Showing posts with label Cerpen. Show all posts

Sepasang Suami Istri dan Kucing Kurus



Papan yang berisi pengumuman “rumah ini dikontrakkan” dilepas saat koper Bayu sudah berdiri tegak di dalam rumah.

Jum’at Malam, Pukul 11.45, 13 November 2015

Pintu rumah itu tetap saja diketuk berkali-kali meskipun Bayu sudah menyaut dari ruang santai, tempatnya menonton tv. Ketukan itu berhenti saat pintu sudah dibuka dan sialnya Bayu tidak menemukan siapapun. Kejadian itu berulang lebih dari tiga kali dan Bayu tetap saja punya nyali untuk membuka pintu. Tidak kapok. Terakhir, saat pintu itu diketuk lagi, Bayu yang kesal segera berlari dan membuka pintu dengan cepat, agar yang bersembunyi ketahuan. Jangan bercanda!

Tidak ada siapa-siapa. Bayu kaku.

Tetapi, suara pintu yang diketuk berkali-kali itu belum menghilang. Suara itu masih terdengar amat jelas. Hanya saja pindah ke arah lain; pintu kamarnya. Bayu sudah menyadari degup jantungnya bekerja lebih dari biasanya, kakinya mulai gemetar. Merinding. Nyatanya, ini memang bukan bercandaan teman-teman kampusnya.

Perlahan, ia mendekati arah suara ketukan itu. Ia menarik napas dalam dan menghembuskan dengan berat sekali. Pintu itu masih diketuk berkali-kali dari dalam kamar. Suaranya makin kuat. Tempo ketukannya makin cepat.

Bayu sudah memegang gagang pintu. Tanpa harus lari mengelilingi lapangan, tubuh Bayu sudah dipenuhi keringat sekarang. Bayu menahan napas. Agak sesak. Ia memejamkan mata dan membuka pintu pada saat yang hampir bersamaan. Beberapa detik kemudian, ia membuka kedua matanya perlahan.

Tidak ada siapa-siapa.

Huft. Sekali lagi Bayu menghembuskan napas berat. Amat berat. Sedikit lega. Ia menutup kembali pintu kamar tetapi dari arah berlawanan seperti ada yang menahan. Menarik gagang pintu juga.

Bayu melepaskan pegangannya, membiarkan pintu itu terbuka, entah apakah sudah siap menghadapi dalangnya. Kemudian suara teriakan keras yang ditahan Bayu pecah dalam satu waktu. Wajah makhluk itu berjarak sejengkal dengan wajah Bayu.

***

Jum’at Malam Sabtu, 13 November 2000

Sepasang suami istri yang baru menikah sehari yang lalu berada di dalam kamar. Saling bercerita tentang masa lalu. Banyak tertawa. Sang suami yang lebih dulu membuat jeda dalam obrolan seru mereka.

“Sebentar. Mas mau minum dulu. Cerita bikin haus ternyata.” pamit suaminya. Sang istri mengiyakan dan masih senyum-senyum mengingat kelucuan sebelumnya.

Sehabis minum, sang suami memadamkan lampu dapur kembali dan berniat ke kamar lagi. Tepat setelah lampu dipadamkan, ada hal ganjil yang dilihat selintas oleh sang suami. Penasaran, sang suami menyalakan lampu kembali dan benar, ia melihat kucing sedang makan ikan bakar miliknya. Kesal, sang suami mengambil sapu di dekatnya dan menghajar hewan kurang ajar itu. Tidak kena. Kucing itu berhasil mengelak dan pergi membawa curiannya.

Bukannya mereda, kemarahan sang suami makin menjadi. Ia mengejar kucing yang lari ke belakang rumah, kamar mandi. Kucing itu sepertinya meledek. Ia makan dipinggir sumur. Makin kesal, sang suami mengambil balok kayu yang cukup besar dan langsung menyambar tubuh kucing kurus itu. Kena!

Dipukulnya kucing itu berulang-ulang dan tentu saja si kucing berusaha meloloskan diri. Berhasil! Kucing kurus itu berhasil meloloskan diri dari pukulan balok kayu dengan menceburkan diri ke dalam sumur.

Dari kamar, sang istri bertanya-tanya apa yang terjadi dengan suara mengeong cukup keras dan suara suaminya yang bicara “mati kamu, ya.” berulang-ulang. Meskipun kedua suara itu sayup-sayup. Tidak berapa lama, disusul suara suaminya yang teriak seperti orang ketakutan dan beberapa detik kemudian terdengar bunyi benda—seperti batu besar atau entah apa jatuh ke dalam sumur. Dentuman. Jelas dan besar sekali. Kejadian itu membuat tetangga-tetangga mengetuk pintu rumahnya.

Besoknya, orang-orang mengenakan pakaian hitam. Ada juga dokter yang menjahit kepala jenazah. Wajah jenazah serupa—entah apa dan bagaimana kalimat yang baik untuk mewakili dan menjelaskan. Jadi, tidak perlu ditulis.

Sang istri menangis hingga pingsan. Ibu-ibu tetangga membawa dan mengistirahatkannya di kamar.

Seminggu setelah kejadian itu, sang istri ditemukan gantung diri. Ranjangnya ada darah dan di balik selimut putih itu ada mayat kucing yang kepalanya terpisah. Ya, dua kucing kurus.

***

Kata salah seorang warga sekitar, seringkali ada kejadian aneh di rumah itu; bunyi orang seperti membelah kayu tengah malam, bunyi benda jatuh ke dalam sumur, perempuan mengerikan yang mengintip dari jendela kaca dan kejadian yang dialami Bayu semalam. Tanpa pikir dua kali, Bayu memutuskan untuk pindah kontrakan malam itu juga. Padahal ia belum seminggu berada di rumah tersebut.

Papan yang berisi pengumuman “rumah ini dikontrakkan” dipasang kembali. Beberapa hari kemudian, tiga orang wanita bersiap menempati rumah tersebut.

Apakah salah satunya kamu?






Tulisan ini diikutkan dalam tantangan #NulisBarengAlumni tema #horor Kampus Fiksi.

Celengan Babi



Kenangan serupa saudara jauh yang bertamu tiba-tiba. Asal bisa menerima, segalanya akan baik-baik saja, termasuk soal luka.

Celengan babi. Benda itu sudah dihadapan kami. Aku menimang seperti bayi. Kami belum memiliki bayi. Hujan di luar masih deras, aku memadamkan lampu kamar dan membiarkan nyala lilin menerangi ruangan ini agar suasana makin mendukung untuk mengenang, untuk berjalan jauh ke belakang.

*

Kian. Dia yang memberikan benda ini tepat di hari ulang tahunku yang ke enam belas tahun. Kado macam apa untuk lelaki seumuran itu? Harusnya dia memberikan jam tangan ori yang dibungkus rapih dan di dalamnya diselipkan beberapa puisi. Kalau dia tidak bisa membuat atau menulis puisi, dia bisa mengutip puisi Pablo Neruda dan lain-lain, asal jangan Tere Liye. Maksudku, kata-kata Tere Liye sudah sering dibagikan orang banyak. Jadi, pasti ketahuan.

Aku menerima kado yang tidak dibungkus itu dengan terpaksa dan senyum kecut.

“Mulai hari ini,” katanya, “sisihkan uangmu untuk pernikahan kita kelak. Kita mesti mempersiapkannya dari sekarang.”

Aku tertawa. Dia tidak.

“Aku serius,” katanya.

“Kenapa harus celengan? Kita bisa bikin ATM.”

“Nggak. Kalau ATM, masih bisa kita ambil. Kapanpun. Kalau celengan, harus dipecahkan. Tapi, ini celengan limited. Orang lain nggak ada yang punya. Jadi, kamu nggak bisa ngakalin dengan beli celengan baru lagi.”

Aku diam. Ada jeda sebentar. Mengeluarkan dompet di saku celana belakang dan memasukkan selembar uang seratus ribu.

“Kamu marah?” Dia tertawa menggoda.

“Biar lebih cepat,” kataku sekaligus menyindir, “sekarang giliranmu, calonku,” Aku menyodorkan celengan itu. Seramah dan semanis mungkin.

“Nggak-nggak!” Dia tertawa, tambah bahagia. Aku semakin kecut, “tenang. Aku juga punya celengan seperti itu.”

Heh. Kami saling senyum.

Sekolah sudah sepi sejak tadi. Baju kami sudah penuh coretan tanda tangan dan pilok warna-warni. Sore kami rasa Minggu pagi. Langit masih saja terang dan aku tidak ingin gelap datang. Pada Bumi atau pada hati kami.

“Lusa aku jadi berangkat,” Langit tiba-tiba gelap. Sedikit kebahagiaan dicuri dalam diriku.

“Pulang, yuk!” ajakku.

“Kita mampir makan dulu.”

“Uangmu tadi sudah lebih dulu dimakan celengan babi.”

Dia melongo. Aku lari. Tertawa.

Celengan babi. Benda itu benar-benar menjadikanku disiplin dan pecundang pada saat yang bersamaan. Lusa yang dikatakan Kian adalah hari kepergiannya ke Jogjakarta sekaligus hari terakhir ia tinggal di Lampung. Tambahan; seminggu sejak kepergiannya, ia tak ada kabar. Mengabari, tidak sama sekali. Tetapi, kisah mana yang selalu tetap? Dengan bodohnya, aku masih menabung. Babi itu makin gemuk. Aku sebaliknya.

Aku ingin menjadi serigala yang setia hanya pada satu kekasih. Sekali, seperti hidup manusia di dunia. Tetapi, kisah mana yang selalu tetap? Aku bertemu Pratiwi. Kesetiaanku kacau tapi hidup mulai membaik. Seperti kisah pada umumnya, pertemuan selalu sederhana, perpisahanlah yang membuatnya begitu rumit.

Aku bertemu Pratiwi di tempat perpisahan; pemakaman. Agak lucu memang, manusia tidak lahir dan mati sendirian. Di belahan bumi lain, pasti ada yang lahir seperti hari kelahiranmu. Begitu juga dengan kematian.

Aku menghadiri pemakaman yang salah karena terlambat. Kukira itu adalah pemakaman Abah Gede—kakek temanku yang sudah kuanggap sebagai kakek, ternyata itu adalah pemakaman teman Pratiwi. Jaraknya memang agak berdekatan dan sama-sama dipenuhi para pelayat.

Aku dan Pratiwi, percaya atau tidak; sama-sama salah menghadiri pemakaman. Aku baru menyadari saat Pratiwi ditelepon temannya bahwa ia salah tempat. Temannya yang menelepon tepat di sampingku.

“Salah makam, ya?” kata pertama yang aku ucapkan saat berpapasan dengannya. Dia tersenyum. Mungkin malu. “Kamu nggak sendiri.” lanjutku.

Dari kejauhan aku meliriknya, ia bercakap-cakap dengan temannya itu. Banyak tersenyum. Aku tahu mereka membicarakanku. Itu  gosip yang paling membahagiakan.

Setelahnya kami berkenalan lebih jauh dan dalam lagi. Aku dan Pratiwi tidak pernah mengucapkan saling cinta. Tidak dengan kata-kata tetapi prilaku. Aku tidak pernah bermasalah dengan itu. Yang terpenting, perasaanku tidak jatuh sendirian.

Aku ingin memberi tahu hal; ini bukan masalah seseorang yang bingung memilih masa lalu atau masa kini. Tetapi tentang hal yang sederhana; celengan babi.

Suatu sore, tiba-tiba saja Kian menemuiku di kontrakan. Aku sudah wisuda dan bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan makanan ringan. Dia tahu alamatku dari teman lama. Datang dengan penuh penyesalan dan minta maaf—ada menangisnya juga.

“Aku—“ Masih ragu. Aku ingin bilang bahwa aku sudah punya pacar. Tetapi, dia lebih dulu mengeluarkan sesuatu dari tas. Ya, celengan babi.

“Tabungan ini kukira sudah cukup. Bisa kita pecahkan sekarang?”

Dia mulai menghitung mundur bahkan sebelum aku menjawab iya atau tidak. Dan setelah hitungan ke satu, ia menjatuhkan celengan itu di lantai. Pecah! Babi itu mengeluarkan banyak uang. Dia tidak menatap celengan yang pecah itu. Matanya berair, ia menggeleng-geleng seakan kecewa.

Aku masih menggenggam erat celengan itu. Beberapa detik kemudian dia pergi. Sebelum pergi dia mengatakan; sebelum menemui kamu, aku sudah menemui Pratiwi.

Pelan-pelan, aku memunguti uang yang berserakan itu dan segera menelepon Pratiwi.

“Saya sudah tahu semuanya. Termasuk tentang Kian,” katanya, “Kamu jangan ke kontrakan saya. Karena itu sia-sia. Saya sudah menulis alamat tempat saya tinggal sekarang di kertas kecil. Kertasnya saya masukkan di celengan jelekmu itu.”

Tut. Dia mematikan teleponnya. Aku belum berkata sepatah kata pun.

Besoknya aku berjalan-jalan di pasar dan tidak sengaja melihat celengan babi—sama seperti punyaku, dijual di salah satu toko. Uang Kian, segera aku kembalikan.

*

Hujan di luar masih deras. Lilin membakar dirinya sendiri dan sebentar lagi nyalanya akan padam. Celengan babi itu masih utuh, entah berapa jumlah uang di dalamnya. Aku menyalakan lampu kembali. Banyak nyamuk. Diana—istriku yang sedari tadi mendengar penuh perhatian, tersenyum.

“Masa lalu yang indah,” katanya, “kadang hal-hal sederhana memiliki kenangan yang rumit juga hebat, ya. Tapi, kenapa kamu nggak pilih salah satu dari mereka?” tanyanya.

“Sederhana; karena mereka bukan kamu,” Aku tersenyum menggenggam tangannya, “sekarang giliranmu, amplop yang kamu pegang itu, bagaimana kenangannya?”

Dia menarik napas panjang.

“Dulu…” Diana berdehem, “dulu, aku lesbi.”

Aku kehilangan kata-kata. Gempa bumi di dalam diri.

“Aku bercanda, lho,” Diana menyerahkan amplop itu kepadaku, “aku hamil, Mas.”

Bagaimana Mempekerjakan Keikhlasan?

foto by unsplash

“Ikhlas itu apa?” tanyanya.

Saya heran dengan manusia-manusia yang mengamalkan ikhlas hanya jika—setelah sebuah kepergian atau kehilangan. Sudah, ikhlaskan saja kepergiaannya. Ambil saja hikmahnya. Kalimat-kalimat seperti dan semacam itu seringkali kamu dengar di sebuah pemakaman atau setelah kehilangan seseorang atau sesuatu hal yang penting dalam hidup. Lucunya, yang menyuruh ikhlas bukanlah orang yang bisa ikhlas.

Kenapa harus menunggu sebuah kepergian atau kehilangan dulu, baru “ikhlas” itu dipekerjakan?

Dan bodohnya—saya berani berkata dengan amat jujur; saya tidak bisa menyediakan ruang kerja ikhlas di dalam kepala atau hati saya. Sebab, saya tidak pernah siap mengikhlaskan kehilangan yang baru saja terjadi atau menyiapkan keikhlasan untuk segala hal yang akan terjadi.

Termasuk pada hari itu. Hari yang seharusnya saya tidak memilih pergi konsultasi ke rumah sakit. Hari penuh kejutan; tanggal merah pada hari Senin.

“Saya turut berduka,” Dokter itu memulai pembicaraan dengan bahasa yang tidak enak betul untuk didengar. Dan diakhiri dengan nasehat yang malah cocok digunakan untuk keadaan politik Negara ini. “Sabar dan ikhlas.”

Saya mandul. Bukan istri saya. Sialan! Jika saja sebaliknya, saya bisa memiliki istri lagi. Tapi, saya yang mandul. Lucu? Saya menulisnya dengan amat menyedihkan, andai kamu tahu.

“Kamu bisa menikah lagi, Beb…” kata saya.

“Hah?”

Saya pergi. Dia tidak menahan sama sekali.

***

“Ikhlas itu apa, Om?” tanyanya lagi. Membuyarkan ingatan saya tentang luka.

“Nama toko manisan.” jawab saya. Yang bertanya malah melongo. Saya menunjuk ke seberang. Tepat pada plang toko. Anak kecil itu tertawa—jika saya boleh asal menebak, umurnya lima tahun. Saya diam saja. Hujan makin deras. Kami bakal berteduh lama di sini. Di depan toko yang sudah tutup.

Seseorang nenek mendekat ke kami—saya tidak memperhatikan ia datang dari mana. Mungkin dari toko yang berada di ujung kiri dan tidak mungkin menyembul tiba-tiba dari aspal.

“Mungkin,” kata anak kecil itu. Kepala saya dipadati masalah, “mungkin ikhlas itu nama pemilik toko. Pak Ikhlas. Hehe.”

Gadis mungil tersenyum. Saya masih diam saja. Ohya? Bodok amatlah, Dek! Abang lagi pusing. Seperti itu kira-kira.

“Hoi!” Saya bener-bener kaget. Sumpah! Dasar nenek funky! Dandanannya dengan jeans robek di lutut, jaket hitam dan topi. Gila.

“Masih muda sudah banyak melamun. Sekarang jam berapa, Ganteng?” tanya nenek funky.

Saya melotot. Nenek tersenyum.

“Jam setengah empat, Nek.” Ramah saya menjawab. Lebih tepatnya, luka saya amat sakit.

Toko-toko di sini memang sudah pada tutup jam setengah tiga. Kenapa? Memang sudah dari dulu.

“Ganteng-ganteng tapi budek. Jam berapa sekarang?!” suaranya cempreng serupa suara mainan kapal air yang sering dijual di pasar malam lapangan dekat rumah.

“Jam enam sore, Nek!” Saya teriak sekeras yang saya bisa. Gadis mungil tertawa. Nenek menepuk-nepuk bahu saya. Pertanyaannya diulang; jam berapa? Saya menahan emosi dan menjawabnya dengan isyarat. Sekarang hujan makin deras campur gledek. Mungkin langit ikut emosi.

Gadis mungil dan nenek funky tertawa. Duka saya bertambah.

“Siapa nama kamu anak manis? Kenapa sendirian di sini?” Kali ini nenek bertanya pada gadis mungil.

Saya bakal mulai tersenyum.

***

“Hah?”

Saya pergi. Dia tidak menahan sama sekali. Tepat selangkah keluar dari rumah, Kumala—istri saya melayangkan luka dan duka secara bersamaan.

“Lebih baik kita cerai, Mas.”

Sejak kapan perceraian itu baik, Kumala? Saya menoleh dan tersenyum kecut. Kemudian dia melayangkan high heels-nya. Sabar dan ikhlas, Kumala. Persetan!

***

“Kumala.” jawabnya tepat di telinga nenek. Seperti berbisik tapi suaranya besar. Persetan! Saya melonjak kaget.

“Kumala?” Saya memastikan.

“Namanya Kumala. Ganteng-ganteng kok budek, sih!”

Gadis mungil dan nenek funky tertawa bersamaan. Saya menarik napas dalam. Mereka melanjutkan obrolan. Saya tidak mau mendengarkan lagi. Di sebelah toko—berjarak dua toko dari tempat kami berteduh, tiba-tiba saja dibuka. Tumben sekali. Seseorang bapak tua keluar dengan tergesa-gesa.

Kemudian… ya. Bergabung bersama kami. Hujan belum reda, obrolan masih berjalan. Begitu juga dengan luka di dada kiri saya.

“Kurang ajar sekali ayahmu itu, anak manis.” Nenek mengelus rambut gadis mungil, “sabar dan ikhlaskan saja, ya. Nanti kamu ikut Om ini.”

“Ikhlas itu apa, Nek? Tadi Ayah juga menyuruh aku ikhlas.”

Awalnya saya biasa saja. Tapi setelah tahu apa yang terjadi kepada gadis mungil, saya jadi kelabakan. Jujur, saya tidak peduli mengenai gadis mungil. Saya lebih peduli terhadap luka dalam diri saya. Sedang yang ada di luar diri adalah debu, adalah semu. Tidak saya pedulikan.

Termasuk bertanya kenapa gadis mungil sendirian di sini? Kenapa nenek funky memilih berpenampilan seperti belalang? Kenapa engko-engko (saya suka sekali memanggil bapak-bapak cina yang sering menjaga toko dengan panggilan itu) tiba-tiba pergi dengan tergesa-gesa?

Tapi, saya jadi tertarik mendengar cerita-cerita mereka.

Ayah gadis mungil menyuruhnya untuk menunggu di depan toko ini. Rumahnya di Jakarta. Tapi, ini di Lampung. Semua orang dewasa tahu bagaimana nasib gadis mungil ini selanjutnya.

Nenek funky semasa mudanya sudah tumbuh di jalanan. Tetapi, sekarang ia memiliki rumah dan suami yang mencintainya. Katanya. Tapi kenapa dia di sini? Tentu saja saya tidak bertanya kepadanya. Luka dan duka membuat saya tidak ingin berteriak. Kecuali dalam hati.

Engko-engko. Saya tertawa mendengar ceritanya. Ya, saya sendiri. Ia diusir istrinya karena hal sepele; menyembunyikan remot tv. Padahal, toko mereka adalah toko elektronik. Yang pasti menjual remot tv untuk semua merk tv. Ya, kan?

“Kamu kenapa di sini?”

“Kalo Om, kenapa di sini?”

Pertanyaan mereka bersamaan. Yang berbeda, satu suara lembut, satu ala cina dan satu lagi suara belalang. Entah kenapa saya suka menyebutnya belalang. Saya diam agak lama. Menimbang untuk diceritakan atau tidak. Pilihannya yang pertama.

Hujan sudah mulai reda. Matahari pulang kerja. Tapi, luka masih saja deras terasa dalam dada.

Selesai cerita semua terdiam. Nenek mengelus punggungku. Saya heran kenapa nenek suka mengelus? Hujan sudah reda. Saya pamit pulang dengan semua.

“Lo olang kalo pulang semua, gimana dengan gadis cantik ini? Dan saya?” Pertanyaan engko-engko itu lebih seperti mencegah saya.

“Kamu bawa pulang saja anak manis ini. Angkat sebagai anak,” Nenek memberi saran.

Saya tambah pusing. Perceraian seperti di depan mata.

“Oke. Kumala, kamu ikut Om pulang saja, ya.”

“Nggak, Om. Ayah menyuruhku menunggu di sini. Aku akan menunggu ayah menjemputku.”

“Kalian dengar?” Saya ingin mereka berdua menyaksikan, “dia nggak mau ikut saya. Biarin aja dia nunggu selamanya seperti Hachiko.”

Mereka berdua mengomel seperti menggongong. Saya akhirnya membawa Kumala pulang. Tetapi, hal di luar dugaan muncul. Nenek pikun, lupa jalan pulang. Engko memohon menumpang semalam, karena istrinya ngambek tidak lebih dari sehari.

Situasi makin rumit saja. Luka dalam hati saya sulit menemukan jalan keluar.

Saya menggendong gadis mungil yang tertidur di balik punggung saya. Rasanya bulan berada di atas kepala saya. Indah. Nenek bernyanyi, engko menyuruh nenek berhenti. Saya tertawa. Lupa pada luka, lupa pada duka. Selamanya atau sementara?

***

Kumala—istri saya tentu saja nyaris jantungan ketika membuka pintu dan melihat saya seperti membawa keluarga baru. Dia diam saja dengan mulut sedikit terbuka. Kemudian menutup pintu dengan cara dibanting. Brak!

Saya duduk di teras dan menidurkan gadis mungil di kursi panjang. Nenek dan engko sibuk mengetuk pintu dan membujuk Kumala sampai pada akhirnya kembali dibuka. Tetapi saya tidak boleh masuk. Tidak apa-apa. Kata saya. Jangan lupa beri makan gadis mungil itu. Dia lapar.

Dua jam setelah itu, Kumala—istri saya membuka pintu dan mendekati saya. Yang lain sudah pada tidur. Selama dua jam sebelumnya, entah apa yang dibicarakan.

“Kamu mau angkat mereka semua jadi keluarga baru?”

“Nggak.” Saya tersenyum, “cukup Engko aja.”

“Hah? Maksud kamu?”

“Bercanda. Gadis mungil aja.”

Kumala tersenyum. Senyum bulan pindah di wajahnya. Gemas sekali melihatnya.

“Maaf,” ucap saya. Dia sudah paham mengenai apa yang saya maksud. Ikhlaskan saja. Katanya. Kumala menggenggam tangan saya erat. Kami saling berhadapan. Kumala mencium bibir saya.

“Masuk yuk! Aku buatin mie rebus campur telor.”

Saya tidak tahu bagaimana cara kerja atau mempekerjakan keikhlasan. Saya hanya mencoba menerima apa yang telah terjadi dalam hidup saya. Lalu meminta maaf dan memaafkan, termasuk kepada diri sendiri.

Saya menyusul Kumala dan memeluknya dari belakang.

Saya ingin menyediakan ruangan khusus dan nyaman agar keikhlasan bisa bekerja dengan baik? Tapi, bagaimana mempekerjakan keikhlasan?


Paedofil “Bermoral”



“Rey, apakah kamu menyukai anak-anak lebih dari seharusnya?”

Aku menyesal telah bertanya seperti itu kepadanya. Di kamar yang berantakan; baju-baju kotor berserakan, bekas botol bir dan tumpahannya yang sudah mengering, lengket di lantai, bau apak dan alkohol tercampur jadi satu. Benar-benar komposisi menjijikan!

Jujur, aku agak gemetar. Merinding. Kami duduk bersilang di atas ranjang.

Dia menggeleng.

Hening. Ia menatapku dan aku jadi gelagapan. Menatap ke arah lain; jendela kaca, baju yang berserakan, botol bir dan… sebuah kado bermotif Superman di kolong kursi. Aku jadi ingat perayaan ulang tahun keponakanku.

Saat nyanyian selamat ulang tahun menggema dalam ruangan yang cukup besar. Kebahagiaan menyala dengan amat terang; Rey malah pergi seperti lilin kue ulang tahun yang ditiup padam. Sahabatku itu lenyap tak menyisakan bayangan. Selama tiga tahun lebih.

Tapi, kini aku melihatnya lagi dengan amat kacau; mata sembab, rambut berantakan, bau tak enak.

Aku menemukan Rey dari cerita ibu penjaga warung yang merasa aneh dengan seseorang yang tinggal di dekat rumahnya selama ini.

“Dia jarang keluar rumah, Mas. Keluar rumah palingan cuma beli makanan aja.”

“Lalu?” tanyaku.

“Udah seminggu ini ibu nggak liat dia—“ jeda. Mungkin ia berpikir sejenak. “Pokoknya orang itu aneh, Mas. Kalo ketemu anak-anak dia cepet-cepet ngehindar—“

Belum habis ceritanya, tapi aku sudah tahu siapa itu. Aku berlari menuju rumah itu dan mendobrak pintunya. Brak! Mencari sekeliling ruangan; tak ada. Lalu mendobrak pintu kamar dan menemukan Rey sedang bersiap gantung diri. Aku berlari, mendorong dan menghajarnya sampai ia jatuh tersungkur.

Setelah adegan itu kami saling diam selama kurang lebih dua jam. Lalu aku bertanya dan menyesal telah bertanya seperti itu.

“Menurutmu; apa aku kelihatan berbeda?” Rey balik bertanya. Mengagetkanku.

“Apa?” Aku pura-pura tak mendengar. Memikirkan kenapa ia bertanya seperti itu.

“Ya, aku suka anak-anak,” Dia mengangguk-angguk. Air mata membelah pipinya, “lebih dari yang seharusnya.”

Kali ini ia tertawa. Tawa seperti mentertawakan kesedihan dalam dirinya sendiri. Tawa tanpa suara. Sebatas ekpresi saja.

“Dari mana kamu tahu aku berbeda? Apa perbedaan itu terlihat terang, Sen?” Ia mengulang tawa itu lagi. “Ah, ya. Kamu pecinta Sherlock Holmes. Kamu Sherlock Holmes.”

“Maaf. Bukan—“

“Seno memang penyidik hebat!”

Aku tak pernah membayangkan hal ini. Pertanyaan awal itu menciptakan ngeri dalam dada sendiri. Bayangkan saja, hanya ada dua orang di kamar ini. Satu, adalah penyidik yang tak pintar benar berkelahi. Satunya lagi, orang yang memiliki penyakit cukup menakutkan. Dan dua jam yang lalu, ia mencoba bunuh diri. Dalam keadaan kacau begini salah satu atau keduanya bisa saja mati. Ada yang membunuh atau terbunuh.

“Kamu boleh membawaku ke kantor polisi, Sen. Tapi, sebelum itu, tolong dengarkan ceritaku.”

Aku mendongak ke arahnya.

***

Apakah kamu pernah melihat anak jalanan sambil memegang gitar kecil, bernyanyi dengan suara pas-pasan saat lampu sedang merah? Bukannya menghibur malah terdengar memusingkan kepalamu yang sudah penuh dengan masalah. Karenanya, ada seseorang yang dengan cepat menutup kaca mobil, memaki entah itu dalam hati dan yang lainnya mengisyaratkan dengan tangan “Pergi! Daripada gua hajar, palak lo benjol!”

Tolong, maafkanlah mereka.

Anak-anak jalanan dengan baju lusuh dan bau busuk menyengat. Karenanya, seseorang menutup hidung mungkin itu kamu dan pastinya bukan aku. Karena aku pernah menjadi anak jalanan itu.

Kami terlahir entah karena mewarisi karma atau entah ada dosa dalam diri yang membuat kami menjadi anak jalanan yang malang. Harus bekerja mencari uang untuk disetor kepada kepala pemimpin di bawah jembatan atau tempat-tempat tersembunyi yang tak pernah kamu tahu.

Anak-anak jalanan itu lahir karena orang tua yang tak bertanggung jawab atau kehidupan ekonomi atau apapun alasannya yang semua itu bukanlah benar. Karena yang benar selalu samar dan yang salah selalu bisa menyamar jadi benar.

Aku; anak yang dijual kepada kepala pemimpin untuk menjadi anak jalanan. Bolehkah aku membuat pernyataan bahwa tak semua orang tua berhak punya anak? Tetapi, Tuhan yang tak pernah kusangkal keberadaannya menciptakan hal semacam itu. Dan, aku terlalu dangkal untuk melihat makna kenapa semua ini terjadi kepadaku.

Aku dilecehkan. Disodomi oleh kepala pemimpin. Tak cuma sekali dan tak cuma oleh satu orang. Setelah dewasa aku berhasil keluar dari pekerjaan itu. Tetapi, menjadi sakit; ketertarikan seksual hanya pada anak-anak.

***

“Sen,” ia menggenggam tanganku. Sumpah! Aku benar-benar takut dan gemetar sekarang. Tak bisa kusembunyikan. “Aku memiliki ketertarikan hanya pada anak-anak! Selama dua puluh tahun aku menahan keinginan seksualku ini. Rasanya sakit! Aku berani sumpah belum ada korban. Karena aku tahu, betapa lebih menyakitkan hal itu. Jadi, tolong sembuhkan aku, Sen…”

Rey menggenggam tanganku lebih erat. Air matanya sudah jatuh, bukan hanya membasahi pipinya. Tapi hatiku. Sesak mendengarnya.

Aku menggeleng. Tak bisa melakukan apapun. Dan tak mengerti tentang ini.

“Apakah aku harus dikebiri, Sen? Nggak ada cara lain?” Ia mengguncangkan bahuku. Lagi-lagi aku beku.

“Kamu tidak akan ke kantor polisi atau dikebiri, Rey,” kataku mencoba meredakan apa-apa yang terasa tak enak. “Saya akan pikirkan caranya. Kamu pasti sembuh. Tapi, bukan bunuh diri. Ngerti? Kamu bisa sabar, kan?”

Rey berterima kasih dan mengiyakan. Kemudian kami membereskan kamar dan memar di pipinya.

***

Aku selalu menyempatkan diri mengunjunginya setiap hari. Satu bulan. Tiga bulan. Masalah Rey belum juga terpecahkan. Kondisinya buruk. Badannya kurus.

Tapi, di bulan ke-empat ia terlihat lebih bahagia daripada sebelumnya.

“Sen,” katanya suatu ketika, “ Tuhan sudah menanam penyakit ini. Itu artinya, penyakit ini adalah bagian dari diriku. Yang mesti kulakukan hanyalah menerima. Terima tapi tidak hanyut. Mungkin penyakit ini ada karena dosa yang pernah kulakukan dan nggak kusadari. Aku menerima diriku. Aku memaafkan aku. Kamu nggak perlu repot ke sini lagi.”

Hari Jum’at pagi, aku menemukan slogan iklan dalam bahasa Jerman dari Dunkelfeld Prevention Project yang bunyinya;

    "Apakah Anda menyukai anak-anak lebih dari seharusnya? Kini ada pertolongan."

Cepat-cepat aku mengunjunginya. Ini berita penting! Menurut ahli perawatan radikal untuk paedofil, Rey adalah kategori paedofil selibat atau “bermoral”; sebatas ketertarikan seksual bukan tindak kekerasannya. Banyak testimoni yang menyatakan paedofil bisa disembuhkan dengan terapi dan kemauan kuat.

"Ini serius?" Rey tak percaya.

"Tentu. Jadi, kapan kita berangkat?"

"Kita?"

"Selama ini, aku juga menghindari anak-anak. Bedanya, aku lebih pintar menyembunyikan."

Rey melongo. Beberapa saat kemudian ia menepuk bahuku.


Menulis Hujan



Kenangan itu serupa langit yang menurunkan hujan; tak bisa dicegah, tak bisa dihentikan. Dinikmati saja sampai ia reda dengan sendirinya.

Aku tidak menulis kisah orang lain. Aku menulis kisah Hujan; pemuda yang menjalani proses rumit dalam hidup.

1.

Di usia TK, ayah Hujan pergi meninggalkan ia dan ibunya untuk menikah lagi. Sehari setelah kepergian ayah dari rumah; ibunya gantung diri. Jadilah, kakek dari ibunya yang mengurusi.

“Kenapa saya diberi nama Hujan? Nama yang aneh.”

“Mulutmu itu!” kakek menjawil bibir mungilnya. “Hujan itu rezki Tuhan yang suci. Mutlak.”

“Tapi, Mbah Laseh bilang; hujan bisa bikin sakit.”

“Tidak semua. Yang bikin sakit itu hujan panas. Hujan waktu langit sedang cerah-cerahnya. Hujan panas itu pertanda ada yang meninggal. Kamu bukan hujan jenis itu. Kamu hujan setelah kemarau bertahun-tahun. Berkah.”

Hujan ingat betul percakapan waktu itu. Esok siangnya, air hujan jatuh saat langit sedang cerah-cerahnya. Tepat setelah kuburan kakek ditaburi bunga. Langit ikut sedih atas kematian kakek. Maka, Hujan harus rela diasuh oleh Made, teman ibunya di Bali. Dari sana, ia dewasa dengan melukis.

Tapi, semakin berjalan usia, ia merasa ada yang tak beres dalam hidupnya. Ia selalu mengenang masa lalu dan banyak memikirkan hal yang belum terjadi. Dalam dirinya, tak pernah ada yang namanya kini. Seperti pada pagi ini, ia sembunyi di antara dua batu karang besar di bibir laut dengan satu buku novel setebal 4.215 lembar di genggaman. Terbaca In Search of Lost Time, Marcel Proust. Dua tahun yang lalu, Rena—pacarnya yang memberikan novel itu.

“Maaf,” kata Hujan menolak sopan, “kamu tahu saya nggak suka baca yang terlalu panjang. Daripada buku ini jadi debu atau dimakan rayap. Sia-sia.”

“Cuma 4.215 lembar, kok.”

“Hah?” Ribuan lembar dibilang cuma. Untung saja Rena kekasihnya. Hujan mengusap dahi yang sudah berkeringat dari tadi. Ombak laut mengisi jeda percakapan mereka.

“Kamu harus hargai penulisnya, dong!” Rena kembali menyodorkan buku itu. Hujan tak langsung menerimanya. Ia menatap Rena dalam, hampir tenggelam.

“Setelah menikah, kamu beneran langsung cerai, kan?”

“Terima dulu bukunya. Satu hari baca satu lembar.”

Terpaksa, Hujan menerima.

“Ya, kan, Ren?” Hujan mengulang lagi.

2.

Perbedaan selalu dipermasalahkan dan didebatkan. Tak ada habis-habisnya. Malah, dari sana timbul hati yang terluka. Di ruang tamu berdekorasi klasik, kursi ukiran lama yang mengkilap dan bau kayu cendana tanda rumah sudah tua, perbedaan itu ditampakkan.

“Saya serius menjalin hubungan sama anak Bapak. Dan saya siap menikahinya.” ikrar Hujan di depan keluarganya (pada saat itu ada kedua orang tua, dua kakak perempuan beserta suaminya dan satu orang tak Hujan kenal)

“Bapak hargai maksud kamu. Tapi...” Tak pernah ada yang suka mendengar kata tetapi setelah sebuah penghargaan. “Tidak bisa. Kamu belum punya pekerjaan.”

“Saya bekerja sebagai pelukis.”

“Berpenghasilan tetap?”

Semua orang ingin tetap. Tak ada perubahan-perubahan yang tak diinginkan. Tetapi, apa yang tetap? Semuanya bergerak dari detik ke detik. Hujan sangat tersinggung. Ingin dia utarakan pendapatnya itu tapi tak ada kesempatan. Bapak Rena lebih banyak menuding.

“Tidak, kan?” vonis bapaknya. Lebih kepada merendahkan.

Hujan mengangguk positif.

“Tidak cuma itu. Lukisanmu juga belum memiliki pelanggan setia. Ya, kan?”

 Lagi, Hujan mengiyakan.

"Ini Bayu," Ditampilkan orang yang tak dikenal Hujan di percakapan itu. "Dia pengusaha batu bara. Muda, mapan dan sukses."

Hati Hujan pilu. Ia sudah cukup tahu bahwa ini penolakan kasar.

"Kalau boleh tahu; apa cita-cita Bapak sewaktu kecil?" tanya Hujan ramah. Bapaknya tertawa.

"Pilot. Kenapa?"

"Tidak terwujud, kan?"

Pernyataan itu menghadirkan keheningan paling sunyi. Hujan beranjak dari kursi dan lantas pergi. Ketika Hujan keluar dari rumah Rena, terbesit harapan agar langit yang sedang cerah-cerahnya itu menurunkan hujan. Pertanda untuk Bapak Rena. Tapi, sayangnya itu tak terjadi.

3.

Di antara dua batu karang itu, Hujan mengenang Rena lagi. Selalu. Pagi ini, ia sudah membaca sampai halaman 4.215, yang itu artinya; hari ini ia mengkhatamkan novel terpanjang yang pernah ia baca. Meskipun banyak kata dan kalimat yang tak ia mengerti.

Hujan berjalan mendekati air laut. Suara keras debur ombak yang menghantam batu-batu karang tak juga bisa meredam kenangan yang berputar di kepalanya itu. Lagi, seperti hujan, kenangan itu jatuh tanpa bisa dicegah.

“Setelah menikah, kamu beneran langsung cerai, kan?”

“Terima dulu bukunya. Satu hari baca satu lembar.”

Terpaksa, Hujan menerima.

“Ya, kan, Ren?” Hujan mengulang lagi. Rena berjalan menjauhi Hujan. Sesekali ia menendang air laut entah untuk apa. Hujan mengejar. Mendapati tangan Rena.

“Jawab, Ren.”

“Aku tidak tahu.”

“Apa harus saya yang kasih tahu cara agar bercerai? Atau yang mengurusi perceraian? Apa susahnya, sih, buat kesan calon suamimu itu bersalah agar hubungan kalian berantakkan?”

“Aku pasrah, Sayang. Jalani apa yang ada sekarang. Jadi lakon.”

“Lalu untuk apa kamu ke Bali, ke sini, nemui saya?”

“Perpisahan.”

Perlahan, Rena melepaskan diri dari genggaman tangan Hujan. Sebaliknya, ego Hujan untuk memiliki Rena, masih kuat, tak mudah dan tak mau lepas.

“Kita mesti sama-sama belajar untuk nggak mengharap apapun saat mencintai atau memberi. Cuma itu satu-satunya cara biar nggak ada yang namanya patah hati. Kecewa.”

“Nggak bisa, Ren. Semua udah terlanjur.”

“Belajar, Sayang.”

“Jangan panggil 'sayang' kalau pada akhirnya kita nggak bisa bersama. Kamu tahu, ini menyakitkan, Ren.”

“Ya. Kita nggak bisa bersama,” Rena lebih dulu menitikan air mata. “Nggak akan pernah!”

Kemudian Rena meninggalkan Hujan sendirian bersama remah-remah kehancuran. Langit berubah mendung. Tak perlu hitungan menit, ia menumpahkan kesedihan. Air dari langit dan air dari kedua mata Hujan saling berlomba; siapa yang lebih dulu reda?

4.

Tamat.

Novel yang dibaca Hujan akhirnya selesai juga. Tak ada tulisan Rena di selembar kertas pada bagian akhir novel itu. Tak ada jejak apa-apa yang ditinggalkan Rena dalam buku itu. Juga tak ada kabar tentang Rena setahun ini. Lagi-lagi harapan Hujan patah. Sunyi di dalam hatinya terasa tambah nyeri. Perpisahan itu benar-benar menjadi yang terakhir antara mereka. Dan buku tebal yang ada di tangan, tak cukup menyembuhkan lukanya.

Hujan mendekati air laut. Siapa tahu, laut bisa melarutkan kepedihannya itu.

Tiba-tiba, langit yang sedang cerah-cerahnya menurunkan air hujan. Ini yang namanya hujan panas kata kakek tempo dulu.

Tapi, siapa yang meninggal?
 

Tanpa tersadar, Hujan sudah mendekati air laut sampai seluruh tubuhnya tenggelam.

Aku tidak menulis kisah orang lain. Aku menulis Hujan; pemuda yang menjalani proses rumit dalam hidup.

Alasan Ayah Tidak Menikah

foto by Google

Aku mencintainya tanpa bisa diukur dengan luas samudra, kedalaman laut atau ketinggian puncak Everest. Semuanya itu tidak lebih dari debu dibandingkan dengan cinta yang kumiliki ini.

Dengan cinta, aku bisa terbang menembus langit paling tinggi juga bisa jatuh ke paling dasar perut bumi.

Tapi di keduanya, kamu hadir menyelamatkanku.

Hari ini adalah hari yang sudah ditentukan jauh-jauh hari sebelumnya; saat kita berjalan santai bersama pada pagi yang sejuk di sepanjang jalan yang dipayungi pepohonan. Ayah tak menyangka pertumbuhan usia kamu seperti laju kereta api yang amat cepat, tak terasa dan tiba-tiba saja sudah sampai. Kamu akan segera menikah, dan itu artinya ayah bakal kembali sendiri. Sepi; melakukan segala sesuatu yang tak melibatkanmu.

“Aku akan sering-sering mengunjungi Ayah. Ayah tenang aja.” katamu saat kita beristirahat di bibir jalan.

Kesepian seperti apa yang bikin tenang, Nak? Karena rindu lebih banyak dinas di waktu sepi. Meskipun ayah sudah tua, tapi masih tahu jarak Jakarta dan Bali bukan sepanjang lengan.

“Tenang? Memang ayah kelihatan panik, ya?”

Kemudian kamu tertawa, anak gadis paling manis. Andai kamu tahu, seberanjak tua apapun dirimu nanti, kamu tetap anak gadis paling manis di mata ayahmu ini. Ayah tersenyum.

“Boleh aku bertanya?”

“Belum dibolehkan saja kamu sudah bertanya, Nak.”

“Aha…iya." Ada sedikit jeda. Sepertinya kamu berpikir. "Kenapa Ayah tidak menikah?”

Pertanyaanmu selalu sulit dijawab. Dari kecil, dari pertama ayah melihatmu, isi kepalamu memang berbeda dengan yang lain. Di kepalamu itu seperti ada buku sebanyak di dunia dikumpulkan jadi satu. Ah, siapa lagi yang bisa meninggikanmu kalau bukan ayahmu ini, Nak. Ayah jadi ingat pertama kali menemukanmu.

Waktu itu umur ayah 30 tahun. Laki-laki bercelana jeans robek. Pemabuk. Tapi, tetap tidak suka makan velg motor. Itu artinya ayahmu ini masih waras saat menemukanmu meski dalam kondisi setengah sadar. Dari kejauhan ayah sudah melihat ada anak kecil berdiri di bibir jembatan jalan panjang. Kamu memegang besi pembatas sembari memandangi sungai deras di bawah. Ayah berpikir kamu akan loncat dan tamat.

Karena itu ayah percepat jalan yang memang sudah sempoyongan itu untuk menyelamatkanmu. Tapi, sesampai di dekatmu, kamu malah santai dan tersenyum kepada ayah.

“Besar nilai Ibu atau nilai surga?” Kamu langsung bertanya seperti itu. Ayah yang melihat tubuhmu berbayang-bayang tertawa terpingkal-pingkal dengan botol bir di tangan. Orang mabuk kamu tanya seperti itu.

“Telapak kaki Ibu itu kan bagian paling bawah. Apa surga serendah itu?” Pertanyaan pertama belum ayah jawab, kamu melempar pertanyaan kedua lagi. Tambah lucu.

“Menurut pemabuk; kenapa surga ada di telapak kaki Ibu?”

Pertanyaanmu yang terakhir membuat ayah terdiam. Bir di tangan jatuh dan pecah di aspal. Bersamaan itu juga ada kepingan-kepingan yang berserakan di dalam diri bernama kenangan yang ayah coba pungut kembali. Kamu sekejap membuat ayah mengenang. Dan ayah merasa menemukan cinta di depan mata. Cinta baru yang bertubuh mungil dengan baju gaun dan senyum amat manis. Lalu ayah bawa pulang dengan bergandeng tangan.

“Aku diturunkan Ibu dari mobil dan ditinggalkan di tengah jalan itu. Ibuku, surgaku. Aku kehilangan itu.” ceritamu saat kita sudah sampai di rumah.

“Berapa umurmu?”

“7 tahun.”

“Wah…kamu besok masuk sekolah. Malam ini, ayo kita cari Ibumu!” Ayah menarik lengan mungilmu itu. Tapi, kamu berusaha menahannya.

“Aku paham dan mengerti. Ibu sudah membuangku. Itu artinya, aku tidak ada artinya lagi.”

Kata-katamu menghilangkan kata-kataku. Tak ada lagi yang bisa ayah katakan dalam keadaan sedikit mabuk itu. Ruangan dikuasai keheningan. Hanya ada bunyi kipas angin.

Dan selanjutnya ayah mengangkatmu menjadi anak. Kamu bilang kamu yang beruntung. Tapi, sebenarnya ayah, sayang. Kamu mengajarkan pada ayah agar tidak kalah dengan hidup.

“Kenapa kamu mau tinggal dengan saya?” tanya ayah suatu ketika. Ayah ingin mendengar jawaban yang mengejutkan dari bibir mungilmu itu.

“Karena pemabuk itu tidak ada yang mengurusi. Hehe.”

Kamu berhasil membuat ayah senang.

“Ayah?” Kamu mengibaskan tangan, menyadarkan lamunan ayah. “Aku serius. Kenapa ayah tidak menikah? Ayah masih tampan, kok.”

Kamu meraba wajah ayah. Pertanyaan ini sama sekali tidak menarik.

“Ayah akan ceritakan di hari Sabtu. Pulang, yuk! Ayah pingin ngopi.”

***

Hari ini adalah hari yang sudah ditentukan jauh-jauh hari sebelumnya. Hari ini adalah hari Sabtu. Kita sudah duduk santai di kursi sederhana sembari menunggu matahari terbenam. Sudah ada dua gelas kopi di meja. Kamu diam saja. Ayah bingung harus memulai cerita dari mana, Nak. Ayah bukan penulis sepertimu.

“Jadi, gimana ceritanya, Yah?”

Nah, kenapa tidak bertanya dari tadi.

***

Pada waktu SMA, ayah menyukai perempuan. Namanya Nina. Ia perempuan paling pintar di kelas. Dan yang lebih penting, ia pintar merawat senyumnya untuk ayah. Hari-hari sekolah ayah amat membahagiakan, tapi berhenti manakala tiba kelulusan.

“Aku tidak kuliah di Jakarta. Keluarga kami akan pindah.”

Hati ayah menciap-ciap. Tidak ingin. Tapi, tidak ada yang bisa dilakukan. Ayah mengangguk. Pasrah.

Setahun kami masih berkomunikasi dengan baik meski dalam jarak. Tapi, di bulan berikutnya ia minta putus.

“Ini nggak adil!” Ayah protes.

“Ibu yang menginginkannya. Aku nggak bisa nolak kalau Ibu yang minta.”

“Oke, kita bubar. Berhenti pacaran. Tapi, kita masih bisa berkomitmen. Kita masih satu rasa.”

“Untuk apalagi?”

“Kenapa masih tanya, sih?”

“Pacaran atau nggak, dua-duanya enggak ada artinya lagi. Pada akhirnya aku nggak menikah dengan kamu. Aku sudah dijodohkan.”

Ayah gelimpangan mendengarnya. “Kapan?”

“Minggu depan.”

“Saya akan ke sana.”

“Untuk apalagi, sih?”

Ayah memutus panggilannya. Minggu depan adalah waktu yang amat mepet jika ingin mengumpulkan uang untuk membeli tiket pesawat. Ayah tidak mampu. Maka pernikahan itu tidak jadi kacau. Malah sebaliknya; pernikahan mereka meriah dan membahagiakan. Kata teman ayah.

***

“Kemudian Ayah frustrasi dan menjadi pemabuk?” katamu menerka.

“Kemudian ayah menemukanmu.”

“Dan pensiun jadi frustrasi,” Kamu meneruskan.

“Dan pensiun jadi pemabuk,” Ayah menambahkan.

“Ayah sangat mencintai perempuan itu, ya?”

Ayah mengangguk. “Ayah sangat mencintaimu.”

***

Di hari pernikahanmu segalanya berjalan dengan amat lancar. Keluarga baru kita amat berbahagia dengan pernikahan ini. Diam-diam ayah keluar dari kerumunan dan mencari tempat untuk menyendiri. Menyalakan sebatang rokok dan menikmatinya pelan-pelan.

“Aku minta maaf,” kata Ibu mertua barumu yang diam-diam mengikuti ayah dari belakang.

“Semua sudah terjadi. Nggak ada yang salah, Nina.”

“Nggak ada juga yang bener?”

“Tuhan?” Ayah tersenyum. “Menuruti perintah Ibu itu hal yang baik. Buktinya pernikahan kamu membahagiakan.”

“Menurutmu; kenapa surga terletak di telapak kaki Ibu?”

Pertanyaan ini lagi. Pertanyaan sebelum Nina memilih menikah. Pertanyaan ini juga yang membuat ayah mengangkatmu menjadi anak.

“Karena yang ada di hati Ibu; itu kita.”

“Kenapa kamu nggak menikah, Dimas?”

“Karena kamu menikah, Nina.”

Ayah mengakhiri riwayat rokok yang belum tandas. Tak kuat ayah mengobrol dengannya. Itulah alasan ayah tidak menikah.

Aku mencintainya tanpa bisa diukur dengan luas samudra, kedalaman laut atau ketinggian puncak Everest. Semuanya itu tidak lebih dari debu dibandingkan dengan cinta yang kumiliki ini.

Dengan cinta, aku bisa terbang menembus langit paling tinggi juga bisa jatuh ke paling dasar perut bumi.

Tapi di keduanya, kamu hadir menyelamatkanku, Anakku.

Aku tak terbang terlalu jauh, juga tak hancur di dalam jatuh.

Selamat menikah, berbahagialah bahkan sampai maut pun tak bisa menghentikan.

Pulangmu, Pergiku.



Beberapa dari pembaca (mungkin kamu), ikut bertanggung jawab atas masa sekolah dan kehidupan yang aku alami.


Pulang; yang harus kau ingat, ketika pergi.



A
ku memilih tidak akan pergi untuk pulang. Aku akan menetap sampai yang menetapkanku membuat takdir agar aku tak lagi bisa menetap. Atau jika aku masih bisa memilih, aku ingin melawan takdir yang telah ditetapkan untuk satu keinginan;

Aku tidak ingin pulang. Aku ingin menetap.

Tidak pergi, juga tidak pulang.

“Ayah yang membuatku pergi, Paman. Sekarang, dia minta aku untuk pulang? Lelucon macam apa ini?!” Aku terkekeh.

“Tapi, Ayahmu pernah bilang—“

“Bilang pada Ayah; aku tak punya Ayah,” Cepat dan lantang, aku memotong.

“Kalau begitu, Paman secara pribadi yang memintamu untuk pulang. Sekali, seumur hidupmu. Bisa, kan?”

Aku mendadak gagu. Kumatikan handphone itu dan kubuang ke sembarang arah. Percakapan yang sebentar itu mampu membuatku merenung lama. Menggoyahkan prinsipku selama bertahun-tahun ini.

Aku tidak ingin pulang. Tapi, sayangnya ayah ingin.

***

Manusia yang mengurusiku dari lahir tepat ketika ibu rela menukarkan hidupnya demi aku;

Ayah.

Terakhir kali aku memanggilnya kelas dua SMP. Setelahnya tidak pernah. Bagiku, dia ada tapi kutiadakan. Aku hanya menganggapnya tokoh fiksi yang jarang sekali tampil dalam sebuah cerita. Selama satu tahun, aku berhasil “meniadakannnya” dalam hidupku. Dan di tahun selanjutnya, aku pergi.

Maksudku, ayah yang membuatku pergi.

Di umur 3th, aku kecil menjadi pribadi yang berbeda dengan anak lainnya. Waktu bermainku terlalu banyak dikurangi oleh ayah untuk belajar mengeja dan membaca.

“Kalau kamu jadi orang cerdas, hidup kamu akan mudah,” kata ayah.

“Semudah bermain?” tanyaku waktu itu. Ayah tersenyum dan mengangguk mantap.

Aku dibodohi. Hari selanjutnya, hidupku jadi rumit. Tak ada permainan yang benar-benar kunikmati saat aku bermain permainan. Karena yang ada dalam kepalaku hanyalah huruf-huruf yang tersusun menjadi kata, kata menjadi kalimat dan kalimat menjadi cerita.

Maka, aku kecil lebih dulu bisa membaca dari anak-anak sebaya. Ayah, keluarga, tetangga, mereka semua saat itu mengatakan aku cerdas. Tapi, hidupku makin tidak mudah. Di sekolah, aku malah bosan belajar hal yang sudah kupelajari dan mampu kulakukan. Karenanya, aku lompat kelas beberapa kali.

“Matematika. Ayah tak pernah bosan belajar matematika.”

“Belajar itu membosankan, Yah. Tidak ada permainannya,” Aku mengeluh.

“Belajar itu permainan, Nak. Di Matematika, kita bermain permainan mencari angka-angka yang bersembunyi. Itu lebih seru dari permainan “petak umpet” yang dimainkan teman-temanmu.”

Pernah suatu ketika nilaiku menurun. Ayah menghukumku berdiri dengan satu kaki di bawah pohon besar di pekarangan rumah—tempat di mana orang-orang desa mudah melihatku ketika lewat. Karena tujuannya memang itu, mempermalukan aku.

Maka, aku kecil lebih cepat menghapal perkalian, rumus dan segala bentuk perhitungan yang menghasilkan nilai angka. Selanjutnya, aku belajar bahasa asing dan pengetahuan umum lainnya. Seperti yang ayah mau, pelajaranku menjadi mudah. Ya, semudah bermain permainan.

Tapi, hidupku malah berlaku sebaliknya.

Di sekolah, aku dimanfaatkan teman-temanku (mungkin di antaranya adalah kamu) saat ujian atau semacamnya yang berhubungan dengan pengambilan nilai. Diganggu, diejek dan dikucilkan adalah hari-hari sekolahku. Aku pintar, tapi dimanfaatkan teman-teman yang bodoh. Pada bagian ini, siapa yang pintar, siapa yang bodoh, ayah?

Ayah mungkin lupa, tak pernah mengajarkanku tentang keberanian, menyalakan nyali, cara berkelahi dan cara disegani lawan. Atau aku yang bodoh, tidak bisa memanfaatkan kecerdasanku untuk mengatasi masalah-masalahku sendiri. Sekali lagi, siapa yang pintar dan siapa yang bodoh, ayah? Dari sana, aku tumbuh menjadi pribadi introvert. Temanku tak banyak. Hanya satu; kesendirian.

Di kelas satu SMP, diam-diam aku mempelajari menyalakan nyali. Lewat film, buku, tontonan berita kriminal dan pertengkaran antara ayah dan saudara-saudara ayah. Dari yang terakhir, aku mempelajari cara mengubah cinta jadi benci.

Di kelas dua SMP, nyaliku berhasil menyala.

“Kutu buku!” Ketua komplotan berbadan besar itu datang-datang melempar buku ke arahku. Seperti biasa. “Selesain, ya…”

“Sudah selesai.” Aku balik melempar buku ke wajahnya dengan keras.

Dan kemudian terjadi perkelahian. Aku yang lebih dulu memukulnya. Pada saat itu, aku hampir membunuhnya. Dia dikabarkan kritis di rumah sakit; luka dibagian kepala karena batu. Kemudian dirujuk ke rumah sakit pulau seberang.

Ayah.

Kau tahu apa yang dilakukan pria itu? Memindahkanku ke sekolah lain yang jauh dari rumah. Setelah lulus, ia memaksaku pindah dari rumah ke tempat asing dengan alasan agar aku menjadi mandiri. Bersama kakek, kebencianku terhadap ayah makin menjadi. Apalagi, selama di rumah kakek, ayah melarangku untuk pulang. Sampai aku lulus SMA. Lalu aku memutuskan untuk tidak pernah pulang.

Tapi, sekarang ia ingin aku pulang. Ayah mabuk?

***

Pulang; ada yang kembali, ada yang ditinggal pergi.

Aku mengambil dan menyalakan handphone kembali. “Maafkan aku, Paman. Tidak bisa.” kataku dari telepon. Suaraku parau.

“Kau masih ingat, teman laki-laki yang hampir kau bunuh itu? Yang kau pecahkan kepalanya dengan batu?”

Aku diam saja.

“Ayahmu harus mengeluarkan banyak uang pada saat itu agar masalahmu bisa diselesaikan dengan jalan damai. Dia menggadaikan rumahmu. Itu sebabnya, setelah lulus SMP kau dipindahkan ke rumah kakekmu karena rumah itu terjual. Dan ayahmu bekerja di Negara lain."

“Jangan mengada-ngada, Paman…” Aku tak percaya.

“Kau kira uang jajan, biaya sekolah dan kuliahmu dari siapa? Temanmu, yang kau pecahkan kepalanya itu mati, Ben…”

“Bulshit!” Aku memukul dadaku yang tiba-tiba sesak.

“Tapi, dia menutupi agar kau tak merasa bersalah. Menutupinya dari semua orang. Jika dihitung, berapa harga untuk satu nyawa, Ben? Dia hanya minta agar kau mengumandangkan adzan untuk melepas kepulangannya. Seperti adzannya yang pernah menyambut kelahiranmu.”

Langit-langit atap serasa menimpa kepalaku. Semakin paman terus berkata, semakin hancur tubuhku.

“Setiap hari dia merindukan kepulanganmu semenjak kau pergi. Ada pelajaran yang belum selesai, Ben..." Paman memberi jeda, "kata ayahmu, hidup ini berpasangan. Baik buruk tidak bisa dipisahkan, tapi diterima. Menerima itu kedamaian, Ben. Karena dari kecil, ayahmu tak pernah menggunakan tangannya untuk memukul. Apa kau pernah dipukul, Ben?"

Aku menggeleng. Tangisanku tumpah. Gemetar.

"Jadi, aku tahu benar bagaimana ayahmu bekerja keras mengajarimu agar kau bisa sukses seperti sekarang. Ya, semudah sekarang. Pulanglah, Ben. Sekali, seumur hidupmu.”

Perkataan paman telak menamparku. Meruntuhkan kebencian terhadap ayah dalam waktu sekedip mata. Kemudian penyesalan tertawa puas atas diriku. Raut wajah bahagia berganti menjadi kacau. Aku teringat bermain ayunan sambil menghapal perkalian, dihukum di bawah pohon, dan…

ciuman hangat ayah di sepasang pipiku, di setiap pagi.

“Sudah siap berangkat, Ben?” kata Riko, temanku, kepalanya menyembul dari balik pintu kamar. “Masih ngapalin ijab?”

“Sebentar lagi,” jawabku singkat.

Beberapa menit Riko meninggalkanku, aku juga pergi, meninggalkan calon istriku.

***

Setelah pemakaman ayah, aku berjalan-jalan melewati desa tempat aku tinggal dulu. Rumah itu, pohon di mana aku dihukum dan ayunan tempatku belajar, semuanya belum berubah. Yang berubah hanya keluarga baru yang telah menempati rumah itu.

Dari kejauhan, kulihat anak kecil sedang menghapal perkalian sambil bermain ayunan.

Penghulu Gay




Aku seorang penghulu yang sudah pensiun. Sekarang, umurku setara dengan umur Indonesia. Sudah lebih seratus orang kunikahi, tapi aku…

…sebaliknya, belum juga menikah. Ironis? Ya. Bagi orang lain, tidak untukku. Sebab, aku percaya orang lain tak akan benar-benar tahu apa-apa mengenai siapa-siapa. Termasuk aku dan segala yang kurasa. Beberapa orang seringkali mencoba menjodohkan aku dengan seseorang, mungkin temannya, tetangganya atau entah; Jeri, Gunawan, Roy, Iwan dan Eli, lengkapnya Eli Eboy.

Sampai sini, apakah kalian tertawa?

Benar, mereka semua laki-laki. Entah siapa yang gila. Aku punya alasan sederhana kenapa belum juga menikah; menunggunya mencintaiku. Serumit itu.

Hari ini, seseorang laki-laki berumur 24 tahun mendatangiku dengan membawa sembako yang lebih dari cukup untuk dua bulan.

“Itu melewati batas hukum Negara, Nak,” Aku menggeleng. Kuserahkan kembali bingkisannya.

“Tidak sah secara Negara, itu tanggung jawab saya, Pak. Tidak sah secara agama, itu bisa merusak hubungan saya sama Tuhan. Nikah siri lebih baik daripada maksiat, kan, Pak?”

Setelah itu ada hening cukup panjang sebelum aku menjawab. Empat puluh tahun lalu, seseorang juga pernah mendatangiku dan minta dinikahi secara siri. Aku mulai menceritakan itu kepadanya agar ia berpikir ulang.

“Kau perempuan, Ras,” kataku waktu itu. Belum sempat kuselesaikan penjelasanku, ia memotong.

“Aku mewakilinya. Dia sedang sibuk.”

“Maksudku bukan begitu. Temanku pernah menikahi seseorang secara siri, belum genap dua tahun, suaminya menikah lagi. Dan kau tahu? Istri pertamanya tidak diakui.”

“Karena tidak sah secara Negara?” Gadis itu membesarkan matanya, “kami tidak mungkin melakukan itu, Ma. Kami—“

“Saling cinta? Sekarang, iya. Nantinya pasti dia akan melakukan itu. Rata-rata seperti itu yang terjadi.”

“Kenapa kamu begitu yakin?”

“Aku mencintaimu, Ras.” Cepat, kuakui. Dadaku sudah bergemuruh dari tadi. Ramai sekali perasaan yang berkelahi di dalam. Nyaliku seperti kilat yang menyambar. Saat itu, waktu seakan berhenti dan cintaku tak pernah bangun untuk jatuh ke yang lain lagi.

“Sudah yang ketiga kali kamu menyatakannya, Ma. Dan kamu selalu tahu jawabannya.”

“Aku akan menunggu.”

“Kamu gila?! Aku ingin menikah dengan orang lain, Brama,” katanya dengan nada menekan.

“Kamu lebih gila, Ras. Kamu tahu perasaanku gimana, lalu kamu datang memintaku melihat seseorang yang kucintai bersatu dengan orang lain yang sampai sekarang aku enggak tahu siapa. Jelas, di depan mata.”

“Karin. Sekarang kamu tahu? Sudah puas? Aku calon suaminya.”

Aku tersenyum kecut. Hampir jantungan. Beberapa menit kubiarkan tubuhku menjadi kaku dan ucapanku menjadi gagu. Terkubur dalam satu waktu. Barangkali aku akan struk, itu lebih baik. Tapi Tuhan memberi takdir sebaliknya. Aku menghela napas berat. Dan setelah itu, aku mampu menjauhinya dengan ringan.

Karin, sahabat karibnya sejak SD. Setelah lulus SMA mereka berpisah. Karin pindah dan berkuliah di Jogja sedangkan Laras tetap di Jakarta. Keduanya terbuat dari keluarga broken home. Ayah Karin yang diceraikan istrinya dan Ibu Laras yang terlibat KDRT. Tidak semua orang berhak tumbuh jadi orang tua dan memiliki anak. Hanya itu yang aku tahu. Sisanya, aku menyadari bahwa pribadi Laras belum tamat kubaca.

Aku membalikkan tubuh, menemuinya kembali.

“Apa kamu sudah memikirkan ini matang-matang? Kamu tidak akan memiliki anak,” Kakiku sedikit gemetar ketika kembali berdiri di depannya. Aku berharap pernyataanku membalikkan arah tujuannya.

“Anak? Aku bisa mengadopsi,” Ia menitikkan air mata.

“Baiklah. Untuk apa sebenarnya kamu datang menemuiku dan minta dinikahi? Kamu pasti sudah tahu, secara agama atau Negara tidak akan pernah sah. Dan aku tidak mungkin bisa mengubahnya, Ras.”

“Aku tahu-aku tahu,” Sekarang ia menangis terisak, “aku bingung. Aku hanya ingin minta pendapatmu untuk masalah kami.”

“Berpisah, Ras. Jika tidak bisa bersatu, kalian bisa berpisah.”

Kata-kataku yang terakhir membuatnya berhenti menangis. Kukira berhasil, ia berdiri tegap, mata tajamnya menenggelamkanku sampai ke dasar matanya, lalu seperti angin, lengannya menampar keras pipiku dua kali. Kanan dan kiri secara bergantian. Menciptakan sakit di dada kiri; hatiku.

“Makasih, Ma.” Sesederhana itu, kemudian ia pergi.

Beberapa minggu kemudian aku melihat berita di tv, seseorang bunuh diri dengan melompat dari atas mall, Karin. Apakah salah jika aku membuat mereka berpisah?

“Apa hubungannya curhatan Bapak itu dengan saya,” Laki-laki itu tersenyum merekah.

“Bapak tidak bisa menikahi kalian.”

“Kenapa?”

“Kau gay!”

Dia tertawa terbahak-bahak. Entah bagian mana yang lucu, kecuali jika ia gila; tak perlu lucu untuk tertawa.

“Dari mana bapak tahu? Saya bukan gay, pacar saya yang gay!”

Aku tersenyum. Dia benar-benar gila. Aku ingin sekali meninju dan mematahkan rahangnya atau gigi depannya agar ia malu untuk tertawa. Menjadi penghulu, aku sudah terbiasa menemui beberapa orang aneh seperti ini. Mulai dari pernikahan beda agama, sesama jenis atau berbeda jenis sesama agama tapi masih anggota keluarga; kakak beradik. Shit!

“Lain kali jangan warnai bulu matamu, memberi hiasan pada kuku-kuku, dan…turunkan sedikit celanamu,” Dengan jelas aku membisikan itu di telinga kanannya. Dengan langkah ringkih, aku beranjak dari tempat duduk dibantu tongkat kayu.

“Larasmu belum mati.”

Aku menghentikan langkahku.

“Pergi,” usirku sebelum amarahku tumbuh. Di jauh dari tempatku, tiba-tiba Laras sangat dekat di langit pikiranku. Kenangan perihal dirinya menjadi awan.

“Saya koreksi sedikit, ya, Pak. Larasmu belum mati. Waktu itu, mereka memang bersepakat bunuh diri. Tapi yang melompat hanya Tante Karin. Larasmu tidak.”

Aku berjalan tergesa-gesa dengan tongkatku mendekatinya. Kugenggam kerah bajunya dan kepalaku siap kubenturkan ke kepalanya. Ia gemetar.

“Bapak…yang bapak….ceritakan itu…Ibuku,” katanya putus-putus. Dadaku sesak, habis diisi kejutan-kejutan. Kulepaskan ia.

“Kenapa kau ke sini! Pergi!” Aku berteriak sekencang-kencangnya. Tak peduli lagi tetangga sudah menonton kami.

“Ibu yang menyuruh saya, Pak.”

“Untuk apa?”

“Minta pendapat.” Ia terlihat sangat ketakutan. Tambah gemetar.

“Jika menurutmu itu penyakit, kau bisa menyembuhkan dirimu sendiri.”

Ia tidak bilang apapun lagi. Langsung pergi berlari, menangis, menutup mulutnya tanpa sekalipun menoleh ke belakang. Aku pun masuk ke rumah dan sadar penuh, hari ini entah untuk ke berapa kalinya, aku memberi bahan pembicaraan untuk diperbincangkan tetangga-tetangga. Tapi aku tak peduli. Sebab, aku percaya orang lain tak akan benar-benar tahu apa-apa tentang siapa-siapa.

Yang membuatku penasaran, bagaimana Laras bisa menyembuhkan dirinya sendiri?

Aku juga ingin menyembuhkan diriku sendiri dari cinta kepada seseorang yang tak mencintaiku. Setelah itu, aku belajar mencintai “diriku sendiri”. Yang setia menemaniku selama ini; napasku.

*

Seminggu kemudian, aku mendapat kiriman surat dari laki-laki tempo hari. Isinya;

Terimakasih telah menyadarkan bahwa di Negara kita pernikahan seperti itu tidak akan pernah terjadi. Sama seperti Ibu angkatku,  Laras; kami tidak bisa sembuh, tapi kami berharap tidak akan mati dengan sia-sia dengan cara mendonorkan organ tubuh satu persatu.

Jadi, siapapun yang membutuhkan organ tubuh manusia, temui saya.

Asal jangan donorkan hati. Perasaan ini amat rumit.

Hari ini, Ibu mendonorkan  ginjalnya setelah sebelumnya kornea mata. Ibu bilang; setiap akan memulai operasi, yang terbayang adalah wajah Bapak Brama.

Apa Ibuku mulai sembuh?

Menjawab tantangan #FiksiLGBT dari @kampusfiksi