Paedofil “Bermoral”



“Rey, apakah kamu menyukai anak-anak lebih dari seharusnya?”

Aku menyesal telah bertanya seperti itu kepadanya. Di kamar yang berantakan; baju-baju kotor berserakan, bekas botol bir dan tumpahannya yang sudah mengering, lengket di lantai, bau apak dan alkohol tercampur jadi satu. Benar-benar komposisi menjijikan!

Jujur, aku agak gemetar. Merinding. Kami duduk bersilang di atas ranjang.

Dia menggeleng.

Hening. Ia menatapku dan aku jadi gelagapan. Menatap ke arah lain; jendela kaca, baju yang berserakan, botol bir dan… sebuah kado bermotif Superman di kolong kursi. Aku jadi ingat perayaan ulang tahun keponakanku.

Saat nyanyian selamat ulang tahun menggema dalam ruangan yang cukup besar. Kebahagiaan menyala dengan amat terang; Rey malah pergi seperti lilin kue ulang tahun yang ditiup padam. Sahabatku itu lenyap tak menyisakan bayangan. Selama tiga tahun lebih.

Tapi, kini aku melihatnya lagi dengan amat kacau; mata sembab, rambut berantakan, bau tak enak.

Aku menemukan Rey dari cerita ibu penjaga warung yang merasa aneh dengan seseorang yang tinggal di dekat rumahnya selama ini.

“Dia jarang keluar rumah, Mas. Keluar rumah palingan cuma beli makanan aja.”

“Lalu?” tanyaku.

“Udah seminggu ini ibu nggak liat dia—“ jeda. Mungkin ia berpikir sejenak. “Pokoknya orang itu aneh, Mas. Kalo ketemu anak-anak dia cepet-cepet ngehindar—“

Belum habis ceritanya, tapi aku sudah tahu siapa itu. Aku berlari menuju rumah itu dan mendobrak pintunya. Brak! Mencari sekeliling ruangan; tak ada. Lalu mendobrak pintu kamar dan menemukan Rey sedang bersiap gantung diri. Aku berlari, mendorong dan menghajarnya sampai ia jatuh tersungkur.

Setelah adegan itu kami saling diam selama kurang lebih dua jam. Lalu aku bertanya dan menyesal telah bertanya seperti itu.

“Menurutmu; apa aku kelihatan berbeda?” Rey balik bertanya. Mengagetkanku.

“Apa?” Aku pura-pura tak mendengar. Memikirkan kenapa ia bertanya seperti itu.

“Ya, aku suka anak-anak,” Dia mengangguk-angguk. Air mata membelah pipinya, “lebih dari yang seharusnya.”

Kali ini ia tertawa. Tawa seperti mentertawakan kesedihan dalam dirinya sendiri. Tawa tanpa suara. Sebatas ekpresi saja.

“Dari mana kamu tahu aku berbeda? Apa perbedaan itu terlihat terang, Sen?” Ia mengulang tawa itu lagi. “Ah, ya. Kamu pecinta Sherlock Holmes. Kamu Sherlock Holmes.”

“Maaf. Bukan—“

“Seno memang penyidik hebat!”

Aku tak pernah membayangkan hal ini. Pertanyaan awal itu menciptakan ngeri dalam dada sendiri. Bayangkan saja, hanya ada dua orang di kamar ini. Satu, adalah penyidik yang tak pintar benar berkelahi. Satunya lagi, orang yang memiliki penyakit cukup menakutkan. Dan dua jam yang lalu, ia mencoba bunuh diri. Dalam keadaan kacau begini salah satu atau keduanya bisa saja mati. Ada yang membunuh atau terbunuh.

“Kamu boleh membawaku ke kantor polisi, Sen. Tapi, sebelum itu, tolong dengarkan ceritaku.”

Aku mendongak ke arahnya.

***

Apakah kamu pernah melihat anak jalanan sambil memegang gitar kecil, bernyanyi dengan suara pas-pasan saat lampu sedang merah? Bukannya menghibur malah terdengar memusingkan kepalamu yang sudah penuh dengan masalah. Karenanya, ada seseorang yang dengan cepat menutup kaca mobil, memaki entah itu dalam hati dan yang lainnya mengisyaratkan dengan tangan “Pergi! Daripada gua hajar, palak lo benjol!”

Tolong, maafkanlah mereka.

Anak-anak jalanan dengan baju lusuh dan bau busuk menyengat. Karenanya, seseorang menutup hidung mungkin itu kamu dan pastinya bukan aku. Karena aku pernah menjadi anak jalanan itu.

Kami terlahir entah karena mewarisi karma atau entah ada dosa dalam diri yang membuat kami menjadi anak jalanan yang malang. Harus bekerja mencari uang untuk disetor kepada kepala pemimpin di bawah jembatan atau tempat-tempat tersembunyi yang tak pernah kamu tahu.

Anak-anak jalanan itu lahir karena orang tua yang tak bertanggung jawab atau kehidupan ekonomi atau apapun alasannya yang semua itu bukanlah benar. Karena yang benar selalu samar dan yang salah selalu bisa menyamar jadi benar.

Aku; anak yang dijual kepada kepala pemimpin untuk menjadi anak jalanan. Bolehkah aku membuat pernyataan bahwa tak semua orang tua berhak punya anak? Tetapi, Tuhan yang tak pernah kusangkal keberadaannya menciptakan hal semacam itu. Dan, aku terlalu dangkal untuk melihat makna kenapa semua ini terjadi kepadaku.

Aku dilecehkan. Disodomi oleh kepala pemimpin. Tak cuma sekali dan tak cuma oleh satu orang. Setelah dewasa aku berhasil keluar dari pekerjaan itu. Tetapi, menjadi sakit; ketertarikan seksual hanya pada anak-anak.

***

“Sen,” ia menggenggam tanganku. Sumpah! Aku benar-benar takut dan gemetar sekarang. Tak bisa kusembunyikan. “Aku memiliki ketertarikan hanya pada anak-anak! Selama dua puluh tahun aku menahan keinginan seksualku ini. Rasanya sakit! Aku berani sumpah belum ada korban. Karena aku tahu, betapa lebih menyakitkan hal itu. Jadi, tolong sembuhkan aku, Sen…”

Rey menggenggam tanganku lebih erat. Air matanya sudah jatuh, bukan hanya membasahi pipinya. Tapi hatiku. Sesak mendengarnya.

Aku menggeleng. Tak bisa melakukan apapun. Dan tak mengerti tentang ini.

“Apakah aku harus dikebiri, Sen? Nggak ada cara lain?” Ia mengguncangkan bahuku. Lagi-lagi aku beku.

“Kamu tidak akan ke kantor polisi atau dikebiri, Rey,” kataku mencoba meredakan apa-apa yang terasa tak enak. “Saya akan pikirkan caranya. Kamu pasti sembuh. Tapi, bukan bunuh diri. Ngerti? Kamu bisa sabar, kan?”

Rey berterima kasih dan mengiyakan. Kemudian kami membereskan kamar dan memar di pipinya.

***

Aku selalu menyempatkan diri mengunjunginya setiap hari. Satu bulan. Tiga bulan. Masalah Rey belum juga terpecahkan. Kondisinya buruk. Badannya kurus.

Tapi, di bulan ke-empat ia terlihat lebih bahagia daripada sebelumnya.

“Sen,” katanya suatu ketika, “ Tuhan sudah menanam penyakit ini. Itu artinya, penyakit ini adalah bagian dari diriku. Yang mesti kulakukan hanyalah menerima. Terima tapi tidak hanyut. Mungkin penyakit ini ada karena dosa yang pernah kulakukan dan nggak kusadari. Aku menerima diriku. Aku memaafkan aku. Kamu nggak perlu repot ke sini lagi.”

Hari Jum’at pagi, aku menemukan slogan iklan dalam bahasa Jerman dari Dunkelfeld Prevention Project yang bunyinya;

    "Apakah Anda menyukai anak-anak lebih dari seharusnya? Kini ada pertolongan."

Cepat-cepat aku mengunjunginya. Ini berita penting! Menurut ahli perawatan radikal untuk paedofil, Rey adalah kategori paedofil selibat atau “bermoral”; sebatas ketertarikan seksual bukan tindak kekerasannya. Banyak testimoni yang menyatakan paedofil bisa disembuhkan dengan terapi dan kemauan kuat.

"Ini serius?" Rey tak percaya.

"Tentu. Jadi, kapan kita berangkat?"

"Kita?"

"Selama ini, aku juga menghindari anak-anak. Bedanya, aku lebih pintar menyembunyikan."

Rey melongo. Beberapa saat kemudian ia menepuk bahuku.


Menulis Hujan



Kenangan itu serupa langit yang menurunkan hujan; tak bisa dicegah, tak bisa dihentikan. Dinikmati saja sampai ia reda dengan sendirinya.

Aku tidak menulis kisah orang lain. Aku menulis kisah Hujan; pemuda yang menjalani proses rumit dalam hidup.

1.

Di usia TK, ayah Hujan pergi meninggalkan ia dan ibunya untuk menikah lagi. Sehari setelah kepergian ayah dari rumah; ibunya gantung diri. Jadilah, kakek dari ibunya yang mengurusi.

“Kenapa saya diberi nama Hujan? Nama yang aneh.”

“Mulutmu itu!” kakek menjawil bibir mungilnya. “Hujan itu rezki Tuhan yang suci. Mutlak.”

“Tapi, Mbah Laseh bilang; hujan bisa bikin sakit.”

“Tidak semua. Yang bikin sakit itu hujan panas. Hujan waktu langit sedang cerah-cerahnya. Hujan panas itu pertanda ada yang meninggal. Kamu bukan hujan jenis itu. Kamu hujan setelah kemarau bertahun-tahun. Berkah.”

Hujan ingat betul percakapan waktu itu. Esok siangnya, air hujan jatuh saat langit sedang cerah-cerahnya. Tepat setelah kuburan kakek ditaburi bunga. Langit ikut sedih atas kematian kakek. Maka, Hujan harus rela diasuh oleh Made, teman ibunya di Bali. Dari sana, ia dewasa dengan melukis.

Tapi, semakin berjalan usia, ia merasa ada yang tak beres dalam hidupnya. Ia selalu mengenang masa lalu dan banyak memikirkan hal yang belum terjadi. Dalam dirinya, tak pernah ada yang namanya kini. Seperti pada pagi ini, ia sembunyi di antara dua batu karang besar di bibir laut dengan satu buku novel setebal 4.215 lembar di genggaman. Terbaca In Search of Lost Time, Marcel Proust. Dua tahun yang lalu, Rena—pacarnya yang memberikan novel itu.

“Maaf,” kata Hujan menolak sopan, “kamu tahu saya nggak suka baca yang terlalu panjang. Daripada buku ini jadi debu atau dimakan rayap. Sia-sia.”

“Cuma 4.215 lembar, kok.”

“Hah?” Ribuan lembar dibilang cuma. Untung saja Rena kekasihnya. Hujan mengusap dahi yang sudah berkeringat dari tadi. Ombak laut mengisi jeda percakapan mereka.

“Kamu harus hargai penulisnya, dong!” Rena kembali menyodorkan buku itu. Hujan tak langsung menerimanya. Ia menatap Rena dalam, hampir tenggelam.

“Setelah menikah, kamu beneran langsung cerai, kan?”

“Terima dulu bukunya. Satu hari baca satu lembar.”

Terpaksa, Hujan menerima.

“Ya, kan, Ren?” Hujan mengulang lagi.

2.

Perbedaan selalu dipermasalahkan dan didebatkan. Tak ada habis-habisnya. Malah, dari sana timbul hati yang terluka. Di ruang tamu berdekorasi klasik, kursi ukiran lama yang mengkilap dan bau kayu cendana tanda rumah sudah tua, perbedaan itu ditampakkan.

“Saya serius menjalin hubungan sama anak Bapak. Dan saya siap menikahinya.” ikrar Hujan di depan keluarganya (pada saat itu ada kedua orang tua, dua kakak perempuan beserta suaminya dan satu orang tak Hujan kenal)

“Bapak hargai maksud kamu. Tapi...” Tak pernah ada yang suka mendengar kata tetapi setelah sebuah penghargaan. “Tidak bisa. Kamu belum punya pekerjaan.”

“Saya bekerja sebagai pelukis.”

“Berpenghasilan tetap?”

Semua orang ingin tetap. Tak ada perubahan-perubahan yang tak diinginkan. Tetapi, apa yang tetap? Semuanya bergerak dari detik ke detik. Hujan sangat tersinggung. Ingin dia utarakan pendapatnya itu tapi tak ada kesempatan. Bapak Rena lebih banyak menuding.

“Tidak, kan?” vonis bapaknya. Lebih kepada merendahkan.

Hujan mengangguk positif.

“Tidak cuma itu. Lukisanmu juga belum memiliki pelanggan setia. Ya, kan?”

 Lagi, Hujan mengiyakan.

"Ini Bayu," Ditampilkan orang yang tak dikenal Hujan di percakapan itu. "Dia pengusaha batu bara. Muda, mapan dan sukses."

Hati Hujan pilu. Ia sudah cukup tahu bahwa ini penolakan kasar.

"Kalau boleh tahu; apa cita-cita Bapak sewaktu kecil?" tanya Hujan ramah. Bapaknya tertawa.

"Pilot. Kenapa?"

"Tidak terwujud, kan?"

Pernyataan itu menghadirkan keheningan paling sunyi. Hujan beranjak dari kursi dan lantas pergi. Ketika Hujan keluar dari rumah Rena, terbesit harapan agar langit yang sedang cerah-cerahnya itu menurunkan hujan. Pertanda untuk Bapak Rena. Tapi, sayangnya itu tak terjadi.

3.

Di antara dua batu karang itu, Hujan mengenang Rena lagi. Selalu. Pagi ini, ia sudah membaca sampai halaman 4.215, yang itu artinya; hari ini ia mengkhatamkan novel terpanjang yang pernah ia baca. Meskipun banyak kata dan kalimat yang tak ia mengerti.

Hujan berjalan mendekati air laut. Suara keras debur ombak yang menghantam batu-batu karang tak juga bisa meredam kenangan yang berputar di kepalanya itu. Lagi, seperti hujan, kenangan itu jatuh tanpa bisa dicegah.

“Setelah menikah, kamu beneran langsung cerai, kan?”

“Terima dulu bukunya. Satu hari baca satu lembar.”

Terpaksa, Hujan menerima.

“Ya, kan, Ren?” Hujan mengulang lagi. Rena berjalan menjauhi Hujan. Sesekali ia menendang air laut entah untuk apa. Hujan mengejar. Mendapati tangan Rena.

“Jawab, Ren.”

“Aku tidak tahu.”

“Apa harus saya yang kasih tahu cara agar bercerai? Atau yang mengurusi perceraian? Apa susahnya, sih, buat kesan calon suamimu itu bersalah agar hubungan kalian berantakkan?”

“Aku pasrah, Sayang. Jalani apa yang ada sekarang. Jadi lakon.”

“Lalu untuk apa kamu ke Bali, ke sini, nemui saya?”

“Perpisahan.”

Perlahan, Rena melepaskan diri dari genggaman tangan Hujan. Sebaliknya, ego Hujan untuk memiliki Rena, masih kuat, tak mudah dan tak mau lepas.

“Kita mesti sama-sama belajar untuk nggak mengharap apapun saat mencintai atau memberi. Cuma itu satu-satunya cara biar nggak ada yang namanya patah hati. Kecewa.”

“Nggak bisa, Ren. Semua udah terlanjur.”

“Belajar, Sayang.”

“Jangan panggil 'sayang' kalau pada akhirnya kita nggak bisa bersama. Kamu tahu, ini menyakitkan, Ren.”

“Ya. Kita nggak bisa bersama,” Rena lebih dulu menitikan air mata. “Nggak akan pernah!”

Kemudian Rena meninggalkan Hujan sendirian bersama remah-remah kehancuran. Langit berubah mendung. Tak perlu hitungan menit, ia menumpahkan kesedihan. Air dari langit dan air dari kedua mata Hujan saling berlomba; siapa yang lebih dulu reda?

4.

Tamat.

Novel yang dibaca Hujan akhirnya selesai juga. Tak ada tulisan Rena di selembar kertas pada bagian akhir novel itu. Tak ada jejak apa-apa yang ditinggalkan Rena dalam buku itu. Juga tak ada kabar tentang Rena setahun ini. Lagi-lagi harapan Hujan patah. Sunyi di dalam hatinya terasa tambah nyeri. Perpisahan itu benar-benar menjadi yang terakhir antara mereka. Dan buku tebal yang ada di tangan, tak cukup menyembuhkan lukanya.

Hujan mendekati air laut. Siapa tahu, laut bisa melarutkan kepedihannya itu.

Tiba-tiba, langit yang sedang cerah-cerahnya menurunkan air hujan. Ini yang namanya hujan panas kata kakek tempo dulu.

Tapi, siapa yang meninggal?
 

Tanpa tersadar, Hujan sudah mendekati air laut sampai seluruh tubuhnya tenggelam.

Aku tidak menulis kisah orang lain. Aku menulis Hujan; pemuda yang menjalani proses rumit dalam hidup.

Teman Paling Setia



Dewasa ini, Mbah-mbah nggak seperti anak-anak lagi.

Pembukaan macam apa itu. Maap. Abaikan!

Dalam hidup, ada sebuah titik di mana kita memiliki waktu dan keadaan sendiri. Nggak ada orang lain, temen-temen, kecuali diri sendiri. Itu yang saya alami pagi ini. Orang-orang sibuk dengan kehidupannya masing-masing, temen-temen sibuk dengan urusannya masing-masing, keluarga sedang nggak di rumah. Mau telpon atau chat temen takut ganggu, mau ngelamar perempuan biar rame tapi nggak tahu siapa itu. Kamu bacanya terharu nggak, Mbak?

Maka, nggak ada temen lain yang bisa nemenin saya pagi ini selain minuman hangat. Kali ini, saya pilih kopi. Segelas aja cukup. Ngomongin tentang temen, kopi punya ikatan yang cukup kuat bagi saya.

Seingat saya, entah malam apa rumah saya kedatangan tamu yang nggak lain; tetangga atau temen-temen kakak. Spontan saya bangun karena denger suara gitar yang dimainin salah satu temennya. Suaranya nggak besar memang, tapi telinga saya cukup peka kalo denger yang begituan.

Di satu ruangan, mereka asik ngobrol dengan makanan cemilan dan beberapa gelas kopi di atas meja. Karena nggak bisa tidur, saya ikut nimbrung masuk ke dalam obrolan. Dari obrolan itulah, pertama kali saya menyentuh dan berkenalan dengan kopi secara “serius”.

Kopi memang wataknya pahit. Tapi, di sisi lain dia selalu jadi bagian paling manis, antara lain di sela-sela obrolan akrab; mencecap kopi adalah jeda obrolan paling nikmat. Kopi juga berperan penting di waktu sibuk bekerja; dia bisa bikin melek dan bekerja lebih selo. Atau saat sendiri; kopi bisa mencegah kamu bunuh diri. Hahapaan ini.

Karakter kopi itu tulus. Dia mau nemenin kita dalam keadaan senang atau sebaliknya. Saat diri sendiri sedang baik atau sebaliknya. Saat sedang jaya atau bokek-bokeknya. Kopi emang temen yang nggak pilih-pilih kasta, fisik atau jenis kelamin kita. Semua sama dihadapan kopi. Beh…

Itu salah satu hal yang buat saya suka kopi. Walaupun di sudut lain ada yang pro dan kontra soal kopi, itu bukanlah masalah. Tiap orang memiliki definisi kopi beda-beda. Baik atau buruk. Dan, perbedaan ada bukan untuk didebatkan.

Tapi bagi saya sekarang, SEKARANG; terkadang kopi mampu menjadi temen paling setia lebih dari yang bisa manusia atau temen-temen lain lakukan. Kopi; temen paling setia selain diri sendiri. Kopi; temen yang lebih setia dari kamu.

Selamat ngopi…

Ngopi tugas-tugas kuliah. Eh, bukan ngopi yang itu, Mbak!

Alasan Ayah Tidak Menikah

foto by Google

Aku mencintainya tanpa bisa diukur dengan luas samudra, kedalaman laut atau ketinggian puncak Everest. Semuanya itu tidak lebih dari debu dibandingkan dengan cinta yang kumiliki ini.

Dengan cinta, aku bisa terbang menembus langit paling tinggi juga bisa jatuh ke paling dasar perut bumi.

Tapi di keduanya, kamu hadir menyelamatkanku.

Hari ini adalah hari yang sudah ditentukan jauh-jauh hari sebelumnya; saat kita berjalan santai bersama pada pagi yang sejuk di sepanjang jalan yang dipayungi pepohonan. Ayah tak menyangka pertumbuhan usia kamu seperti laju kereta api yang amat cepat, tak terasa dan tiba-tiba saja sudah sampai. Kamu akan segera menikah, dan itu artinya ayah bakal kembali sendiri. Sepi; melakukan segala sesuatu yang tak melibatkanmu.

“Aku akan sering-sering mengunjungi Ayah. Ayah tenang aja.” katamu saat kita beristirahat di bibir jalan.

Kesepian seperti apa yang bikin tenang, Nak? Karena rindu lebih banyak dinas di waktu sepi. Meskipun ayah sudah tua, tapi masih tahu jarak Jakarta dan Bali bukan sepanjang lengan.

“Tenang? Memang ayah kelihatan panik, ya?”

Kemudian kamu tertawa, anak gadis paling manis. Andai kamu tahu, seberanjak tua apapun dirimu nanti, kamu tetap anak gadis paling manis di mata ayahmu ini. Ayah tersenyum.

“Boleh aku bertanya?”

“Belum dibolehkan saja kamu sudah bertanya, Nak.”

“Aha…iya." Ada sedikit jeda. Sepertinya kamu berpikir. "Kenapa Ayah tidak menikah?”

Pertanyaanmu selalu sulit dijawab. Dari kecil, dari pertama ayah melihatmu, isi kepalamu memang berbeda dengan yang lain. Di kepalamu itu seperti ada buku sebanyak di dunia dikumpulkan jadi satu. Ah, siapa lagi yang bisa meninggikanmu kalau bukan ayahmu ini, Nak. Ayah jadi ingat pertama kali menemukanmu.

Waktu itu umur ayah 30 tahun. Laki-laki bercelana jeans robek. Pemabuk. Tapi, tetap tidak suka makan velg motor. Itu artinya ayahmu ini masih waras saat menemukanmu meski dalam kondisi setengah sadar. Dari kejauhan ayah sudah melihat ada anak kecil berdiri di bibir jembatan jalan panjang. Kamu memegang besi pembatas sembari memandangi sungai deras di bawah. Ayah berpikir kamu akan loncat dan tamat.

Karena itu ayah percepat jalan yang memang sudah sempoyongan itu untuk menyelamatkanmu. Tapi, sesampai di dekatmu, kamu malah santai dan tersenyum kepada ayah.

“Besar nilai Ibu atau nilai surga?” Kamu langsung bertanya seperti itu. Ayah yang melihat tubuhmu berbayang-bayang tertawa terpingkal-pingkal dengan botol bir di tangan. Orang mabuk kamu tanya seperti itu.

“Telapak kaki Ibu itu kan bagian paling bawah. Apa surga serendah itu?” Pertanyaan pertama belum ayah jawab, kamu melempar pertanyaan kedua lagi. Tambah lucu.

“Menurut pemabuk; kenapa surga ada di telapak kaki Ibu?”

Pertanyaanmu yang terakhir membuat ayah terdiam. Bir di tangan jatuh dan pecah di aspal. Bersamaan itu juga ada kepingan-kepingan yang berserakan di dalam diri bernama kenangan yang ayah coba pungut kembali. Kamu sekejap membuat ayah mengenang. Dan ayah merasa menemukan cinta di depan mata. Cinta baru yang bertubuh mungil dengan baju gaun dan senyum amat manis. Lalu ayah bawa pulang dengan bergandeng tangan.

“Aku diturunkan Ibu dari mobil dan ditinggalkan di tengah jalan itu. Ibuku, surgaku. Aku kehilangan itu.” ceritamu saat kita sudah sampai di rumah.

“Berapa umurmu?”

“7 tahun.”

“Wah…kamu besok masuk sekolah. Malam ini, ayo kita cari Ibumu!” Ayah menarik lengan mungilmu itu. Tapi, kamu berusaha menahannya.

“Aku paham dan mengerti. Ibu sudah membuangku. Itu artinya, aku tidak ada artinya lagi.”

Kata-katamu menghilangkan kata-kataku. Tak ada lagi yang bisa ayah katakan dalam keadaan sedikit mabuk itu. Ruangan dikuasai keheningan. Hanya ada bunyi kipas angin.

Dan selanjutnya ayah mengangkatmu menjadi anak. Kamu bilang kamu yang beruntung. Tapi, sebenarnya ayah, sayang. Kamu mengajarkan pada ayah agar tidak kalah dengan hidup.

“Kenapa kamu mau tinggal dengan saya?” tanya ayah suatu ketika. Ayah ingin mendengar jawaban yang mengejutkan dari bibir mungilmu itu.

“Karena pemabuk itu tidak ada yang mengurusi. Hehe.”

Kamu berhasil membuat ayah senang.

“Ayah?” Kamu mengibaskan tangan, menyadarkan lamunan ayah. “Aku serius. Kenapa ayah tidak menikah? Ayah masih tampan, kok.”

Kamu meraba wajah ayah. Pertanyaan ini sama sekali tidak menarik.

“Ayah akan ceritakan di hari Sabtu. Pulang, yuk! Ayah pingin ngopi.”

***

Hari ini adalah hari yang sudah ditentukan jauh-jauh hari sebelumnya. Hari ini adalah hari Sabtu. Kita sudah duduk santai di kursi sederhana sembari menunggu matahari terbenam. Sudah ada dua gelas kopi di meja. Kamu diam saja. Ayah bingung harus memulai cerita dari mana, Nak. Ayah bukan penulis sepertimu.

“Jadi, gimana ceritanya, Yah?”

Nah, kenapa tidak bertanya dari tadi.

***

Pada waktu SMA, ayah menyukai perempuan. Namanya Nina. Ia perempuan paling pintar di kelas. Dan yang lebih penting, ia pintar merawat senyumnya untuk ayah. Hari-hari sekolah ayah amat membahagiakan, tapi berhenti manakala tiba kelulusan.

“Aku tidak kuliah di Jakarta. Keluarga kami akan pindah.”

Hati ayah menciap-ciap. Tidak ingin. Tapi, tidak ada yang bisa dilakukan. Ayah mengangguk. Pasrah.

Setahun kami masih berkomunikasi dengan baik meski dalam jarak. Tapi, di bulan berikutnya ia minta putus.

“Ini nggak adil!” Ayah protes.

“Ibu yang menginginkannya. Aku nggak bisa nolak kalau Ibu yang minta.”

“Oke, kita bubar. Berhenti pacaran. Tapi, kita masih bisa berkomitmen. Kita masih satu rasa.”

“Untuk apalagi?”

“Kenapa masih tanya, sih?”

“Pacaran atau nggak, dua-duanya enggak ada artinya lagi. Pada akhirnya aku nggak menikah dengan kamu. Aku sudah dijodohkan.”

Ayah gelimpangan mendengarnya. “Kapan?”

“Minggu depan.”

“Saya akan ke sana.”

“Untuk apalagi, sih?”

Ayah memutus panggilannya. Minggu depan adalah waktu yang amat mepet jika ingin mengumpulkan uang untuk membeli tiket pesawat. Ayah tidak mampu. Maka pernikahan itu tidak jadi kacau. Malah sebaliknya; pernikahan mereka meriah dan membahagiakan. Kata teman ayah.

***

“Kemudian Ayah frustrasi dan menjadi pemabuk?” katamu menerka.

“Kemudian ayah menemukanmu.”

“Dan pensiun jadi frustrasi,” Kamu meneruskan.

“Dan pensiun jadi pemabuk,” Ayah menambahkan.

“Ayah sangat mencintai perempuan itu, ya?”

Ayah mengangguk. “Ayah sangat mencintaimu.”

***

Di hari pernikahanmu segalanya berjalan dengan amat lancar. Keluarga baru kita amat berbahagia dengan pernikahan ini. Diam-diam ayah keluar dari kerumunan dan mencari tempat untuk menyendiri. Menyalakan sebatang rokok dan menikmatinya pelan-pelan.

“Aku minta maaf,” kata Ibu mertua barumu yang diam-diam mengikuti ayah dari belakang.

“Semua sudah terjadi. Nggak ada yang salah, Nina.”

“Nggak ada juga yang bener?”

“Tuhan?” Ayah tersenyum. “Menuruti perintah Ibu itu hal yang baik. Buktinya pernikahan kamu membahagiakan.”

“Menurutmu; kenapa surga terletak di telapak kaki Ibu?”

Pertanyaan ini lagi. Pertanyaan sebelum Nina memilih menikah. Pertanyaan ini juga yang membuat ayah mengangkatmu menjadi anak.

“Karena yang ada di hati Ibu; itu kita.”

“Kenapa kamu nggak menikah, Dimas?”

“Karena kamu menikah, Nina.”

Ayah mengakhiri riwayat rokok yang belum tandas. Tak kuat ayah mengobrol dengannya. Itulah alasan ayah tidak menikah.

Aku mencintainya tanpa bisa diukur dengan luas samudra, kedalaman laut atau ketinggian puncak Everest. Semuanya itu tidak lebih dari debu dibandingkan dengan cinta yang kumiliki ini.

Dengan cinta, aku bisa terbang menembus langit paling tinggi juga bisa jatuh ke paling dasar perut bumi.

Tapi di keduanya, kamu hadir menyelamatkanku, Anakku.

Aku tak terbang terlalu jauh, juga tak hancur di dalam jatuh.

Selamat menikah, berbahagialah bahkan sampai maut pun tak bisa menghentikan.