kuat bagi saya.

Seingat saya, entah malam apa rumah saya kedatangan tamu yang nggak lain; tetangga atau temen-temen kakak. Spontan saya bangun karena denger suara gitar yang dimainin salah satu temennya. Suaranya nggak besar memang, tapi telinga saya cukup peka kalo denger yang begituan.

Di satu ruangan, mereka asik ngobrol dengan makanan cemilan dan beberapa gelas kopi di atas meja. Karena nggak bisa tidur, saya ikut nimbrung masuk ke dalam obrolan. Dari obrolan itulah, pertama kali saya menyentuh dan berkenalan dengan kopi secara “serius”.

Kopi memang wataknya pahit. Tapi, di sisi lain dia selalu jadi bagian paling manis, antara lain di sela-sela obrolan akrab; mencecap kopi adalah jeda obrolan paling nikmat. Kopi juga berperan penting di waktu sibuk bekerja; dia bisa bikin melek dan bekerja lebih selo. Atau saat sendiri; kopi bisa mencegah kamu bunuh diri. Hahapaan ini.

Karakter kopi itu tulus. Dia mau nemenin kita dalam keadaan senang atau sebaliknya. Saat diri sendiri sedang baik atau sebaliknya. Saat sedang jaya atau bokek-bokeknya. Kopi emang temen yang nggak pilih-pilih kasta, fisik atau jenis kelamin kita. Semua sama dihadapan kopi. Beh…

Itu salah satu hal yang buat saya suka kopi. Walaupun di sudut lain ada yang pro dan kontra soal kopi, itu bukanlah masalah. Tiap orang memiliki definisi kopi beda-beda. Baik atau buruk. Dan, perbedaan ada bukan untuk didebatkan.

Tapi bagi saya sekarang, SEKARANG; terkadang kopi mampu menjadi temen paling setia lebih dari yang bisa manusia atau temen-temen lain lakukan. Kopi; temen paling setia selain diri sendiri. Kopi; temen yang lebih setia dari kamu.

Selamat ngopi…

Ngopi tugas-tugas kuliah. Eh, bukan ngopi yang itu, Mbak!

Mau Kerja Di manapun dan Kapanpun? Jasa Penulis Artikel atau Content Writer Bisa Jadi Pilihannya


Foto by Unsplash.com

Kalau tidak salah sabtu pagi, saya membuka fb dan mendapati ada satu pesan dari teman lama yang berada di Jogja. Inti pesan itu adalah menawarkan pekerjaan dan membutuhkan saya sebagai pekerja. Yap. Pekerjaannya menulis artikel untuk website yang sedang ia bangun.

Sedikit aneh; kenapa harus saya?

Mengenai dunia tulis menulis, saya akui tulisan saya sama sekali belum berkualitas. Sedikit sekali penghargaan yang sudah saya dapat dari menulis. Memang, tulisan saya sudah banyak dimuat di buku-buku, sih. Tapi, kan baru buku Sidu, Mas. HEHE.

Awalnya saya ragu. Tapi, dia menyakinkan. Bener-bener nih orang.

“Gak apa-apa. Dicoba dulu. Sehari bisa nulis berapa artikel?” kata dan tanyanya.

“Gak lebih dari 2,” balas saya.

“Oke. Gak apa-apa. Berapa saya harus bayar kamu dalam sebulan?”

Nah…bagian ini yang membingungkan sekaligus menjadi pertanyaan paling merdu di dengar kedua telinga.

“20 juta. Sanggup?”

“Wah…terlalu tinggi untuk awal-awal.”

“Yasudah. Sukro serenteng aja, Mas. Sama beng-beng dingin satu. Sambel pisah.”

Sebentar, apa sih yang dikerjakan penulis artikel atau content writer itu?

Bagi yang masih asing dengan jasa penulis artikel, saya jelasakan sedikit, ya. Kalau sudah tahu silakan dilewati saja. Yang dikerjakan penulis artikel itu tentu aja menulis. Menulis artikel dengan konten sesuai pesanan. Contoh konten yang biasa dipesan; copywriting (mengiklankan produk), event, kesenian, travelling, kuliner, sepak bola dan lain-lain.

Tema artikel sudah mereka tentukan. Jadi, tugas kita menulis sesuai artikel yang dipesan (diperhatikan juga gaya tulisan kita). Ada yang minimal 300 kata, 500 kata dan lainnya. Pekerjaannya bisa dari jauh. Cukup mudah kalau kita punya laptop dan koneksi internet. Jadi, bisa dikerjakan di manapun dan kapanpun. Seperti itu.

Berapa gaji jasa penulis artikel atau content writer?

Tiap gaji bervariasi. Tergantung pesanan artikel (300 kata atau 500 kata) dan berapa banyak artikel yang bisa kita kerjakan dalam sehari. Biasanya, kalau dihitung-hitung tiap satu artikel dengan panjang 300 kata diapresiasi dengan harga 5.000 – 10.000 rupiah. Sedang dengan panjang minimal 500 kata 9000 – 20.000. Bahkan ada yang sanggup membayar 50.000 sehari. Hitung saja perbulannya sesuai artikel yang bisa kamu kerjakan sehari. Jasa penulis artikel ini bisa jadi pekerjaan sampingan atau kalau sedang kepepet butuh uang. HEHE.

Tertarik? Di mana bisa menemukan lowongan jasa penulis artikel?

Lowongan penulis artikel memang gampang-gampang susah dicari. Apalagi, kalau kita tidak memiliki network atau relasi ke arah sana. Tetapi, kamu bisa browsing di google (cari tahu di website sribulancer(dot)com) atau jika ada yang berminat silakan tulis di kolom komentar e-mail kamu. Untuk apa? Kalau-kalau ada teman saya yang membutuhkan jasa penulis artikel. HEHE.

Thanks maksimal udah mampir dan baca, mba-mas. Jangan lupa minum air putih, ya.

Setoples Kue dan Biang Kesal



Kekesalan emang selalu datang di waktu yang nggak pernah tepat. Kalo diteliti penyebab adanya kekesalan sebenernya karena hal-hal sepele. Tapi, karena datangnya ketika diri sendiri nggak siap menerima hal yang nggak diinginkan itu, yang diluar dirilah yang dituding salah. Padahal belum tentu.

Ngerti? Belibet bener kata-kata saya. HEHE.

Pernah suatu ketika saya di rumah sendirian dan kelaparan. Beruntung, saya mendapati ada setoples berisi kue-kue gemes yang cukup ngegoda. Kue-kue itu tersusun rapih di dalam toples. Sangking rapihnya sampe sulit diambil. Kue-kue itu padat di dalam toples. Erat dan nggak bisa lepas.

Berbagai macam cara saya kerahkan untuk mengeluarkan salah satu kue yang terjebak di toples ini. Khawatir kalau-kalau kue ini kehabisan napas di dalam. Mulai dari toples dibolak-balik, dipukul-pukul sampai dibanting, tetap aja; gak ada hasil.

Baru kali ini saya menemukan kue berkonspirasi. Watak kue satu ini berbeda dengan watak kue lainnya. Kue ini nggak rela dimakan.

Bukan tipe kue idaman banget!


Lapar saya memunculkan sedikit kesal. Karena kue setitik rusak kebahagian sebelanga. Padahal saya sudah lebih dulu penasaran; apa, ya, rasa kue ini saat perut lapar? Pasti lebih enak. Apalagi sembari digandeng dengan kopi hangat, duduk santai di bawah langit biru yang serasa berjarak selengan, dengan hamparan awan-awan jelas di depan. Seperti berada di puncak Merbabu.

Halah, Mas…ngayal!

Jadi, keputusan yang bisa saya ambil di situasi seperti ini adalah merusak toplesnya. Cuma itu satu-satunya cara. Ya, cuma itu! Ooo… tenang. Toples ini bukan tuperware yang lebih disayang emak daripada anaknya sendiri itu. Toples ini toples biasa, kok. Kayak perasaan kamu ke saya; biasa.

Saat menuju dapur untuk mengambil pisau, terdengar suara tetangga bertamu dari luar.

Entah ada apa di dalam tubuh kue itu, tetangga yang baru bertamu itu pun seketika ingin mencicipi. Bener-bener kue karismatik.

“Bikin sendiri atau beli ini?”

Belum sempat saya jawab, tangannya sudah masuk ke dalam toples. Dan seperti yang saya duga, kue itu gak bisa dikeluarkan. Satu pun. Berbagai macam cara dia kerahkan dan gagal. Lapar saya berubah tawa. Haha. Rasain!

“Belah aja pake pisau, Wak.” kata saya memberi saran.

“Lah. Jangan! Sayang toplesnya.”

Seketika dia berjalan ke dapur. Saya mengikutinya dari belakang, kalau-kalau terjadi apa-apa. Sama kue-nya. HEHE.

Belum lewat 1 menit, kue itu akhirnya menyerah lepas juga di tangan tetangga saya. Tapi, bukan dengan pisau yang saya sarankan melainkan dengan sendok penuh kelembutan.

Kejadian ini membuat saya merasa; mungkin pernah ada manusia yang saya perlakukan seperti kue ngeselin ini. Barangkali malah sudah saya lukai dengan “pisau” karena ego dan kekecewaan semata. Maapkeun, ya.

Nah, jadi inti dari postingan ini apa, mba? Saya ingin membagikan “tutorial melepas kue yang terjebak di dalam toples”. Terima kasih sudah mampir dan baca.

Dunia Maya dan Mas Ery

foto sudah melewati proses edit ribuan kali



 
S
aya enggak pernah bayangin sebelumnya, dari dunia maya segalanya bisa buat kita jadi lebih dekat dan jauh pada saat yang bersamaan. Dekat dengan yang sebelumnya jauh, jauh dengan hal yang sudah lama dekat.

Apapun itu, secara sadar atau enggak. Kadang nguntungin, kadang ngerugiin. Hidup emang berpasangan.
 
Satu tahun yang lalu secara enggak sengaja, saya berkenalan dengan seseorang yang emang aktif di dunia maya. Karena, pekerjaannnya emang di situ. Namanya; Ery. Sebagai anak yang menghormati orang yang lebih tua dan menjaga agar “terkesan” memiliki sopan santun, saya beri tambahan “mas” untuk memanggilnya.

Ery Mas. HEHE.

Ceritanya dimulai dari pertama saya belajar nge-blog yang kemudian teman saya menyarankan untuk berkenalan dengan Mas Ery ini. Ternyata, si Mas satu ini sudah kapalan soal nge-blog, youtube, social media atau apapun yang berhubungan dengan dollar. Dollar, mba-mas! 14 ribu sekarang! Ibu-ibu kompleks aja gak bisa nawar turun.

Awalnya saya ragu, karena baru kenalan aja Mas Ery ini sudah nyambut saya bak tamu besar dari Amerika yang nyasar karena ikut aliran-aliran aneh. Saya tanya sedikit tentang nge-blog, dijawab dengan baik-baik, jelas, dan lebih panjang dari pertanyaannya. Jelas aja, saya jadi suudzon dan mawas diri. Radar negatif sekitar menyala. Jangan-jangan kebaikan Mas Ery ini bentuk penyamaran dari tim pencari orang yang cocok untuk bom bunuh diri. Tapi, sayangnya bukan. Yah, padahal kalo iya, saya mau lho, Mas. Soal nge-bom mah saya sudah kapalan, Mas. Nge-bom like di fb. HEHE.

Dan yang keren dari si Mas Ery ini adalah dia gak minta dan gak mau dikasih bayaran apapun. Baik berupa uang maupun seperangkat alat sholat; mukena, jilbab dan sebagainya. Cocok! Saya juga gak mau ngasih. Eh. Dasar pelit amat saya ini. Huft.

Tapi, ilmu internet marketing yang dia kasih gak kira-kira, gak dibatas-batasi. Ugal-ugalan nih orang. Dia berdarah-darah buat dapetin ilmu itu, tapi ditaburin kayak anak bayi dikasih botol bedak. Cuma satu yang dia mau; saya bisa berhasil.

Baik bener, kan? Gak pake pamrih. Yang sekarang ngaku “Tulus” aja kalo nyanyi “sepasang sepatu” masih minta bayaran. Emaap. Atau saya aja yang bikinin teh buat emak sendiri kadang masih pake cembetut. Tapi, Mas Ery ini sudah bisa dan mau ngeladenin orang yang bukan siapa-siapanya dengan segala kemampuannya. Salut! Teladan.

Dari situlah kami jadi akrab. Jauh kami jadi dekat. Tapi, ada satu hal yang mesti ngelus dada kalo ngadepin Mas Ery yang beruntung bisa sudah menikah ini (kalo ngeliat dari foto yang diupload di fb; seperti Nicta Gyna dan Tukul Arwana). Masalahnya bermula dari Mas Ery yang suka nyinyirin jomlo; saya. Kalo ada waktu dan kesempatan. Sialnya, ada terus. Dia bilang saya gak laku lah, homo lah, bukan lelaki sejati. Gila kan?! Kok dia bisa tahu rahasia itu. Haha. Enggaklah. Saya laku, tapi belum. *kemudian hening lama*

Dan, untuk menghentikan prilaku Mas Ery yang gak menyenangkan itu, yang bisa membuatnya kena pasal dan dipidana seperti mbah-mbah yang nyuri ranting pohon tempo lalu, di kesempatan kali ini saya mau klarifikasi bahwa;

Ingat! Sebagai jomlo, saya ini gonta-ganti pasangan setiap harinya; baik, buruk, bahagia, sedih, keramaian hati, kesepian dan lain-lain. Apapun pasangannya sekarang, saya mesti belajar nerima itu dulu dengan lapang dada sebelum mendapat pasangan yang lain (baca; perempuan). Tapi, kalo ada mba-mba yang mau nemenin saya untuk proses menerima itu; ya… why not? Heleh.

Jadi, cukup jelas, ya, Mas Ery. Saya ini jomlo tapi playboy. Gak sembarang. Jadi, jangan sembarang. Haha.

Nyinyiran Mas Ery itu saya anggap cuma kelakar doang untuk nyiptain canda dan tawa. Biar lebih akrab. Selebihnya, saya mau berterima kasih kepada Mas Ery selama setahun ini yang sudah membantu saya. Semoga aja saya ketularan untuk selalu belajar memberi tanpa pamrih. Karena pamrih apa yang sudah saya kasih untuk-NYA yang bisa membuat saya memberi? Nihil.

Mas Ery dari tadi udah dipuji tuh. Ya… tahu dirilah harus bayar berapa (ternyata saya masih minta pamrih) Haha.

Sekian sharing dari saya, thanks maksimal sudah mau mampir dan baca, ya, mba-mas. Kamu juga boleh dong sharing mengenai dunia maya; apa yang buat kamu dekat dengan hal yang sebelumnya jauh atau buat kamu jauh dengan hal yang sudah lama dekat? Tulis di kolom kometar, ya, mba-mas.

Jangan kayak kemarin-kemarin, nulisnya malah di kolom TTS dan kolom susu. Huft.

Kucing Saya Berumur Ratusan Tahun!!


Kucing Saya Berumur Ratusan Tahun!!

Gimana kabarnya? Bahagia atau sebaliknya?

Sibukanlah diri untuk berbahagia atau berpura-puralah bahagia sampai tidak ada waktu untuk menempatkan kesedihan. Asik.

Kali ini saya mau bahas tentang kucing. Itu foto kucing saya yang sekarang usianya lebih kurang 14th. Namanya Manis, biasa dipanggil guru BP. Eh. Biasa dipanggil Miss. Serius. Saya melihara kucing itu dari kecil waktu umur 5th. Baca dari google, untuk menentukan kesetaraan umur kucing dengan umur manusia, mulai dengan 20 tahun sebagai umur tahun pertama kucing, kemudian tambahkan 4 tahun umur manusia untuk setiap umur tahun kucing. Contoh : Kucing saya berumur 14th berarti umurnya setara dengan 20 tahun (untuk umur 1 tahun) ditambah 3 x 4 tahun, itung berapa umur kucing saya?

Gitu aja lama.

*1 jam kemudian*

Kurang lebih 292th. Wow. Saya juga kaget.

Saya melihara kucing itu dari matanya belum kebuka. Mungkin baru beberapa hari lahir. Waktu itu, sehabis isya, Abang saya tiba-tiba ke rumah bawa karung. Yap, isinya 1 induk kucing dan 3 anak kucing. Dan doi salah satunya.

Wajah emak saya nerima dengan cemberut. Saya malah sebaliknya. Secara, kapan lagi bisa minta baling-baling bambu atau pintu ke mana aja, kan? Pikir saya waktu itu.

Tapi pikiran saya salah. Kejadian demi kejadian terjadi. Ternyata melihara kucing itu gak semudah melihara digimon di tamagoci. Kadang pup sembarangan (pernah di sajadah), muntah sembarangan, gak mau makan dorayaki. Itu kan aneh. Hehe.  Pokoknya ngerepotin. Sampai sebuah keputusan, “Buang aja kucing-kucing ini.” perintah emak saya

Saya sedih. Kucing sedih. Cita-citata sakitnya tuh di sini. *Eh
Karena gak tega, saya nyembunyiin mereka di gudang tak terpakai. Sebentar, gudang tak terpakai bisa dijual di toko bagu* gak, sih? Baru kepikiran.

Setiap hari dengan rajinnya saya diem-diem ngasih makan tuh kucing. Dan betapa kagetnya bukan kepalang. Si ibu kucing hilang. Belakangan saya dapet kabar dari Abang, si ibu kucing itu balik lagi ke rumah abang saya. Keren, ya, bisa tahu jalan pulang.

Lanjut.

Singkat cerita di antara tiga anak kucing itu, beberapa penyakitan kemudian meninggal. Sisa si doi. Dan seperti kata pepatah, “Yang kamu sembunyikan kelak akan ditemukan.” Emak tahu keberadaan kucing itu. Kemudian beliau ngasih kesempatan buat ngurus lagi sampe sekarang.

*terharu*

Segitu aja ceritanya. Kamu yang suka kucing atau peliharaan lainnya, sempat kepikiran gak, sih, kenapa mau-mau aja melihara kucing. Kucing, kan, kerjaannya tidur, makan, tidur, makan, ngelap muka, pup, ngelap muka kamu pake pup. Eh. Hayo kenapa mau coba?

Setelah saya teliti lebih dalam selama beberapa tahun ini, ternyata…

Saya juga gak tahu. Hehe.

Tapi yang jelas, kucing bisa ngasih rasa bahagia. Menurut saya, sih. Cinta dan kasih sayang, kan, sebenernya gak perlu alasan. Asik. Itu aja. Mungkin kalo ada yang mau nambahin atau mau cerita tentang hewan peliharaannya, isi komentar aja di bawah.

Makasih udah ngeluangin waktu buat mampir dan baca ini.

*emot kucing ndusel-ndusel ke kaki*

Banyak Masalah Gak Masalah


Banyak Masalah, Gak Masalah

Tak ada yang berhasil menghindar untuk tidak mencicipi sebuah masalah. Semua orang lagi pernah merasakan itu, hanya yang berbeda cara mereka menyelesaikan dan apa yang terjadi pada diri mereka setelah masalah itu. Selain dari itu, semua masalah tugasnya sama, ingin diselesaikan untuk kemudian menjadi pelajaran yang berharga. Udah keliatan bijak belum?

Di sini saya mau bahas tentang masalah (ya iyalah, judulnya aja itu, masak mau bahas D’academy).  Eh, kalian tahu gimana perjuangan Resti bisa sampai ke babak final d’academy? Atau apa kalian tahu perjuangan Subro smapai terkenal seperti sekarang?

*SalahFokus. Oke, kembali. Bukan karena ilmu saya banyak (lebih banyak dari lagu Iis Dahlia), bukan juga karena saya udah belajar sampai negeri cina, tapi karena saya sedang bermasalah. Saya bingung, bahasnya gimana, ya?

Sebelumnya, jika opini saya terlihat menggurui, saya minta maaf. Saya menulis ini untuk perenungan diri sendiri aja. Syukur-syukur kalo ini bermanfaat bagi Syaiful Jamil kita.
Banyak masalah kok gak masalah, Mas? Kan tambah pusing, tambah bikin stress?

Iya bener. Masalah kadang selalu mengurangi bahagia kita. Tapi sepertinya kita gak pernah sadar, kalo adanya masalah itu gunanya meningkatkan kebaikan.

Kebaikan? Buat stress kok kebaikan, Mas?

Iya. Dalam hidup sebaiknya ada peningkatan dalam kebaikan. Nah, disini masalah berperan penting menawarkan apakah kita bisa meningkatkan kebaikan. Contoh;

Ada seorang ayah yang tugasnya mabuk, berjudi. Pekerjaannya menjual narkoba, tapi tetap bertanggung jawab dan peduli kepada anaknya. Apa buktinya? Si ayah gak mau anaknya menjadi seperti dia. Tapi si ayah pake cara yang salah. Mengajarkan hal baik yang gurunya sendiri berbuat buruk.

Jadi, suatu ketika si ayah akhirnya menemui sebuah titik pekerjaan. Ia mendapat masalah. Polisi berhasil menangkapnya. Tapi selama dia berada dalam sel, dia sadar kemudian berubah memperbaiki diri. Saat bebas, ia telah menjadi Imam yang baik untuk keluarganya.

Ceritanya emang klasik, tapi apa yang bisa dicomot?

Bahwa bukan masalah yang jadi masalah, tapi bagaimana kita menyikapi masalah tersebut itu yang menjadi masalah. Kalo kita menyikapi masalah dengan pikiran sehat, bersyukur, intropeksi diri, berprasangka baik pada Tuhan, bahwa masalah bisa menjadi pendewasaan buat kita, maka bisa jadi peran masalah meningkatkan kebaikan hidup kita berhasil. Tapi sayangnya hukum keterbalikan itu tetap ada. Kalo kita ngelakuin hal sebaliknya, mau gak mau masalah makin buat hidup kita jauh dari perbaikan.

“Orang yang beruntung adl orang yang setelah mendapat masalah, hidupnya lebih baik. Yang sebelumnya -8 berubah menjadi -2, yang tadinya +2 berubah menjadi +4.” Aa Gym

Gimana cara ngadepin masalah?

Pake cara anak kecil. Karena anak kecil itu hidup pada waktu ini. Kalo kita? Kita terlalu musingin masalalu sampe zaman batu tua, nomaden aja masih kita permasalahin. Kita lupa bahwa yang terpenting bukan sekedar menyesali tapi memperbaiki. Kita juga sering cemas memikirkan masa depan. Jodoh saya siapa, saya bisa kaya enggak, kalo saya miskin saya gak bisa beli bumi, dll.

Padahal yang terpenting bukan mencemaskan, ganti pertanyaan “Bisa enggak, ya?” jadi “Bagaimana agar saya bisa?”. Semakin dewasa kita hidup di masa lalu dan masa depan. Padahal yang terpenting, lakukan sebaik mungkin hari ini, agar masa lalu menjadi kenangan indah dan masa depan menjadi mimpi yang nyata.

Sadar atau enggak, semakin dewasa kadang kita semakin cengeng. Jerawat satu di hidung bisa jadi alasan buat kita gak keluar rumah, malu, batalin nonton konser Iwan Fals, walaupun konsernya di tv. Padahal waktu kecil, apa kita permasalahin banyak koreng, kurap, panu di tubuh? Apa waktu kecil kita ngerasa malu, bawa ban bekas kemana-mana?







Hujan yang waktu kecil menyenangkan, sekarang malah mewek karena ingat mantan. Semakin dewasa kita semakin cengeng. Ditinggal gebetan nonton bola aja bisa jadi galau berkepanjangan. Padahal setiap orang punya ketertarikan masing-masing. Apa nonton bola salah?

Itu karena kita berfikir kebahagiaan bisa didapet dari 1 hal aja. Makanya, ketika 1 hal itu hilang, kebahagiaan kita juga ikut menghilang.

Sekali lagi, tulisan ini gak bermaksud menggurui. Ini untuk perenungan diri saya sendiri. Kalo punya cara laen ngadepin masalah, boleh dishare di komentar. Thanks maksimal, udah mau baca!