Setoples Kue dan Biang Kesal



Kekesalan emang selalu datang di waktu yang nggak pernah tepat. Kalo diteliti penyebab adanya kekesalan sebenernya karena hal-hal sepele. Tapi, karena datangnya ketika diri sendiri nggak siap menerima hal yang nggak diinginkan itu, yang diluar dirilah yang dituding salah. Padahal belum tentu.

Ngerti? Belibet bener kata-kata saya. HEHE.

Pernah suatu ketika saya di rumah sendirian dan kelaparan. Beruntung, saya mendapati ada setoples berisi kue-kue gemes yang cukup ngegoda. Kue-kue itu tersusun rapih di dalam toples. Sangking rapihnya sampe sulit diambil. Kue-kue itu padat di dalam toples. Erat dan nggak bisa lepas.

Berbagai macam cara saya kerahkan untuk mengeluarkan salah satu kue yang terjebak di toples ini. Khawatir kalau-kalau kue ini kehabisan napas di dalam. Mulai dari toples dibolak-balik, dipukul-pukul sampai dibanting, tetap aja; gak ada hasil.

Baru kali ini saya menemukan kue berkonspirasi. Watak kue satu ini berbeda dengan watak kue lainnya. Kue ini nggak rela dimakan.

Bukan tipe kue idaman banget!


Lapar saya memunculkan sedikit kesal. Karena kue setitik rusak kebahagian sebelanga. Padahal saya sudah lebih dulu penasaran; apa, ya, rasa kue ini saat perut lapar? Pasti lebih enak. Apalagi sembari digandeng dengan kopi hangat, duduk santai di bawah langit biru yang serasa berjarak selengan, dengan hamparan awan-awan jelas di depan. Seperti berada di puncak Merbabu.

Halah, Mas…ngayal!

Jadi, keputusan yang bisa saya ambil di situasi seperti ini adalah merusak toplesnya. Cuma itu satu-satunya cara. Ya, cuma itu! Ooo… tenang. Toples ini bukan tuperware yang lebih disayang emak daripada anaknya sendiri itu. Toples ini toples biasa, kok. Kayak perasaan kamu ke saya; biasa.

Saat menuju dapur untuk mengambil pisau, terdengar suara tetangga bertamu dari luar.

Entah ada apa di dalam tubuh kue itu, tetangga yang baru bertamu itu pun seketika ingin mencicipi. Bener-bener kue karismatik.

“Bikin sendiri atau beli ini?”

Belum sempat saya jawab, tangannya sudah masuk ke dalam toples. Dan seperti yang saya duga, kue itu gak bisa dikeluarkan. Satu pun. Berbagai macam cara dia kerahkan dan gagal. Lapar saya berubah tawa. Haha. Rasain!

“Belah aja pake pisau, Wak.” kata saya memberi saran.

“Lah. Jangan! Sayang toplesnya.”

Seketika dia berjalan ke dapur. Saya mengikutinya dari belakang, kalau-kalau terjadi apa-apa. Sama kue-nya. HEHE.

Belum lewat 1 menit, kue itu akhirnya menyerah lepas juga di tangan tetangga saya. Tapi, bukan dengan pisau yang saya sarankan melainkan dengan sendok penuh kelembutan.

Kejadian ini membuat saya merasa; mungkin pernah ada manusia yang saya perlakukan seperti kue ngeselin ini. Barangkali malah sudah saya lukai dengan “pisau” karena ego dan kekecewaan semata. Maapkeun, ya.

Nah, jadi inti dari postingan ini apa, mba? Saya ingin membagikan “tutorial melepas kue yang terjebak di dalam toples”. Terima kasih sudah mampir dan baca.

Dunia Maya dan Mas Ery

foto sudah melewati proses edit ribuan kali



 
S
aya enggak pernah bayangin sebelumnya, dari dunia maya segalanya bisa buat kita jadi lebih dekat dan jauh pada saat yang bersamaan. Dekat dengan yang sebelumnya jauh, jauh dengan hal yang sudah lama dekat.

Apapun itu, secara sadar atau enggak. Kadang nguntungin, kadang ngerugiin. Hidup emang berpasangan.
 
Satu tahun yang lalu secara enggak sengaja, saya berkenalan dengan seseorang yang emang aktif di dunia maya. Karena, pekerjaannnya emang di situ. Namanya; Ery. Sebagai anak yang menghormati orang yang lebih tua dan menjaga agar “terkesan” memiliki sopan santun, saya beri tambahan “mas” untuk memanggilnya.

Ery Mas. HEHE.

Ceritanya dimulai dari pertama saya belajar nge-blog yang kemudian teman saya menyarankan untuk berkenalan dengan Mas Ery ini. Ternyata, si Mas satu ini sudah kapalan soal nge-blog, youtube, social media atau apapun yang berhubungan dengan dollar. Dollar, mba-mas! 14 ribu sekarang! Ibu-ibu kompleks aja gak bisa nawar turun.

Awalnya saya ragu, karena baru kenalan aja Mas Ery ini sudah nyambut saya bak tamu besar dari Amerika yang nyasar karena ikut aliran-aliran aneh. Saya tanya sedikit tentang nge-blog, dijawab dengan baik-baik, jelas, dan lebih panjang dari pertanyaannya. Jelas aja, saya jadi suudzon dan mawas diri. Radar negatif sekitar menyala. Jangan-jangan kebaikan Mas Ery ini bentuk penyamaran dari tim pencari orang yang cocok untuk bom bunuh diri. Tapi, sayangnya bukan. Yah, padahal kalo iya, saya mau lho, Mas. Soal nge-bom mah saya sudah kapalan, Mas. Nge-bom like di fb. HEHE.

Dan yang keren dari si Mas Ery ini adalah dia gak minta dan gak mau dikasih bayaran apapun. Baik berupa uang maupun seperangkat alat sholat; mukena, jilbab dan sebagainya. Cocok! Saya juga gak mau ngasih. Eh. Dasar pelit amat saya ini. Huft.

Tapi, ilmu internet marketing yang dia kasih gak kira-kira, gak dibatas-batasi. Ugal-ugalan nih orang. Dia berdarah-darah buat dapetin ilmu itu, tapi ditaburin kayak anak bayi dikasih botol bedak. Cuma satu yang dia mau; saya bisa berhasil.

Baik bener, kan? Gak pake pamrih. Yang sekarang ngaku “Tulus” aja kalo nyanyi “sepasang sepatu” masih minta bayaran. Emaap. Atau saya aja yang bikinin teh buat emak sendiri kadang masih pake cembetut. Tapi, Mas Ery ini sudah bisa dan mau ngeladenin orang yang bukan siapa-siapanya dengan segala kemampuannya. Salut! Teladan.

Dari situlah kami jadi akrab. Jauh kami jadi dekat. Tapi, ada satu hal yang mesti ngelus dada kalo ngadepin Mas Ery yang beruntung bisa sudah menikah ini (kalo ngeliat dari foto yang diupload di fb; seperti Nicta Gyna dan Tukul Arwana). Masalahnya bermula dari Mas Ery yang suka nyinyirin jomlo; saya. Kalo ada waktu dan kesempatan. Sialnya, ada terus. Dia bilang saya gak laku lah, homo lah, bukan lelaki sejati. Gila kan?! Kok dia bisa tahu rahasia itu. Haha. Enggaklah. Saya laku, tapi belum. *kemudian hening lama*

Dan, untuk menghentikan prilaku Mas Ery yang gak menyenangkan itu, yang bisa membuatnya kena pasal dan dipidana seperti mbah-mbah yang nyuri ranting pohon tempo lalu, di kesempatan kali ini saya mau klarifikasi bahwa;

Ingat! Sebagai jomlo, saya ini gonta-ganti pasangan setiap harinya; baik, buruk, bahagia, sedih, keramaian hati, kesepian dan lain-lain. Apapun pasangannya sekarang, saya mesti belajar nerima itu dulu dengan lapang dada sebelum mendapat pasangan yang lain (baca; perempuan). Tapi, kalo ada mba-mba yang mau nemenin saya untuk proses menerima itu; ya… why not? Heleh.

Jadi, cukup jelas, ya, Mas Ery. Saya ini jomlo tapi playboy. Gak sembarang. Jadi, jangan sembarang. Haha.

Nyinyiran Mas Ery itu saya anggap cuma kelakar doang untuk nyiptain canda dan tawa. Biar lebih akrab. Selebihnya, saya mau berterima kasih kepada Mas Ery selama setahun ini yang sudah membantu saya. Semoga aja saya ketularan untuk selalu belajar memberi tanpa pamrih. Karena pamrih apa yang sudah saya kasih untuk-NYA yang bisa membuat saya memberi? Nihil.

Mas Ery dari tadi udah dipuji tuh. Ya… tahu dirilah harus bayar berapa (ternyata saya masih minta pamrih) Haha.

Sekian sharing dari saya, thanks maksimal sudah mau mampir dan baca, ya, mba-mas. Kamu juga boleh dong sharing mengenai dunia maya; apa yang buat kamu dekat dengan hal yang sebelumnya jauh atau buat kamu jauh dengan hal yang sudah lama dekat? Tulis di kolom kometar, ya, mba-mas.

Jangan kayak kemarin-kemarin, nulisnya malah di kolom TTS dan kolom susu. Huft.

Pulangmu, Pergiku.



Beberapa dari pembaca (mungkin kamu), ikut bertanggung jawab atas masa sekolah dan kehidupan yang aku alami.


Pulang; yang harus kau ingat, ketika pergi.



A
ku memilih tidak akan pergi untuk pulang. Aku akan menetap sampai yang menetapkanku membuat takdir agar aku tak lagi bisa menetap. Atau jika aku masih bisa memilih, aku ingin melawan takdir yang telah ditetapkan untuk satu keinginan;

Aku tidak ingin pulang. Aku ingin menetap.

Tidak pergi, juga tidak pulang.

“Ayah yang membuatku pergi, Paman. Sekarang, dia minta aku untuk pulang? Lelucon macam apa ini?!” Aku terkekeh.

“Tapi, Ayahmu pernah bilang—“

“Bilang pada Ayah; aku tak punya Ayah,” Cepat dan lantang, aku memotong.

“Kalau begitu, Paman secara pribadi yang memintamu untuk pulang. Sekali, seumur hidupmu. Bisa, kan?”

Aku mendadak gagu. Kumatikan handphone itu dan kubuang ke sembarang arah. Percakapan yang sebentar itu mampu membuatku merenung lama. Menggoyahkan prinsipku selama bertahun-tahun ini.

Aku tidak ingin pulang. Tapi, sayangnya ayah ingin.

***

Manusia yang mengurusiku dari lahir tepat ketika ibu rela menukarkan hidupnya demi aku;

Ayah.

Terakhir kali aku memanggilnya kelas dua SMP. Setelahnya tidak pernah. Bagiku, dia ada tapi kutiadakan. Aku hanya menganggapnya tokoh fiksi yang jarang sekali tampil dalam sebuah cerita. Selama satu tahun, aku berhasil “meniadakannnya” dalam hidupku. Dan di tahun selanjutnya, aku pergi.

Maksudku, ayah yang membuatku pergi.

Di umur 3th, aku kecil menjadi pribadi yang berbeda dengan anak lainnya. Waktu bermainku terlalu banyak dikurangi oleh ayah untuk belajar mengeja dan membaca.

“Kalau kamu jadi orang cerdas, hidup kamu akan mudah,” kata ayah.

“Semudah bermain?” tanyaku waktu itu. Ayah tersenyum dan mengangguk mantap.

Aku dibodohi. Hari selanjutnya, hidupku jadi rumit. Tak ada permainan yang benar-benar kunikmati saat aku bermain permainan. Karena yang ada dalam kepalaku hanyalah huruf-huruf yang tersusun menjadi kata, kata menjadi kalimat dan kalimat menjadi cerita.

Maka, aku kecil lebih dulu bisa membaca dari anak-anak sebaya. Ayah, keluarga, tetangga, mereka semua saat itu mengatakan aku cerdas. Tapi, hidupku makin tidak mudah. Di sekolah, aku malah bosan belajar hal yang sudah kupelajari dan mampu kulakukan. Karenanya, aku lompat kelas beberapa kali.

“Matematika. Ayah tak pernah bosan belajar matematika.”

“Belajar itu membosankan, Yah. Tidak ada permainannya,” Aku mengeluh.

“Belajar itu permainan, Nak. Di Matematika, kita bermain permainan mencari angka-angka yang bersembunyi. Itu lebih seru dari permainan “petak umpet” yang dimainkan teman-temanmu.”

Pernah suatu ketika nilaiku menurun. Ayah menghukumku berdiri dengan satu kaki di bawah pohon besar di pekarangan rumah—tempat di mana orang-orang desa mudah melihatku ketika lewat. Karena tujuannya memang itu, mempermalukan aku.

Maka, aku kecil lebih cepat menghapal perkalian, rumus dan segala bentuk perhitungan yang menghasilkan nilai angka. Selanjutnya, aku belajar bahasa asing dan pengetahuan umum lainnya. Seperti yang ayah mau, pelajaranku menjadi mudah. Ya, semudah bermain permainan.

Tapi, hidupku malah berlaku sebaliknya.

Di sekolah, aku dimanfaatkan teman-temanku (mungkin di antaranya adalah kamu) saat ujian atau semacamnya yang berhubungan dengan pengambilan nilai. Diganggu, diejek dan dikucilkan adalah hari-hari sekolahku. Aku pintar, tapi dimanfaatkan teman-teman yang bodoh. Pada bagian ini, siapa yang pintar, siapa yang bodoh, ayah?

Ayah mungkin lupa, tak pernah mengajarkanku tentang keberanian, menyalakan nyali, cara berkelahi dan cara disegani lawan. Atau aku yang bodoh, tidak bisa memanfaatkan kecerdasanku untuk mengatasi masalah-masalahku sendiri. Sekali lagi, siapa yang pintar dan siapa yang bodoh, ayah? Dari sana, aku tumbuh menjadi pribadi introvert. Temanku tak banyak. Hanya satu; kesendirian.

Di kelas satu SMP, diam-diam aku mempelajari menyalakan nyali. Lewat film, buku, tontonan berita kriminal dan pertengkaran antara ayah dan saudara-saudara ayah. Dari yang terakhir, aku mempelajari cara mengubah cinta jadi benci.

Di kelas dua SMP, nyaliku berhasil menyala.

“Kutu buku!” Ketua komplotan berbadan besar itu datang-datang melempar buku ke arahku. Seperti biasa. “Selesain, ya…”

“Sudah selesai.” Aku balik melempar buku ke wajahnya dengan keras.

Dan kemudian terjadi perkelahian. Aku yang lebih dulu memukulnya. Pada saat itu, aku hampir membunuhnya. Dia dikabarkan kritis di rumah sakit; luka dibagian kepala karena batu. Kemudian dirujuk ke rumah sakit pulau seberang.

Ayah.

Kau tahu apa yang dilakukan pria itu? Memindahkanku ke sekolah lain yang jauh dari rumah. Setelah lulus, ia memaksaku pindah dari rumah ke tempat asing dengan alasan agar aku menjadi mandiri. Bersama kakek, kebencianku terhadap ayah makin menjadi. Apalagi, selama di rumah kakek, ayah melarangku untuk pulang. Sampai aku lulus SMA. Lalu aku memutuskan untuk tidak pernah pulang.

Tapi, sekarang ia ingin aku pulang. Ayah mabuk?

***

Pulang; ada yang kembali, ada yang ditinggal pergi.

Aku mengambil dan menyalakan handphone kembali. “Maafkan aku, Paman. Tidak bisa.” kataku dari telepon. Suaraku parau.

“Kau masih ingat, teman laki-laki yang hampir kau bunuh itu? Yang kau pecahkan kepalanya dengan batu?”

Aku diam saja.

“Ayahmu harus mengeluarkan banyak uang pada saat itu agar masalahmu bisa diselesaikan dengan jalan damai. Dia menggadaikan rumahmu. Itu sebabnya, setelah lulus SMP kau dipindahkan ke rumah kakekmu karena rumah itu terjual. Dan ayahmu bekerja di Negara lain."

“Jangan mengada-ngada, Paman…” Aku tak percaya.

“Kau kira uang jajan, biaya sekolah dan kuliahmu dari siapa? Temanmu, yang kau pecahkan kepalanya itu mati, Ben…”

“Bulshit!” Aku memukul dadaku yang tiba-tiba sesak.

“Tapi, dia menutupi agar kau tak merasa bersalah. Menutupinya dari semua orang. Jika dihitung, berapa harga untuk satu nyawa, Ben? Dia hanya minta agar kau mengumandangkan adzan untuk melepas kepulangannya. Seperti adzannya yang pernah menyambut kelahiranmu.”

Langit-langit atap serasa menimpa kepalaku. Semakin paman terus berkata, semakin hancur tubuhku.

“Setiap hari dia merindukan kepulanganmu semenjak kau pergi. Ada pelajaran yang belum selesai, Ben..." Paman memberi jeda, "kata ayahmu, hidup ini berpasangan. Baik buruk tidak bisa dipisahkan, tapi diterima. Menerima itu kedamaian, Ben. Karena dari kecil, ayahmu tak pernah menggunakan tangannya untuk memukul. Apa kau pernah dipukul, Ben?"

Aku menggeleng. Tangisanku tumpah. Gemetar.

"Jadi, aku tahu benar bagaimana ayahmu bekerja keras mengajarimu agar kau bisa sukses seperti sekarang. Ya, semudah sekarang. Pulanglah, Ben. Sekali, seumur hidupmu.”

Perkataan paman telak menamparku. Meruntuhkan kebencian terhadap ayah dalam waktu sekedip mata. Kemudian penyesalan tertawa puas atas diriku. Raut wajah bahagia berganti menjadi kacau. Aku teringat bermain ayunan sambil menghapal perkalian, dihukum di bawah pohon, dan…

ciuman hangat ayah di sepasang pipiku, di setiap pagi.

“Sudah siap berangkat, Ben?” kata Riko, temanku, kepalanya menyembul dari balik pintu kamar. “Masih ngapalin ijab?”

“Sebentar lagi,” jawabku singkat.

Beberapa menit Riko meninggalkanku, aku juga pergi, meninggalkan calon istriku.

***

Setelah pemakaman ayah, aku berjalan-jalan melewati desa tempat aku tinggal dulu. Rumah itu, pohon di mana aku dihukum dan ayunan tempatku belajar, semuanya belum berubah. Yang berubah hanya keluarga baru yang telah menempati rumah itu.

Dari kejauhan, kulihat anak kecil sedang menghapal perkalian sambil bermain ayunan.

Cernak Dimuat Di Padang Ekspress



Ini Cerita anak perdana yang dimuat di Padang Ekspress. Cerita anak, ya, bukan cerita dewasa. Eh.

Ya, mudah-mudahan aja terhibur. Minimal bisa ngobatin insomnianya. Happy Reading!





Tolong Kancil, Teman!


Kancil berlari dengan kencang memasuki hutan untuk menemui teman-temannya. Ia perlu bantuan Orang Utan, Si Dokter itu untuk mengobati sakit adiknya. Masalahnya, tempat tinggal Orang Utan itu harus menyeberangi sungai yang banyak sekali Buayanya. Dan Kancil tidak bisa menyeberanginya.

“Monyet tolong aku,” kata Kancil dengan napas kelelahan ketika baru saja tiba di rumah monyet. “Adikku sakit. Bisakah kamu menyebrangi sungai untuk memanggil Orang Utan?”

Tapi Monyet malah tertawa. “Kancil, jangan coba membohongi aku lagi seperti waktu itu. Aku tidak mau!” Monyet menolak. Kancil mengingat hari sebelumnya. Ia pernah membohongi Monyet, bilang bahwa Monyet dipanggil Kura-Kura untuk hal penting. Lekas Monyet pergi ke rumah Kura-Kura. Tapi, setiba di sana, Kura-Kura bilang ia tidak pernah memanggil.

“Kali ini aku tidak berbohong,” kata Kancil menyakinkan.

“Tidak. Aku tidak mau tertipu lagi. Pergi saja sendiri sana!” Monyet mengusir.

Kancil putus asa lalu meninggalkan Monyet. Ia berpikir siapa lagi temannya yang bisa menolong. Oh, iya! Anjing baik itu pasti bisa! seru Kancil. Cepat ia kembali berlari menuju rumah Pak Tani, tempat tinggal Anjing. Itu dia Anjing! Kancil melihat dari kejauhan. Anjing sedang menjaga perkebunan Pak Tani. Segera Kancil menghampiri.

“Anjing, kau kan akrab dengan Buaya, bisakah kamu menolong aku untuk memanggil Orang Utan? Adikku sedang sakit,” keluh Kancil.

“Kenapa tidak kau saja?”

“Aku pernah membohongi Buaya waktu itu. Jadi aku tidak mungkin bisa menyeberangi sungai lagi.”

“Aku tidak mau. Kau pasti mau membodohiku lagi, kan? Aku tidak mau tertipu lagi,” tolak Anjing.

“Kemarin saja kau bilang aku dipanggil Pak Tani, tapi setelah kutinggal, kau mencuri mentimun kami. Kau pasti berbohong lagi.”

“Tidak. Aku tidak berbohong. Adikku benar sedang sakit. Kumohon bantu aku…”

“Aku tidak mau. Kau pembohong, Kancil. Sana pergi! Sebelum Pak Tani menghajarmu!” Anjing juga mengusirnya.

Kancil sangat putus asa dan tidak tahu harus meminta tolong siapa lagi. Ia berjalan menunduk dan menangis. Kancil menyesal pernah membohongi teman-temannya itu. Sekarang, ia menerima hukuman, teman-temannya tidak ada yang mempercayainya lagi.

“Hei Kancil! Kau kenapa?” tanya Singa, Si Raja Hutan melihat Kancil murung.

“Jangan dekat-dekat!” teriak Kancil ketakutan.

“Tenang…Aku tidak akan memakanmu. Aku ingin menolongmu. Aku kan Raja di sini. Sekarang, apa yang bisa aku bantu, Kancil? Katakan saja.”

“Tidak! Kau pasti berbohong, Singa. Kamu pasti mau memakanku!”

Kancil berlari secepat-cepatnya meninggalkan Singa. Kemudian ia kembali ke rumah untuk melihat keadaan adiknya. Dilihat wajah adiknya yang pucat dan menggigil kedinginan. Bagaimana ini?! Sakit adikku tambah parah! Kancil mengeluh sendiri.

“Tolong! Tolong!” teriak Kancil.

Tidak ada yang menyahut. Kancil menangis dan benar-benar menyesal. Tidak ada yang mempedulikan dia.  Beberapa saat kemudian, Singa datang dengan Anjing, Monyet, Orang Utan serta binatang hutan lainnya.

“Maafkan kami, Kancil. Kami mengira kamu membohongi kami lagi,” Anjing dan Monyet memeluk Kancil.

“Tidak. Aku yang minta maaf kepada kalian karena sering membohongi kalian. Maafkan aku, ya. Terimakasih sudah menolongku,” kata Kancil.

“Berterimakasihlah kepada Singa. Singa yang menanyakan kami masalahmu dan Singa juga yang memanggil Orang Utan.” Monyet menjelaskan.

Kancil tambah malu. Barusan saja ia menuduh Singa akan memakannya. Ternyata tidak begitu. Kemudian Kancil meminta maaf kepada Singa dan berterimakasih kepada semua teman-temannya. Ia berjanji kepada diri sendiri agar tidak pernah membohongi teman-temannya lagi.



Untuk Alpukat dan Es Kacang Merah, selamat ulang tahun, ya...)