Cara Mudah Membuat Novel ala Devi Eka, Penulis Buku Aku Menunggumu.
Malam minggu kemarin, saya mendadak ingin mewawancarai salah satu penulis yang sudah menerbitkan 3 novel romance dan cukup tenar. Sekarang ia sedang menggarap novel ke empat.
Mungkin lebih tepatnya ini bukan wawancara, ya. Karena saya sama sekali enggak nyiapin pertanyaan-pertanyaan seperti Mba Najwa Shihab di Mata Najwa itu.
Oh, ya. Narasumber yang saya pilih adalah mba-mba kece asal Purworejo. Yap. Namanya, Devi Eka. Entah kenapa, malam minggu saya kali ini jadi berasa seperti reporter Lejel TV. HEHE.
Pembahasannya seperti judul; cara mudah menulis novel ala Mba Devi Eka, penulis buku Aku Menunggumu, Morning Gloria dan The Love is Not Blue. Tanpa saya duga sebelumnya, obrolan ini jadi amat menarik dan seru.
Jadi, buat kamu yang pernah punya rasa kesal dengan jawaban dari pertanyaan “Bagaimana menulis novel? Ya, menulis,” pembahasan ini bakal mengobati kekesalan itu.
Silakan menyimak dan masuk ke dalam obrolan kami.
Kenapa Mba Devi Eka kalo diam enggak berbicara?
Aku diam bukan berarti gak bicara kok. Aku bicara dari hati ke hati.
Pertanyaan macam apa ini…
Oke. Serius, ya.
Apa sih yang Mba Devi Eka persiapkan sebelum menulis novel?
Sebelum mulai menulis novel, hal yang biasa aku lakukan buat kopi dulu. Biar pikiran lebih encer. Nah, baru setelahnya siapin pulpen dan buku. Ya, aku menulis di buku terlebih dulu untuk membuat outline atau kerangka cerita (kalau bahan-bahannya sudah siap). Biasanya lebih suka duduk di atas kasur dengan bantal sebagai sandaran kepala.
Apa saja yang ditulis dalam outline?
Karakter tiap tokoh.
Mulai dari kebiasaan, sifat, kelebihan, kekurangan? Gitu, ya?
Ya. Juga dengan model rambut atau gaya berpakaian tokoh. Sampai dia seolah hidup. Biar lebih mudah, perlu adanya tokoh asli. Entah itu artis, anime, atau orang di sekitar kita. Supaya bila suatu hari kita lupa karakter tokoh-tokoh cerita kita ini, bisa dilihat lagi ciri-cirinya.
Dalam outline juga yang ditulis pokok-pokok cerita tiap bab. Dari Bab awal sampai akhir. Usahakan cerita yang akan ditulis jangan melenceng dari outline yang udah dirancang.
Jangan selingkuh dari outline! Karena bisa-bisa cerita gak kelar-kelar. Sebelum nulis outline, siapin dulu bahan-bahannya.
Bahan-bahan dalam menulis novel itu…
1. Tema dan Premis
Seperti yang kita tahu, tema itu ide pokok
cerita, sedangkan premis adalah ide cerita yang lebih menyempit. Misal, tema;
cinta diam-diam. Premis, cinta diam-diam antara si bisu dan si tuli.
Tapi, pertanyaannya; bagaimana memilih atau
menentukan tema, premis untuk calon novel kita?
Jangan cari tema yang jarang ditulis orang.
Karena kuyakin enggak ada tema yang bener-bener fresh atau yang baru. Maksudku,
sederhana saja; cari tema yang familiar tapi poles dengan ceritamu yang unik.
Kalau premis, bisa didapet dari menggabungkan
dua hal yang berbeda dan gak berkaitan sama sekali. Contohnya; Korea dan Kuda
Lumping. Itu kan dua hal yg berbeda, tapi bisa diolah dalam satu cerita. Maka
tercipta keunikan itu.
Trik gabungin dua hal berbeda jadi satu
ini yang buat beda dan unik atau khas tiap-tiap novel? Begitukah, mba?
Ya. Itu salah satu cara membuat novel kita beda
dari yang lain. Bisa juga menjadikan itu ciri khas penulis. Tapi, gak semua penulis
memakai cara itu. Bisa dengan penulis menuliskan ceritanya
menggunakan gaya bahasa yang beda dari penulis lain. Misal dengan sedikit
berpuisi atau dengan menggunakan alur campuran. Bisa juga
dengan menggunakan subyek yang jarang ditulis orang; cinta segitiga antar
kucing, misal.
2.
Alur
Jika ada yang belum tahu, alur adalah
peristiwa-peristiwa yang membentuk jalan cerita. Secara garis besar ada tiga
macam alur. Alur maju, alur mundur, alur maju mundur cantik-cantik.
Gimana, sih, menata alur cerita biar
menarik dan bikin penasaran pembaca? Atau sekaligus penulis juga? Hehe.
Hehe. Menurutku alur yang bagus dalam novel itu
adalah alur campuran. Jadi pembaca seperti diajak naik roller coster ketika
cerita dimainkan. Seru, tegang, menyenangkan. Inget! Alur campuran gak selalu
berawal dari alur maju, lalu alur mundur dan alur maju lagi. Bisa divariasikan.
Bisa dengan alur maju, lalu alur mundur, alur mundur lagi, baru alur maju.
Usahakan ceritamu mengalir, gak loncat-loncat tanpa adanya penanda.
Kurang jelas sama ngalirin cerita biar gak
loncat2 dan kasih penanda itu gimana? Bisa disederhanain lagi? Diberi contoh
mungkin?
Cerita yang mengalir itu yang nyambung tiap
kalimatnya. Jangan awal kalimat, misal; bercerita di Korea lalu kalimat berikutnya
bercerita tentang Italia. Gak nyambung kan? Nah, jadi buatlah kalimat yang
ngalir.
Kalau alur cerita yang loncat-loncat itu misal
scene 1 menceritakan tentang setting sekarang, lalu di scene kedua bercerita
tentang masa lalu tanpa ada pemberitahuan itu kejadian berapa bulan atau tahun
yang lalu.
Iya. Penanda itu misalnya begini;
Tiga tahun yang lalu..Bla..bla..bla..
Perlu diketahui, penanda itu bisa dengan setting
tempat, bisa dengan setting waktu, bisa dengan yang lainnnya.
3.
Ending
Nah, bagian ini yang paling saya suka saat
menulis novel. Tapi, sayangnya sampai sekarang tulisan saya belum juga sampai
ke bagian ini. Malah curhat.
Bagaimana memilih ending yang paling tepat
untuk cerita atau novel?
Ending itu penutup kan, ya. Tapi gak harus
ending itu menjadi akhir cerita. Ending yg berakhir bahagia sejahtera seperti
di negeri dongeng, itu seperti tidak nyata. Meskipun mau dibuat happy ending,
jangan terlalu berlebihan seperti negeri dongeng.
Sebentar, ending gak harus menjadi akhir
cerita? Maksudnya?
Ya. Ending yang bagus menurutku adalah ending
yang bisa menjawab rasa penasaran pembaca. Ini yang dinamakan ending tidak
sebagai akhir cerita. Ending ini bisa berupa flash back sesuatu yang belum
terjawab di bab-bab sebelumnya.
Ada juga ending menggantung. Yaitu ending yang
menyuruh pembaca untuk menebak akhir cerita itu. Semacam open ending.
Secara garis besar memang ada tiga macam ending;
sad ending, happy ending, open ending. Tapi sepertinya masih banyak macam
ending lainnya, Mas. Pada intinya, ending yang baik adalah ending yang menjawab
rasa penasaran pembaca. Menurutku.
Jadi, ending mana yang pas untuk ngakhirin wawancara sederhana kita ini, Mba? Gimana kalo…
Happy tanpa ending.
Eak. Ide yang menarik itu, Mas.
Terima kasih, Mba Devi Eka. Maaf Pertanyaannya gak seru. Hehe.
Sip. Maaf, aku jawabnya ngebosenin. Hehe.
Yap. Begitulah wawancara sederhana saya yang penuh kekurangan. Pertanyaannya memang sudah memenuhi 5W + 1H, tapi salah arti.
What? What? What? What? What? How?
Yamaap.
Oh, ya, ini sedikit komentar dari pembaca buku-buku Mba Devi Eka.
Kalau kamu penasaran sama buku-buku Mba Devi Eka ini, silakan cek di sini dan di sini juga di sini
Note; Buat Mas-mas yang baca ini, beli bukunya – ajak kenalan. Pamali orang baik enggak dideketin, Mas. Haha.
Thanks maksimal sudah mau mampir dan baca, ya. Mudah-mudahan aja ada manfaatnya. Jadi, apakah ada yang bersedia saya wawancarai untuk malam minggu selanjutnya? Modus….
Mbanya kenalan dong. uhuk *disuruh mas agus gitu*
ReplyDeleteHahaha. Ke tahap pertama dulu, Mas; beli bukunya.
DeleteThanks sudah mampir, Mas. *tundukin badan ke belakang*
Oh ternyata plagiat....
ReplyDeleteOh iya mudah banget bikin buku ala Devi Eka. Tinggal cari karya orang laen, copy, paste, ubah judulnya. TA DAAAA. Jadi!
ReplyDeleteMudah memang cara devi eka bikin novel.. kan tinggal copy paste ������
ReplyDeleteMendingan dihapus aja ini artikel, tidak relevan
ReplyDelete