Manfaat menulis yang terabaikan.
Beberapa orang sering menanyakan, “Kenapa, sih, kamu mau cape-cape nulis? Lagian jadi penulis gak akan membuat kamu kaya.”
Saya cuma senyum-senyum aja, kalo diladenin bakal panjang atau malah jadi debat nantinya. Debat, kan, sia-sia. Yang menang dalam debat bakal gak disuka sama yang kalah, gitu juga sebaliknya. Jadi cara satu-satunya menang dalam debat adalah menghindarkannya. Setuju? Enggak? Sama. Lah.
Jadi dari pada saya banyak ngomong ke dia, mending saya nulis aja, apa manfaat menulis itu. Sign in:
1. Cara menjaga ilmu dan hasil pemikiran.
Hal yang wajar bagi manusia untuk tidak bisa terus mengingat. Otak untuk mengingat terbatas. Lupa itu hal yang bakal sering kita temui. Sebentar, ngelupain mantan kok gak bisa?
Bukan gak bisa tapi gak mau. Hehe. Jadi salah satu cara untuk mengabadikan hal ini adalah menuliskannya.
2. Menulis itu menyehatkan
“Menulislah dan kau akan sehat,”
Itu kata Prof. John Sarno, guru besar ilmu kedokteran di New York University. Dia adalah pakarnya tulang belakang. Beliau menyarankan kepada pasien kronisnya untuk selalu menulis catatan harian. Secara tidak mereka bisa mengenali dan memahami apa yang membuat mereka cemas, marah, sedih atau apapun. Dan keberadaan penyakit itu secara tidak sadar akan menghilangkan.
Gitu. Menurut saya ini juga bisa jadi cara menghilangkan kegalauan kita. Tulis saja apa permasalahan yang terjadi dan itu akan lenyap. Mudah-mudahan.
3. Menulis membuat kita terus hidup dan terkenang
Ini sudah terbukti. Melalui hasil karya atau pemikiran yang ditulis, mereka seakan terus hidup. Hasil karya mereka berguna sampai sekarang. Seperti kitab yang ditulis sahabat Rasul, atau buku-buku lainnya. Buku puisi Chairil Anwar, misalnya.
Jika ada manfaat lain dari menulis yang kamu dapatkan, bisa tulis di kolom komentar. Thanks udah mampir dan baca, kamu keren!!
Cara Membuat Sinopsis Novel
Hai, teman menulis. Sudah menulis apa hari ini? Usahakan untuk selalu menulis setiap harinya, ya.
Suatu ketika saya pernah mengikuti pelatihan menulis novel online di sosial media, dan kebetulan mentornya adalah editor bentang pustaka. Asik, ya. Jadi, untuk mengingat kembali, biar saja juga gak melupakan.
Beliau bilang, setiap harinya banyak orang yang mengirim naskah novelnya ke penerbit, jadi hal pertama yang dibaca pihak penerbit adalah sinopsys.
Apa itu synopsis?
Adalah ringkasan cerita sebuah novel. Seperti pemendekan sebuah novel, tanpa mengesampingkan unsur-unsur intrinsik dalam novel dan tetap memperhatikan keindahan kalimat penulisannya. Simplenya, menceritakan naskah novel dari a sampe z secara ringkas.
Sinopsis yang baik itu menceritakan cerita secara lengkap. Awal cerita, konflik cerita, peyelesaian konflik. Sinopsis juga menjelaskan secara lengkap siapa tokohnya, karakter tokoh, setting. Berikut cara membuat sinopsis novel:
1. Tuliskan premis ceritanya. Misal: ketidakpercayaan pada pasangan hanya berujung pada cinta yang terluka. Premis itu garis besar atau benang merah inti cerita.
2. Apa sudut pandang penokohannya? Orang pertama, kedua, ketiga.
3. Bagaimana karakter & deskripsi tokohnya?
Misal:
Si Indah: cantik, profesi teller bank, lembut.
Si Satria: muka baby face, agak kasar, profesi petinju. => Yang dideskripsikan adalah karakter tokoh utama & karakter tokoh pendukung tokoh utamanya.
Deskripsi tokoh, apa maksudnya?
Contoh: Indah yang berbaju dress merah dan membawa tas tangan itu berjalan dengan sok anggunnya di depan mejaku. Ini contoh maksud dari deskripsi tokoh.
4. Di mana settingnya? Kota, desa? Lokasi di Indonesia atau luar negeri?
5. Bagaimana alurnya? Maju, mundur? Atau maju-mundur?
6. Siapa segmen pembaca novel ini? Dewasa, dewasa muda, remaja?
Untuk novel, sinopsis biasanya panjang sekitar 1-3 halaman.
Kalau mau simpel, ketika penerbit bertanya, "Tolong jelaskan inti novel dalam 1 kalimat." Maka, Anda bisa menyebutkannya.
Mengingatkan kembali, bahwa penerbit itu dapat kiriman beratus-ratus naskah dari banyak penulis. Tidak mungkin mereka membaca satu persatu naskah sampai habis. Kelamaan. Jadi, sinopsis jelas sangat dibutuhkan. Jika dari synopsis saja sudah buruk, bagaimana selanjutnya.
Begitulah cara membuat sinopsis novel, semoga terbantu, ya.
Kumpulan cerpen romantis: Membelah Bagianmu
Air tehnya mulai berubah warna, sebab es batu di dalamnya terus mencair. Tapi yang kutunggu belum juga datang. Malam dan gelap memberi keheningan, sudah pukul sembilan lebih tujuh menit, tapi yang kutunggu belum juga datang. Tapi aku yakin dia akan datang. Sembari menunggunya, aku menghidupkan laptop dan mulai menulis. Aku pernah dengar, katanya bercerita itu mempercepat putaran jam. Segalanya tak terasa saat kita bercerita. Aku akan membuktikan dalil tersebut. Bercerita lewat tulisan. Aku bukan penulis, aku hanya ingin menulis hal-hal yang aku ingat sebelum aku lupa atau sebelum aku melupakannya.
Aku memberi judul tulisan ini “Bagianmu”. Aku berharap saat kamu membaca tulisan ini, kamu juga dapat mengingat sebelum kamu lupa, Jels. Lupa itu bukan soal umur, tapi soal ingatan yang menolak lupa atau menolak mengingat.
Pada tulisan ini, aku membelah beberapa bagian untuk mengingatmu, Jels.
Bagian pertama, saat aku bertemu kamu.
Sedikit lucu memang, waktu itu aku masih TK. Aku berlari dari kejaran ibuku saat beliau tak mau membelikanku es cream. Wajar saja, waktu itu aku memang sedang tak enak badan, tapi aku ingin, Jels. Aku berlari sekencang-kencangnya sampai aku terjatuh setelah menabrakmu. Ah, bukan kamu, tapi ibumu yang menggandeng tanganmu. Kamu ingat, Jels?
Ibu akhirnya mendapatiku. Dan sebuah kejutan dari semesta terjadi, ternyata ibumu adalah teman dekat ibuku dari SD sampai SMP. Dari kejadian itu, ibuku sering bermain ke rumahmu begitu juga sebaliknya. Dan otomatis kita pun menjadi teman dekat yang selalu bersama. Aku yakin kamu ingat, Jels.
Bagian ke-dua, Tuhan memberiku rasa dan memberiku waktu untuk mengungkapkan.
Entah tingkatan cinta ke-berapa waktu itu, tapi yang jelas aku memiliki perasaan lebih dari teman kepadamu, Jels. Tepat kelas dua SMP –yang memang kita dari dulu satu sekolah- aku sudah memiliki perasaan itu, tapi aku malu mengatakannya. Atau bukan malu, aku tak memiliki nyali. Sampai pada suatu ketika, nyali itu berhasil aku kumpulkan satu tahun setelahnya. Tepat setelah kelulusan SMP, aku menyatakannya.
“Aku juga suka sama kamu,” suaramu masih polos waktu itu. Aku masih ingat anggukan dan senyummu itu. Indah.
Kau tahu, Jels? Hari itu aku benar-benar senang. Dan lucunya lagi, di perjalanan pulang, kita sudah membicarakan perayaan jadian kita tahun depan, pernikahan kita, berapa banyak anak kita nanti. Haha. Itu sangat lucu, Jels. Bagaimana bisa seumuran kita sudah memikirkan hal itu. Entahlah.
Tapi aku suka. Begitu juga denganmu yang terbukti dari senyuman dan genggaman tanganmu. Keduanya tulus. Benarkan, Jels? Mengaku saja?
Bagian ke-tiga, aku kehilanganmu, Jels.
Tepat tiga hari setelah kita jadian, aku ke rumahmu membawakan coklat dan sebuah kalung. Kamu suka coklat, Jels. Maka dari itu aku membelinya sekaligus dengan kalung perak berinisial namamu. Kamu tahu, Jels? Semua itu aku beli dengan uang tabunganku sendiri selama kurang lebih satu tahun. Tapi ternyata, rumahmu tak ada siapa-siapa, Jels. Kamu pindah ke Bandung satu hari yang lalu. Pindahanmu mendadak sekali, Jels. Aku tak tahu kenapa, kamu atau ibumu tak mengabari kami.
Sejujurnya aku malu mengatakan ini, Jels, tapi aku ingin sekali mengatakannya. Saat aku tak menemukanmu waktu itu, aku menangis. Selama berhari-hari. Aku benar-benar lemah, ya, Jels.
Bagian keempat, kita bertemu lagi.
Tuhan mungkin menjodohkan kita. Tolong amin-kan ini, Jels. Kita bertemu kembali di Universitas yang sama di Jogja. Dan perasaanku pun masih sama saat kita bersama di sini. Bagaimana dengan perasaanmu, Jels?
Ternyata, aku tak boleh mencintai, Jels. Semua orang berkata demikian. Aku tak boleh meneruskan perasaan ini. Aku tak boleh mencintaimu, Jels.
Biar kuulang, aku tak boleh mencintai orang yang sudah memiliki pacar. Aku tak boleh mencintai orang yang saling mencintai. Aku tak boleh mencintaimu, Jels. Tetapi aku tetap mencintaimu.
Maafkan aku, Jels.
Bagian ke-lima, aku menanti seseorang yang orang itu tak tahu bahwa aku menantinya.
Aku menantimu, Jels. Harapanku sedikit jahat, hubungan kamu dengannya berakhir. Aku masih belum tahu tingkatan ke-berapa cintaku ini. Cinta monyet yang orang bilang itu mungkin saat ini telah berevolusi menjadi manusia. Jika Darwin masih hidup, mungkin teorinya bilang begitu. Apakah ini lucu, Jels? Aku ingin melihatmu tertawa. Tapi ini tidak lucu. Pada bagian ini, aku merasakan patah hati, Jels.
Aku ingat waktu kita SD kamu mentertawakan gigi atasku yang baru saja patah.
“Ompong-ompong, ompong-ompong! Ompong! Bwek!” katamu mengejek kemudian berlari. Aku malah tak marah, aku tersenyum sambil mengejarmu.
“Kata ibuku, kalo gigi atas yang patah, buangnya ke bawah begitu sebaliknya agar giginya kembali tumbuh,” ceritaku kepadamu saat kita berbaring sembari melihat awan sebab merasa lelah setelah berkejaran.
Seminggu setelah itu, saat kita sedang bermain hujan, tiba-tiba gigi bawahmu patah, Jels. Aku tertawa tapi kamu malah menangis, maka aku menghentikan tawaku. Aku mengikuti seperti yang dikatakan ibu. Jika gigi bawah yang patah maka membuangnya harus ke atas, genting rumah salah satu tempatnya.
Tapi lemparanmu begitu lemah saat itu, mungkin kamu sudah menggigil sebab hujan. Dan gigimu itu malah terjatuh ke dalam kubangan tanah yang baru saja digali untuk membuat kolam ikan di taman rumahmu. Lantas, aku menakutimu bahwa gigimu tidak akan tumbuh kembali. Kamu kembali menangis, dan saat itu tangisanmu lebih mengharukan. Ibumu membawamu pulang karena khawatir kamu akan demam, hujan juga sudah reda. Kamu tahu, Jels? Saat ibumu menyuruhku untuk pulang, aku tidak langsung pulang. Aku mencari gigimu dalam kubangan itu, sampai ibuku mengomeliku karena bajuku penuh tanah. Maaf, aku tak menemui gigimu, Jels. Tapi syukurlah, gigimu tetap tumbuh. Entah memori macam apa yang ada di otakku, aku bisa mengingat hal yang berkaitan denganmu, Jels.
Satu hal yang ibu lupa beri tahu atau aku yang tak pernah bertanya; jika hati yang patah, ke mana kita harus membuangnya, bu?
Bagian ke-enam, harapan jahatku terjadi.
Aku mau mengatakan ini kepadamu, Jels; saat kamu berpisah, tepat pada saat itu ada hati yang entah harus berduka atau bahagia. Aku merasakan hal itu, Jels. Aku sedih melihatmu sedih, tapi tak kupungkiri, aku bahagia, karena peluang bersamamu makin melebar.
Kita menjadi dekat lagi. Aku sering menemuimu di rumah tantemu. Ya, kamu tinggal bersama tantemu. Dan kamu pun sering bermain ke rumahku. Dan kita, sering bertemu di tempat ini.
Warung mie ayam pinggir jalan. Kamu suka sekali dengan mie ayam. Aku tak tahu kenapa kamu menyukainya, sama seperti aku tak tahu kenapa perasaanku kepadamu bisa selama ini, Jels. Maka dari itu, aku tak pernah bertanya kenapa kamu menyukai mie ayam.
Tepat saat hari ulang tahunku, kamu mengejutkanku.
Temui aku, Ris. Tolong…
Saat itu tepat tengah malam. Tanpa berpikir lagi aku menyusulmu sesuai isi pesanmu. Dengan celana pendek dan kaos, aku segera berlari kurang lebih sejauh tiga kilometer, sebab saat sorenya kamu membawa motorku. Sebenarnya aku kesal ketika sampai di sana dengan tubuh yang hampir beku dan kaos yang benar-benar basah karena keringat, kamu dan teman-teman kita malah tertawa seenaknya.
“Surprice!!!” teriakmu lalu semua bernyanyi lagu ulang tahun.
Tanda tanya besar saat itu, “kenapa kejutan itu di rumah mantanmu, Jels?”
Bagian ke-tujuh, aku mengulang bagian kedua.
“Perasaanku belum berubah, Jels, masih sama atau malah lebih parah lagi. Aku masih mencintaimu, Jels. Kita belum putus kan waktu itu. Aku ingin mengulangnya, kamu mau kan, Jels?” aku menggenggam tangamu tepat di tempat yang sedang aku duduki sekarang. Kamu hanya tersenyum melihatku. Agak lama kamu menjawabnya, sebelum bicara kamu mengambil napas panjang.
“Maaf,” katamu singkat. Tapi aku masih tersenyum, karena kamu suka bercanda. Tapi kemudian kamu melepas genggamanku.
“Aku balikan sama Dika, sehari sebelum ultah kamu. Dan kejutan itu ide Dika. Maafin aku…” katamu datar. Kemudian kamu menunduk. Saat itu, bagian tempat keberadaan jantungku seperti ditembus dengan tangan, kemudian diremasnya dengan kasar, lalu ditarik keluar dengan paksa dan terlepas dari organ tubuh.
Perih sekali, Jels.
Kalimat yang kamu ucapkan waktu itu seperti kabar meninggal kedua orangtua. Ingin marah tapi bagaimana, ingin menjerit tapi bagaimana. Kepalaku tiba-tiba berat saat itu, pandanganku menjadi buyar. Aku langsung meninggalkanmu.
Patah hati itu rasanya benar-benar sakit, ya, Jels.
Jika hati yang patah ke mana kita harus membuangnya, bu? Ke atas atau ke bawah? Ke genting rumah atau ke got, bu?!
Aku jadi ingat saat aku masih kecil dulu. Sedang berlarian di dalam rumah, aku terjatuh ke lantai terselandung mainanku sendiri. Kepalaku benjol waktu itu, dan aku menangis. Lalu ibu datang dan bicara.
“Siapa yang nakal, nak? Siapa yang buat kamu sakit?” tanya ibu lembut, aku hanya menunjuk pelakunya, “Ini? pukul, pukul!” kata ibu sambil memukul mainanku, aku mengikutinya. Aku berhenti menangis. Lalu ibu menggendongku. Saat itu aku merasa tak sakit lagi, Jels. Aku lupa rasanya.
Bisakah hal ini aku coba, Jels? Aku benar-benar sakit. Apa aku harus memukul pelakunya, Jels? Apakah aku harus memukul orang yang aku cintai, bu? Apa aku harus memukulmu, Jels?
Sepertinya hal itu malah membuatku semakin sakit, bu…
Bagian ke-delapan adalah saat ini, Jels.
Tulisanku sebentar lagi selesai, Jels. Tapi kamu belum juga datang. Sebaiknya jangan datang dulu sampai tulisanku selesai.
Aku melihat jam di pergelangan tangan, pukul sebelas lewat dua puluh menit. Kamu belum juga datang, Jels. Baiklah, aku melanjutkan tulisan ini saja. Pada bagian ini aku mengulang bagian ke…
Berat sekali menulisnya, Jels. Sampai-sampai tak terasa aku menjatuhkan air mata. Aku memang lemah, Jels.
Pada bagian ini aku mengulang bagian ke-lima.
Aku menanti orang yang tak pernah tahu bawha aku menantinya.
Aku menunggu orang yang tak pernah tahu bahwa aku menunggunya.
Aku menantimu, Jels. Kamu tak datang. Kamu tak tahu.
…
Jeda untuk melanjutkan tulisan di atas sangat lama, Jels. Aku benar-benar lemah. Aku menangis lagi. Tapi aku harus menyelesaikan tulisan ini. Pada penutup kalimat ini, aku ingin mengatakan…
Aku ingin terus mencintaimu...
Terimakasih atas undangan pernikahanmu malam ini. Maaf, aku tak datang, Jels.
Aku ingin berhenti mencintaimu…
Selesai.
Aku membereskan barang-barangku dan beranjak pulang. Air tehnya telah meluber, semua es batu di dalamnya sudah mencair. Dan mudah-mudahan hatiku yang beku dan biru ini lama-kelamaan bisa mencair juga. Tapi hati bukan es batu. Tidak semudah dan secepat itu, Jels.
Biasanya aku kebal terhadap dingin saat bersamamu, Jels. Aku selalu memberikan jaketku kepadamu saat jalan pulang seperti ini. Tapi malam ini, aku kedinginan, Jels. Aku butuh dua jaket atau tiga atau lima atau aku ingin berhenti mencintaimu, Jels. Aku mempercepat langkahku, entah kenapa ada sedikit kesal yang ingin dibuang, ada air mata yang tertahan untuk dijatuhkan.
Terkadang apa yang kamu inginkan tak dapat kamu dapati. Pilihannya, kau menyalahi atau kau menerima dengan sepenuh hati.
Selamat berbahagia, Jels…
Kucing Saya Berumur Ratusan Tahun!!
Gimana kabarnya? Bahagia atau sebaliknya?
Sibukanlah diri untuk berbahagia atau berpura-puralah bahagia sampai tidak ada waktu untuk menempatkan kesedihan. Asik.
Kali ini saya mau bahas tentang kucing. Itu foto kucing saya yang sekarang usianya lebih kurang 14th. Namanya Manis, biasa dipanggil guru BP. Eh. Biasa dipanggil Miss. Serius. Saya melihara kucing itu dari kecil waktu umur 5th. Baca dari google, untuk menentukan kesetaraan umur kucing dengan umur manusia, mulai dengan 20 tahun sebagai umur tahun pertama kucing, kemudian tambahkan 4 tahun umur manusia untuk setiap umur tahun kucing. Contoh : Kucing saya berumur 14th berarti umurnya setara dengan 20 tahun (untuk umur 1 tahun) ditambah 3 x 4 tahun, itung berapa umur kucing saya?
Gitu aja lama.
*1 jam kemudian*
Kurang lebih 292th. Wow. Saya juga kaget.
Saya melihara kucing itu dari matanya belum kebuka. Mungkin baru beberapa hari lahir. Waktu itu, sehabis isya, Abang saya tiba-tiba ke rumah bawa karung. Yap, isinya 1 induk kucing dan 3 anak kucing. Dan doi salah satunya.
Wajah emak saya nerima dengan cemberut. Saya malah sebaliknya. Secara, kapan lagi bisa minta baling-baling bambu atau pintu ke mana aja, kan? Pikir saya waktu itu.
Tapi pikiran saya salah. Kejadian demi kejadian terjadi. Ternyata melihara kucing itu gak semudah melihara digimon di tamagoci. Kadang pup sembarangan (pernah di sajadah), muntah sembarangan, gak mau makan dorayaki. Itu kan aneh. Hehe. Pokoknya ngerepotin. Sampai sebuah keputusan, “Buang aja kucing-kucing ini.” perintah emak saya
Saya sedih. Kucing sedih. Cita-citata sakitnya tuh di sini. *Eh
Karena gak tega, saya nyembunyiin mereka di gudang tak terpakai. Sebentar, gudang tak terpakai bisa dijual di toko bagu* gak, sih? Baru kepikiran.
Setiap hari dengan rajinnya saya diem-diem ngasih makan tuh kucing. Dan betapa kagetnya bukan kepalang. Si ibu kucing hilang. Belakangan saya dapet kabar dari Abang, si ibu kucing itu balik lagi ke rumah abang saya. Keren, ya, bisa tahu jalan pulang.
Lanjut.
Singkat cerita di antara tiga anak kucing itu, beberapa penyakitan kemudian meninggal. Sisa si doi. Dan seperti kata pepatah, “Yang kamu sembunyikan kelak akan ditemukan.” Emak tahu keberadaan kucing itu. Kemudian beliau ngasih kesempatan buat ngurus lagi sampe sekarang.
*terharu*
Segitu aja ceritanya. Kamu yang suka kucing atau peliharaan lainnya, sempat kepikiran gak, sih, kenapa mau-mau aja melihara kucing. Kucing, kan, kerjaannya tidur, makan, tidur, makan, ngelap muka, pup, ngelap muka kamu pake pup. Eh. Hayo kenapa mau coba?
Setelah saya teliti lebih dalam selama beberapa tahun ini, ternyata…
Saya juga gak tahu. Hehe.
Tapi yang jelas, kucing bisa ngasih rasa bahagia. Menurut saya, sih. Cinta dan kasih sayang, kan, sebenernya gak perlu alasan. Asik. Itu aja. Mungkin kalo ada yang mau nambahin atau mau cerita tentang hewan peliharaannya, isi komentar aja di bawah.
Makasih udah ngeluangin waktu buat mampir dan baca ini.
*emot kucing ndusel-ndusel ke kaki*