kita tidak tahu apa yang tepat untuk judul ini



kita tak pernah menyangka bahwa pertemuan bisa sebahaya ini. kau dan aku tahu bahwa setelah ini, ombak akan menyeret perasaan kita dan membenturkannya ke batu karang yang besar. berulang-ulang.

pertemuan ini akan membawa kita ke langit yang murung dan hujan yang punya banyak kesedihan. sedang kita adalah jejak-jejak kaki di pasir pantai yang saling mencari setelah ombak membawanya pergi.

kita tak pernah mengira bahwa pertemuan bisa sebahaya ini. tapi kau dan aku tetap tidak peduli akan hal itu. di bibir pantai, kita tetap tertawa, saling bicara, sampai air laut menyentuh kaki kita, menyentuh tubuh kita, menyentuh seluruh percakapan dan sesuatu yang ada dalam diri kita.

kita tetap tidak peduli.

sampai pada akhirnya pertemuan ini selesai, perpisahan mengulurkan tangannya seperti ibu yang menyuruh berhenti bermain, pulang lalu tidur siang.

dan kita menjadi peduli

dan kita

berhenti tertawa

berhenti bertemu.

Berhenti Mendefinisikan Cinta Sayang


Bagaimana definisi ‘cinta’ menurutmu?
Beberapa hari yang lewat, ada yang bertamu ke rumah saya. Laki-laki. Sudah menikah. Sudah punya bayi. Bayinya perempuan. Jari bayinya mungil-mungil. Mulutnya imut. Kadang ngoceh-ngoceh, tapi tidak jelas bicara apa. Dipakein bondu dan kaos kaki warna ungu. Lucu. Dicubit-cubit pipinya, dia tidak melawan. Malah senyum. Ketawa. Terus ngoceh-ngoceh tidak jelas lagi. Ya, cubit-cubit lagi pipinya. Bayinya suka genggem jari telunjuk saya. Genggemannya lumayan kuat. Mumumumumumu...

Kapan kamu punya bayi?

Oke. Baiklah. Kembali ke pertanyaan saja; bagaimana definisi ‘cinta’ menurutmu?

Ada yang bilang, cinta adalah tentang melepaskan. Cinta adalah pengorbanan. Cinta adalah penerimaan. Cinta adalah kepercayaan. Dan cinta adalah-adalah lainnya.

Cukup! Berhenti mendefinisikan cinta, sayang.

Jangan pertemukan cinta dengan tanda tanya. Kita sama-sama sudah bosan dengan tafsir yang banyak, tapi tidak pernah benar memahaminya.

Biar bayi saja yang mendefinisikan cinta. Yang bicara cinta. Yang mengoceh tidak jelas. Tetapi kita bisa merasakan ada kebahagiaan yang murni di sana. Ada cinta yang murni cinta.

Nah...fyi, jika kamu perempuan, ternyata saya lelaki yang berpeluang besar bisa membantumu memiliki bayi.

*dijewer mamak*

Tulisan ini diikutkan tantangan menulis #kampusfiksi #basabasistore #pertanyaanapadefinisicinta

Jadi Begini, Nak...


unsplash


Kira-kira bagaimana perasaanmu jika kamu mempunyai anak, sementara anak tersebut tidak sesuai dengan apa yang kamu harapkan?

Haha...

Entah kenapa pertanyaannya langsung bikin saya inget zaman sekolah, zaman pesantren kilat; kira-kira, bayangkan, jika kamu pulang ke rumah nanti, kamu lihat rumahmu ramai, ada bendera kuning, dan ternyata...

Seisi kelas menangis. Megap-megap. Saya malah mesem-mesem. Mungkin saat itu saya menolak untuk membayangkan suatu hal buruk terjadi di masa depan. Atau mungkin hati saya memang batu. Yang jelas renungan itu berhasil membuat beberapa siswa sadar, merasa bersalah, dan minta maaf ke orang tuanya melalui pesan. Tapi, seperti tahun-tahun sebelumnya, hal itu hanya sementara. Yang abadi hanyalah fana. Lah. Gimana-gimana? HEHE.

Di masa sekolah itu beberapa kali saya jadi tempat curhat. Padahal saya tidak selalu bisa kasih solusi. Mereka bilang, curhat juga tidak selalu untuk dapat solusi. Tapi, sebagian orang butuh didengarkan. Dan itu cukup.

“Gua udah beberapa hari nggak pulang. Minep tempat si A.”

“Aku ribut lagi sama keluarga.”

“Di rumah itu, kamu tahu nggak? Saya nggak pernah tegur sapa sama mama saya. Ini sudah 2 tahun.”

“Kalau di rumah, paling aku diam aja di kamar. Makan masakan mama pun aku malas. Mending tahan laper. Kalau mau makan, biasanya tengah malem. Waktu orang rumah sudah pada tidur.”

Dan hal itu terjadi tidak hanya pada satu murid saja. Di kelas saya, ada beberapa yang mengalaminya. Seperti biasa, saya diminta untuk merahasiakannya. Selalu. Dan saya tidak melakukan banyak hal buat ngatasin itu. Saya tidak tahu harus melakukan apa. Saya tidak pernah mendengar cerita dari sudut pandang orang tua mereka. Tidak pernah. Setelahnya, saya hanya mendapat ucapan ‘terima kasih’ dan ucapan itu tidak bikin masalah mereka selesai. Lalu kami makan kwaci, saling melempar, kulitnya yang basah oleh jigong menempel di muka, di rambut, di baju dan kami tertawa-tawa dan hahaha. Hah.

Kenapa Tuhan bikin hal ini ada? Orang tua yang seharusnya tidak memiliki anak? Orang tua yang tidak bisa menerima karena anaknya tidak sesuai dengan yang diharapkan? Atau anak yang selalu mengecewakan? Atau akan ada hal indah yang besar yang sudah Tuhan rencanakan untuk tiap anak yang mengalami hal ini?

Balik lagi, kira-kira bagaimana perasaan saya jika saya mempunyai anak, sementara anak tersebut tidak sesuai dengan apa yang saya harapkan?

Ya, jelas saya buang!

Saya buang perasaan-perasaan buruk tentang anak saya nantinya. Karena perasaan buruk akan menarik hal-hal buruk. The low of attraction. Sudah keliatan keren belum?

Jadi, anak saya yang tersayang, yang bahagia, yang juga mencintai dan menyayangi diri sendiri, yang followers twitternya akan jauh melebihi saya, yang lebih adem ngadepin anak-anak grup Telegram atau WA yang suka ngeledek tidak jelas, yang larut malam bersedia mendengar kesedihan orang lain...

Maaf, ayahmu di masa sekolah itu tidak bisa mengatasi masalah teman-teman. Tapi, kita bisa bekerja sama mengurangi masalah itu dengan cara tidak mengizinkan hal itu terjadi pada keluarga kita, kan?

Oh, iya, Nak... ngomong-ngomong ibu kamu mana? Ayah mau memeluknya.


cat; pas baca pertanyaan itu langsung nyadar, saya ini sudah jadi anak yang diharapkan belum? doh... maafkan, anakmu, mak.

Yang Tidak Logis tapi Terjadi di Pantai Jungwok


Oh, ternyata catatannya belum ditulis admin. Mohon bersabar, silakan kembali besok. Maaf atas ketidaknyamanan ini.


Yang Melingkar di Pergelangan Saya

foto by Dini Meditria

Sudah hampir setahun saya tidak menulis. Cerpen saya sekali dimuat di koran. Saudara saya bilang; berhenti. Buat apa? Dan seharusnya saya memang berhenti. Tapi, tiba-tiba saya dapat email dari seseorang yang saya kenal.

Sejak SD, MTs, SMA dan kuliah, saya malas sama komunitas. Di bangku SD, saya tidak pernah ikut satu organisasi apa pun. Di MTs, sekolah mewajibkan tiap murid harus punya minimal satu ektrakulikuler. Saya memilih bergabung ekskul catur, tapi tidak pernah main catur. Saya tiba-tiba direkrut menjadi anggota osis oleh kakak kelas, tetapi sama sekali tidak pernah ikut rapat. Di SMA, saya masuk dalam Rohis dan Science. Di Rohis saya nongol cuma karena ada acara jalan-jalan. Di Science, saya tiba-tiba dicatat dan diminta salah satu guru untuk ikut lomba olimpiade dikarenakan saya terlihat pintar padahal tidak sama sekali.

Dan benar, guru saya lebih dulu sadar; saya tidak jadi diikutkan lomba dua hari sebelum lomba dilaksanakan. Bodohnya, seminggu sebelum itu saya sudah belajar dengan sangat rajin.

Saat kuliah, saya berkawan dengan anak-anak Mapala. Selama seminggu saya menyiapkan diri untuk mendaki Merbabu, tetapi sehari sebelum Mendaki, saya memutuskan tidak jadi ikut dan memilih pergi ke pantai.

Terkadang, saya tidak suka berlama-lama di keramaian yang membosankan.

Anehnya, saya malah masuk dalam komunitas nulis dengan jumlah ribuan orang di dalamnya; Kampus Fiksi.

Sore yang gerimis pada tanggal 27 Januari. Saya menuju gedung Kampus Fiksi bersama teman baik saya, Munawir. Kami menempuh perjalanan kurang lebih setengah jam dengan pakaian sedikit basah karena hujan. Masih saya ingat, tiga langkah saya memasuki gedung KF, mbak-mbak di sana langsung heboh!

Saya sudah diledek sebelum dipersilakan duduk, ditagih oleh-oleh dengan mbak-mbak yang saya tidak tahu siapa dan ternyata dia punya nama Nae; perempuan yang saya kenal lewat grup WA, tapi tidak pernah pasang foto wajahnya dengan jelas. Yang lebih ekstrim, saya dimarah-marah tepat pada pertemuan pertama. “Seharusnya kalau kamu tidak menang lomba nulis di twitter KF, aku pasti sudah tiga kali menang berturut-turut,” katanya. Saya cuma bisa bengong. Dosa apa yang pernah saya lakukan? Dan setelah itu saya baru tahu namanya adalah Bene.

Benedikta Sekar.

Perihal Twitter

Saya tidak menyangka hanya karena followers saya lumayan banyak, beberapa anak KF dan bodohnya oleh yang benar-benar selebtwit mengira saya selebtwit. Saya pernah di-DM selebtwit, dimintai tolong untuk membicarakan suatu hal. Tetapi saya tolak. Bukan karena saya sombong, melainkan saya sadar, saya tidaklah berpengaruh.

Di KF, saya sudah kenal dengan beberapa orang lewat twitter. Pak Edi Akhiles yang baik hatinya, Mbak Tiw dan Mbak Ve. Saya senang sama dua perempuan itu karena twit-twitnya lucu. Tapi, akhirnya saya tahu kenapa mereka bisa selucu itu; ada seseorang yang lain di belakang mereka, yang tidak banyak orang tahu.

Juga yang tidak diketahui teman-teman atau Mbak Ve adalah saya difolbek beliau setelah saya follow dua kali.

Selebtwit macam apa coba yang mau follow orang dua kali dulu baru difolbek? Jadi, teruntuk mentor nulis saya, Mbak Ayun yang tidak saya lupakan tetapi pasti melupakan naskah saya, berhenti panggil saya selebtwit. Saya malu, sumpah!

Tapi, pertanyaannya; bagaimana bisa saya memiliki followers 18.940-an tanpa harus menjual obat peninggi badan atau teh peluntur lemak atau ngadain writing challange selama sepuluh hari?

Caranya sederhana, teman-teman. Buat 18.900 akun twitter lalu follow ke akun utama kamu. Kalau memang teman-teman punya niat melakukan itu, saya sarankan berhenti mengonsumsi micin.

Perihal Nama

Nama memang sudah jadi masalah sejak pertama saya masuk kelas apa saja. Banyak pengalaman yang lucu dan ngeselin soal nama ini tapi tidak akan saya bahas. Ada hal-hal yang cukup disenyumin aja dan itu benar-benar cukup.

Nama saya Mas Agus, memang pake ‘Mas’. Lumayanlah buat mahar pernikahan kita nanti. Dan entah kenapa saya selalu merasa aneh tiap kali nulis nama sendiri. Yang hanya tahu saya lewat sosmed, banyak yang mengira bahwa umur saya 32 atau 27, pokoknya di atas 25. Padahal umur segitu cocoknya untuk para mentor KF. Cari ribut! Maaf!

Bukan karena wajah saya tua, tapi di sosmed, saya tidak pernah menyebar foto. Akun-akun sosmed saya tidak pernah menunjukkan foto saya secara jelas. Saya sengaja membuat orang-orang penasaran. Dan itu salah satu ilmu menjual; buat penasaran.

Dua tahun lebih saya berusaha menahan diri untuk tidak memperlihatkan wajah saya. Sialnya, setelah ikut KF foto saya menyebar di mana-mana; twitter, dinding facebook, pintu wc, bagian belakang sempak. Hii...seram. Dan jauh lebih sial lagi ternyata orang-orang nggak peduli sama hal itu! Bodoamat! Fix, saya memang bukan seleb. Tapi, Pak Edi yang baik hatinya mau membawa saya seperti Boy Candra.

Duh, Gusti...

Seperti hujan yang jatuh ke bumi, meski terhempas, ia akan tetap jatuh, Pak.

Balik lagi perihal nama, saya sebetulnya sudah sangat menerima. Meski aneh, unik, kadang ditertawakan, tapi ternyata nama saya lumayan membekas di kepala beberapa orang. Dan tidak menutup kemungkinan, dari kepala turun ke hati. Azek.

Terima kasih.

Yang Pecah di Kampus Fiksi

Malam, 27 Januari, pada jam delapan dan dingin. Acara dibuka dengan MC dadakan oleh mbak-mbak yang lebih banyak senyam-senyum, ketawa-pratiwi, lupa sama luka-lukanya tapi saya tahu itu hanya sementara.

Malam itu, saya penasaran dengan sosok Pak Edi selaku CEO Divapress. Saya punya pertanyaan untuknya, tapi dia tidak ada. Pembukaan diwakilkan oleh salah satu editor Divapress, Mbak Rina—dengan pembawaan yang keren, lucu, saya suka lihat sesuatu entah apa namanya yang ada di kepalanya. Saya sampai lupa dia bicara apa aja. Yang paling saya ingat; dia panggil nama saya beberapa kali, walaupun dipake cuma sebagai bahan contoh. Uwuwuw.

Acara dibuka dengan perkenalan panitia dan perkenalan para peserta KF. Dari perkenalan itu saja, saya sudah merasa, akan ada beberapa orang yang hilang, yang terlupakan dan pecah di angkatan KF19 ini. Orang-orang yang sedikit sekali dilibatkan atau yang memang sengaja tidak menampilkan diri. KF19 punya grup WA, tetapi yang aktif hanya sebagian saja. Saya tidak tahu ke mana yang lain.

Kampus Fiksi menyediakan fasilitas yang sangat lengkap. Tempat tidur, AC, kamar mandi dalam, ruangan bersih yang nyaman, makanan dan minuman yang enak, mesin bubut, mikroskop, kaca bejana, kompressor, pahat, gergaji besi, gerinda, bor tangan, kunci T, lengkaplah! Dan gratis.

Singkatnya, KF membuat hidupmu enak. Dan pemerintah sepertinya tidak tahu hal ini.

Saya salut sama orang-orang yang rela menguras hati dan mengurus acara ini. Lebih banyak hal yang dikeluarkan tapi lebih sedikit yang mereka dapat. Tiga hari bukan waktu yang lama. Tapi, hal-hal yang dipersiapkan selama itu sedikit banyak membuat lelah juga. Salah satunya Mas Kiki--orang yang antar jemput peserta KF selama di Jogja, tiap pagi, dengan wajah yang masih ngantuk, sudah sibuk menyiapkan sarapan. Kadang, orang-orang tulus seperti mereka ini justru dikecewakan oleh orang-orang yang paling mereka sayang.

28 Januari, pagi hari. “Jangan jadikan menulis sebagai profesi utama,” kata Pak Edi santai, “kecuali kamu Tere Liye. Wong, Tere Liye aja bekerja sebagai akuntan, kan?”

Yang saya tangkap sebagai pria yang mengonsumsi banyak micin adalah menulis duitnya kecil. Dan saya sadar itu sejak tulisan-tulisan saya tidak pernah dimuat di media. Pernah, sih, dimuat di media online, tapi beberapa hari kemudian tulisan saya dihapus.

Selebtwit macam apa yang tulisannya terbit lalu kemudian diapus, Mbak Ayun?

Pak Edi bercerita hal-hal pahit di dunia menulis. Tentang keprihatinannya sama penulis, tentang seorang penyair menjual buku puisinya yang rela nombok ongkir dan rugi. Haruskah penyair kita ini didaftarkan seminar Tung Desem Waringin, Dewa Eka Prayoga atau Subiakto tentang marketting, branding dan lain-lain dan lain-lain?

Banyak yang beranggapan mencari duit lewat menulis adalah hal yang menyedihkan. Padahal, menurut saya pribadi, mencari duit lewat manapun adalah hal yang paling mudah. Memiliki dan mempertahankannya yang sulit. Ini ngomongin kekasih, ternyata. Maaf-maaf.

Pembawaan Pak Edi benar-benar tenang. Adem. Teduh. Tapi, menjungkirbalikkan mindset orang-orang yang mau sok jadi penulis terkenal, sedang abai sama proses. Untuk menjadi yang kita mau, memang melewati jalan yang tidak kita mau. Itu bukan kata saya, pastinya.

Sesi selanjutnya, mengenai teknik menulis disampaikan oleh Reza Nufa. Saya tidak akan panjang lebar membahas mengenai teori menulis. Karena jika saya ikut menulis materi menulis, teman saya Bene, tidak ada bahan untuk mengisi blognya. Baca tulisan Bene tentang teknik dan ide menulis di sini.

Banyak hal menarik dalam diri Reza Nufa. Saya suka cerita-cerita dia. Tentang pengalamannya berjalan kaki dari Ciputat ke Rinjani. Dia orang baik dan peduli sama perasaan manusia. Anjing, juga. Tapi, tulisannya sering melankolis.

Acara selanjutnya membahas tentang editing. Di sesi ini, saya sadar, saya ternyata tidak tahu apa-apa soal menulis. Ada banyak nama, ketentuan-ketentuan dalam menulis yang asing di kepala dan saya abaikan. Materi editing disampaikan oleh Mbak Muhajjah Saratini. Pembawaannya lucu. Seperti pengisi suara kartun Doraemon, Shincan sampai Keluarga Somad. Lebih jelas tentang teknik editing, baca saja di blog Bene. Di sini.

Oh, maaf. Ternyata belum ditulis Bene, sodara-sodara...

Kampus Fiksi memberi materi yang lengkap dan detail. Tentang redaksi, tentang marketting yang disampaikan Mas Aconk, tentang sastra yang disampaikan Mas Eko Triono dan sharing bersama alumni KF yang sudah memiliki buku, Mas Gin Teguh.

Yang saya ingat dari Mas Gin ini adalah ketika dia tanya buku apa yang terakhir kali dibaca? Dale Carnegie, How To Win Friends and Influence People. Jawab saya.

Buku apa itu?

Non Fiksi. Psikolog.

Ah, nggak tau.

Jujur, saya tidak rajin membaca seperti Mas Gin Teguh. Saya jarang sekali merekomendasikan buku kepada seseorang. Tapi, kali ini saya ingin Mas Gin baca satu bab saja di buku ini. Kalau tidak ada manfaatnya, seperti yang dibilang Dale Carnegie. Kalau tidak ada manfaatnya, silakan buang buku ini ke tong sampah!

Banyak hal-hal yang ingin saya tulis tapi saya bingung. Karena hal-hal itu acak, kusut, dan saya terlalu malas mengurainya. Hal-hal itu seperti asap rokok yang hilang saat digenggam.

Di KF, saya lebih banyak memerhatikan ketimbang mencatat. Sesekali saya berbicara dengan orang yang duduk di sebelah saya. Apa? Oke. Berkali-kali saya berbicara dengan orang yang duduk di sebelah saya. Kami menebak orang-orang yang aktif di forum, orang-orang yang suka bertanya, orang-orang  yang suka memegang microphone atau mentertawakan kekonyolan-kekonyolan dan lain-lain dan lain-lain.

Malam, 28 Januari yang ramai. Kami—para peserta diberi kesempatan untuk mengunjungi Malioboro. Sayangnya, beberapa peserta terbagi-bagi dan kami saling berpisah. Saya dan dua teman laki-laki bergabung dengan empat editor Divapress yang benar-benar menyenangkan, sehingga sebagai rasa terima kasih, ada baiknya saya mengenalkan mereka sesuai dengan yang saya tahu. Sesuai dengan yang saya rasakan selama mengobrol beberapa jam dengan mereka.

1. Mbak Ayun
Qurotul Ayun. Ini mentor nulis saya. Dia bilang logika cerita yang saya tulis tidak logis. Ada bagian cerita yang masih menyisakan pertanyaan yang belum terjawab dalam cerita tersebut. Saya menerima dengan lapang dada. Tidak melawan. Dan tidak memberi tahu beliau, bahwa naskah cerita yang dia baca atau yang dia print, ada bagian yang hilang. Mungkin terlewat saat di-print atau memang kesalahan saya waktu memindahkan file naskah. Mbak Ayun orang baik. Dia mengkritik dengan cara yang ramah. Saya tidak tahu dia sudah punya pacar atau belum. Yang pasti, jangan lupa ajak dia bisnis investasi. Investasi reksadana atau emas atau apa aja. Inget, bisnis investasi bukan bisnis yang punya slogan 'biarkan uang bekerja untuk Anda'. Soalnya, beliau ini suka jalan-jalan. Dia suka ke luar negeri. Ini mentor kece sejak dari USG!

2. Mbak Tiw
Utami Pratiwi. Saya kaget waktu pertama denger suaranya. Jawa banget. Lembut. Mbak Tiwi juga ramah. Saya lihat dia punya banyak cara buat bahagia. Lucu. Wajah yang dipasang wajah ketawa mulu. Teman saya pernah bilang; jadilah perempuan yang bahagia. Biar tidak nuntut dibahagiakan pasangan. Mbak Tiwi sepertinya sudah menjadi perempuan seperti itu. Tapi, ya, gitu. Belum ada pasangan.

3. Mbak Rina
Nisrina Lubis. Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya suka dengan sesuatu yang dipakai di kepalanya, yang tidak saya tahu namanya. Mbak Rina tidak terlalu ‘berisik’ seperti yang lain. Pembawaan dirinya terkesan agak tegas, sehingga, mungkin, bagi orang-orang yang baru pertama kali melihatnya menyangka bahwa ia pribadi yang sombong dan dingin. Tapi, itu sama sekali tidak betul menurut apa yang saya rasakan. Mbak Rina ini ternyata uwuwuw. Celetukannya seringkali lebih lucu dari yang lainnya. Dan ternyata orang ini berjasa di balik twit-twit lucu Mbak Ve. Terakhir, jangan lupa ajak sepedaan!

4. Sudah

Yang Lebih Berbisa dari Ular

29 Januari pada malam yang sunyi dan dingin sekali. KF19 ditutup. Acara tiga hari itu berakhir.

Saya sedih entah dengan alasan apa. Saya tidak pernah siap dengan sesuatu yang berakhir. Tidak pernah tahu apa yang mesti dipersiapkan sebelum semua berakhir. Dan tidak tahu apa yang harus dilakukan setelah perpisahan benar-benar terjadi.

Tiga hari adalah waktu yang sangat pendek, tapi brengseknya itu cukup menciptakan kenangan yang panjang dan tidak selesai-selesai. Setelah acara berakhir, kita sama-sama sibuk foto aneh, alay, dan ketawa-tawa. Bahagia saya karena Pak Edi yang menerima diajak foto teman-teman dengan gaya tidak jelas. Enam belas tahun saya tidak merasakan sosok ayah. Dan hal itu saya dapatkan kembali. Tentu saja, maksud saya bukan minta Pak Edi jadi ayah saya. Saya takut sama Dek Gara.

Beberapa menit kemudian, satu persatu peserta pamit pulang. Beberapa peserta yang pamit pulang malam itu adalah orang-orang yang berpeluang besar tidak bisa saya temui lagi. Saya tidak tahu kapan kembali ke Jogja lagi. Kota yang ditertawakan jika diingat bersama-sama, tapi bikin sedih jika diingat sendirian.

Saya sangat bahagia bisa jadi bagian dari keluarga ini. Keramaian yang terjadi selama itu sama sekali tidak membosankan. Sampai di rumah, saya ingin menceritakan hal-hal menyenangkan ini. Tapi, itu urung saya lakukan. Biar saya saja yang rasakan. Saya tahu, orang-orang tidak akan benar-benar mengerti mengenai semua ini; kenapa saya mau berjalan jauh sendirian dan menghabiskan uang untuk sesuatu yang singkat.

Saya juga tidak tahu.

Saya minta maaf jika sampai hari ini belum bisa menulis sesuatu yang seharusnya lebih baik setelah saya ikut Kampus Fiksi. Saya juga minta maaf dengan sikap atau kata-kata yang tidak menyenangkan selama acara tersebut.

Bagian ini adalah bagian yang paling sedih untuk ditulis karena saat ini saya hanya mengenangnya sendirian. Jadi, lebih baik kembali menyelesaikan poin ke empat di atas yang sengaja terlewat.

4. Mbak Ve
Avifah Ve. Saya suka ketawa-ketawa sendiri kalau baca timeline twitter-nya, Di mobil, Mbak Ve lebih aktif bicara. Saya tidak tahu dia habis makan dan minum apa waktu itu. Di mobil, seringkali dia mencoba melucu. Seringkali lucu, berkali-kali tidak. Tapi, mungkin kalau tidak ada dia, suasana akan sangat sepi. Terasa kering dan kurang. Mbak Ve seringkali membuka pembahasan yang seru. Jadi, kami atau hanya saya, tiba-tiba merasa senang tanpa alasan yang jelas. Saya tidak tahu, apakah Mbak Ve merasa kesepian saat-saat sendiri? Do'a saya untuk dia selalu bahagia. Ohya, saya baru tahu kalau perempuan satu ini suka lihat pria berotot yang tidak pakai baju.

Di internet.

Catatan saya kok jadi acak dan tidak jelas begini, ya. Di mana dan apa yang sudah dilakukan Pemerintah saat ini? Saat saya sedang kangen-kangennya...

Perjumpaan Bisa Sebahaya Ini (Kampus Fiksi)



Sesaat Sebelum Berangkat

Saya tidak menyangka bahwa perjumpaan bisa sebahaya ini. Rabu, 25 Januari, saya berangkat ke Jogja untuk yang kedua kalinya. Jogja yang saya kunjungi pertama kali seharusnya membuat saya kapok. Tapi, saya malah kembali lagi ke sana—ke Jogja, menjadi peserta acara Kampus Fiksi; pelatihan nulis GRATIS selama tiga hari yang diadakan Penerbit Divapress.

Sebelum bis datang, di ruang tunggu, saya bicara dengan beberapa orang. Salah satunya, bapak gemuk dengan kaos warna hitam pudar bertuliskan bahasa inggris, celana pendek coklat dengan dua saku di kanan kiri dan hape samsung galaxy note di jari-jari gemuknya.

Dia pernah menjadi TKI ilegal di Malaysia selama beberapa tahun pada zaman Pak Harto. Pengalaman-pengalamannya lumayan seru. Cerita yang paling saya ingat; leher bagian belakang temannya tertancap paku tetapi tidak meninggal. Dia juga menyarankan agar saya menjadi TKI di Korea. Wajah saya cocok buat ngedarin krim pemutih, katanya.

Mending saya kerja ngelem teh aja, Pak. Jawab saya. Dia tidak ketawa. Rupanya tidak tahu mengenai pekerjaan sampingan ngelem teh.

Hal-hal yang Terjadi di Perjalanan

Jogja sudah berasa sekali saat saya duduk di bangku bis. Orang-orang ngobrol dengan bahasa Jawa. Layar tv memutar video lawakan bahasa Jawa. Baru duduk di dalam bis, saya sudah kangen sama mamak, hal yang menyenangkan, hal-hal lucu, seru, tapi kadang bikin linu kepala dan itu semua ada di rumah.

Perjalanan baik-baik saja sampai pada dua jam sebelum memasuki pelabuhan. Bis yang kami tumpangi dikejar pengendara motor. Awalnya hanya satu motor, lama-lama tambah satu lagi, tambah satu lagi, tambah dua, dan mereka semua teriak-teriak agar bis kami berhenti. Saya lihat penumpang bis yang tadinya tidur, mendadak bangun, yang tadinya nyender mendadak tegang.

Bis berhenti.

Beberapa penumpang berdiri dan melongok ke jendela kaca ingin tahu apa yang terjadi. Saya juga ikut berdiri, berjalan ke belakang bis, ke arah toilet. Kebelet kencing. Percaya sama saya, kencing di bis sama sekali tidak uwuwuw. Apalagi saat bis sedang jalan. Apalagi jalan di jalan rusak. Apalagi yang bisa kulakukan agar kau mencintaiku?

Mengenai bis yang diberhentikan pengendara motor ini, saya sudah tahu dan biasa aja. Saya pernah mengalami hal receh kerincing-kerincing ini sebelumnya. Alurnya begini; pengendara motor (yang tinggal di daerah itu) merasa diserempet bis – pengendara motor menghentikan bis – penyelesaian kasus atau ganti rugi atau nego atau dompet – mobil dibolehkan jalan kembali.

Tapi, kali ini suasananya beda. Lebih tegang ternyata. Sopir bis yang kami cintai, yang baju pada bagian keteknya basah tidak merasa menyerempet motor. Jadi, antara kru bis, pengendara motor yang merasa diserempet dan pengendara motor yang membantu mengejar bis sama-sama ngotot. Suasana jadi ganas. Jadi panas.

Saya jadi inget Don Vito Corleone pada film The God Father. Beri penawaran yang tidak bisa ditolak, katanya. Pengen minta bantuan beliau nembak peluru ke kepala semua orang yang ribut di samping bis.

Hasil akhir; sopir bis yang kami cintai memberi penawaran yang tidak bisa ditolak. Keren. “Kalo bis saya,” katanya sambil memukul-mukul wajah bis, “kalo bis saya memang nyerempet motor ini, saya pasti sudah berhenti. Saya nggak ngerasa nyerempet kok.”

“Saya bersumpah kalo bis saya tadi nyerempet, NGGAK SELAMAT PERJALANAN SAYA. MATI!”

“Bener kau, ya? Kau ini bawa penumpang. Saksinya semua penumpang ini. Hati-hati kalau ngomong.”

“SUMPAH, PAK! GAK SELAMAT PERJALANAN KAMI!”

Yak! Masalah sepertinya baru dimulai oleh supir bis yang kami cintai ini. Mobil kembali berjalan. Seorang penumpang ibu jawa, saya memanggilnya bude, tanya dengan suara yang pelan sekali; dek, kamu kan tadi ora tidur tho? Jadi tahu. Mobil kita tadi nyerempet ora, ya? Bude kok jadi takut kenapa-kenapa ya. Masalahnya dia k—

Nyerempet. Saya potong bicaranya.

Selanjutnya perjalanan memang tidak baik-baik aja. Ban mobil pecah di jalan tol kawasan Jakarta—saya lupa namanya. Ada penumpang yang meninggal dunia tiba-tiba. Kami tidak bisa tidur karena suara tangisan. Perempuan yang tiba-tiba ikut menangis seperti orang kesurupan. Bapak tua yang ketawa-ketawa sendiri.

Sumpah sopir sepertinya sedang bekerja...

Cerita Orang-orang Baru

Di perjalanan, saya berkenalan dan akrab dengan tiga orang; Bude, Danang dan Randa. Ohya... mengenai penumpang yang meninggal, kesurupan dan bapak tua di bis itu saya bohong.

Saya tidak tanya nama Bude. Dia seorang ibu yang memiliki tiga anak. Salah satunya, ada yang seusia saya. Dan beraknya, semua anaknya itu laki-laki. Bude ini ternyata guru bk SMA negeri di Jogja. Di Lampung, dia mengurus kebon-kebonnya. Dan itu dilakukan sendiri. Saya tidak mau memancing dan bertanya mengenai suaminya. Saya tau, kalau sudah soal kenangan, kadang bakal membuat sedih. Apalagi jika kenangan yang dikenang sendirian. Huhu.

Danang. Mahasiswa UMY semester lima—kalau tidak salah. Sejak SMP dia sudah sekolah di Jogja. Wajar, kalau logatnya sudah Jawa. Dia bilang, Jogja ngangenin. Tapi, pulang ke rumah, ke ibu, kadang jadi mikir kembali; mana yang paling bikin kangen.

Randa. Ini anak sudah dibenturin masalah-masalah pelik. Anak rantau banget. Tempat-tempat di Sumatera sudah banyak yang diinjak dia. Dia pekerja proyek-proyek besar. Di ketinggian berpuluh-puluh meter, harus bisa berjalan di jalan yang lebarnya hanya sebesar satu setengah telapak kaki. Gemeteran, pasti, iya. Di ruang VIP kapal, saya ajak dia keluar lihat laut. Lautnya tenang tapi malah buat ngeri. Dia banyak cerita tentang keluarga dan hidupnya. Selama perjalanan, Randa ini rajin sholat.  Dia cari uang buat keluarga dan adik-adiknya. Rela jarang pulang, rela jarang di rumah. Sebagai pekerja proyek, urusan yang ditemuinya; psk, judi, mabuk-mabukan. Aku cari uang bukan buat tiga itu. Katanya.

Di perjalanan yang saya lewati; papan atau banner iklan yang menunjukkan rumah makan piringsewuh, anak-anak yang minta telolet telolet, bapak-bapak yang dagang tahu asin tapi lupa kasih uang kembalian ke saya, tempat karaoke yang berjejer di wilayah Jawa Barat pada jam tiga dini hari yang di halaman depannya penuh sama mbak-mbak sexy nongkrong dan ngerokok dan lain-lain dan lain-lain.

Saya kadang-kadang berpikir; bagaimana seandainya saya tinggal dan dilahirkan di lingkungan tersebut, lingkungan dekat rel kereta, lingkungan dekat pabrik, lingkungan dekat laut, lingkungan dekat hutan yang sepi, lingkungan pada jam tiga dini hari yang buat pria melek.

Dan saya semakin kangen rumah.

Matahari Jatuh di Giwangan

Saya tiba di Jogja, Giwangan pada jam empat sore. Orang-orang ramah. Menawarkan ojek dengan ramah. Saya tolak dengan ramah. Saya tiba-tiba lupa rumah. Jadi labil.

Seperti yang saya bilang di awal; saya tidak menyangka bahwa perjumpaan bisa sebahaya ini. Ada perasaan yang tidak terdefinisi oleh kata-kata. Kata-kata kadang tidak bisa menjangkau perasaan. Perasaan hanya bisa dipahami perasaan.

Setelah ini saya akan menulis tentang acara Kampus Fiksi, tentang editor-editor kece, tentang twit mbak-mbak yang kok iya bisa lucu-lucu.

Dan tentang kenapa followers twitter saya yang bisa (menurut kamu) sebanyak itu.

Ohya. Sebelum ditutup, saya bertanya kepada pak presiden dan kapolri, siapa yang ngecilin snack momogi dan snack selimut?!!

Mengenai Kekasih


   Kamu mungkin sudah bisa menebak seperti apa kekasih yang didambakan bagi hampir setiap orang adalah tidak jauh dari humoris, menarik, fisik yang baik, membuat nyaman, sukses finansial atau semacamnya yang atau mendekati sempurna. Tapi, jika kamu tanya mengenai kekasih yang saya dambakan, saya akan jawab dengan jujur dan sesederhana mungkin; kembali ke kata pertama pada paragraf ini.

Cara Menghapal Sejarah Hidup Seseorang Dalam Waktu Kurang Dari Sehari

unsplash.com


Kelak, yang saya tulis di bawah ini akan membuat makhluk berakal yang hidup empat puluh sampai lima puluh tahun mendatang menemukan ilmu yang semakin memajukan teknologi dan peradaban manusia di Indonesia.

Peradaban gundulmu!

Saya bohong, kok. Ehehe.

Akhir-akhir ini, saya mencoba untuk lebih sering mendengarkan daripada mengecap berbicara. Dari sana, saya menarik dan menggulung beberapa kesimpulan bahwa; pertama, masa hidup manusia tidak lebih dari sehari. Kedua, tidak ada yang menarik, kecuali diri sendiri.

Kesimpulan saya tentu bisa saja salah. Tapi.

Kemarin siang—saat saya dalam perjalanan pulang ke rumah dengan kereta api, saya bertemu teman MTs saya yang sudah lama sekali tidak bertemu. Kurang lebih 31.104.000 detik. Berapa tahun tuh?

Yap. Kamu benar.  1.866.240.000 sekon.

Sebelum berada di dalam kereta, saya sering membayangkan bahwa di dalam nanti saya akan duduk berdekatan dengan perempuan yang punya senyum seperti bayi atau bapak-bapak yang punya cerita lucu atau minimal jangan ketemu mas-mas yang suka bilang; ‘biarkan uang yang bekerja untuk Anda’. Jangan...saya sudah lelah dengan kapal pesiar, ‘kaki-kaki’ atau downline yang dikoar-koarkan itu. Dan terima kasih, saya bertemu dengan Fajar, teman MTs yang jika kita menebak berapa umurnya, pasti kelebihan 5 sampai 8 tahun. Wajahnya sekarang penuh jambang ala Ridho Roma Kelapa. Alhasil, kami mendadak reuni di dalam kereta.

Yang tidak saya lupakan dari sosok Fajar ini adalah dia menyukai Michael Jackson. Di kelas—waktu itu, ia sering menirukan gerakan penyanyi pop yang telah meninggal dunia tersebut. Dan itu bagi saya pribadi adalah hal yang ‘aneh’ sekali. Maksud saya, Fajar menyukai Michael Jackson tepat ketika penyanyi tersebut meninggal dunia. Tapi, ya, tidak apa-apa. Saya baru ingat, kita saja pernah lebih mencintai seseorang, tepat ketika seseorang itu telah pergi.

Kami membicarakan banyak hal. Tentang perkebunan di Indonesia (itu bidangnya), dunia jurnalistik dan tentang wisudanya yang beberapa hari lagi. Dan kamu tahu, dari pembicaraan tersebut, hampir seluruh yang saya bicarakan dengannya adalah tentangnya, bukan saya. Biasanya memang seperti itu yang kamu dapat dari mendengar. Mari kita tinggalkan Fajar sebentar. Di depan tempat kami duduk ada satu ibu-ibu muda yang gelisah entah karena apa.

“Kenapa, Bu?” Saya tanya.

“Ini kenapa? Barusan jatuh. Jadi gini.” Dia balik tanya sambil menunjukkan layar handphone-nya yang menghitam.

Karena satu pertanyaan itu, saya bisa menghapal sejarah hidupnya dan keluarganya tidak lebih dari tiga jam. Saya hampir tahu masa hidupnya. Di mana dia sekolah dan pindah sekolah, kenakalan waktu dia sekolah, prestasi, pekerjaan-pekerjaan yang pernah dia kerjakan, bagaimana dia menikah, beberapa kebiasaan suaminya, perbedaan ia, anak-anaknya dan suaminya, nama anaknya, kenakalan anaknya, di mana sekolah anaknya dan banyak banyak lainnya.

Ya, karena satu pertanyaan itu, obrolan kami jadi memanjang. Saat saya mendengarkan, orang-orang lebih tertarik menceritakan hidupnya daripada mendengar cerita hidup orang lain. Cerita diri sendiri tampaknya selalu lebih menarik daripada orang lain. Meskipun, jika ada cerita orang lain yang memang lebih ‘megah’, berkesan dan berbekas, tetap saja rasanya lebih nikmat menceritakan kisahnya sendiri. Saat saya mendengarkan orang lain bercerita, saya merasa mereka seringkali lebih bersemangat dibanding saat mereka mendengar saya bercerita.

Sebelum saya menyesal kereta berhenti dan kami turun, saya bertanya; “ada keponakan atau saudara yang seumuran dengan saya, Tante?”

“Ada.” Dia senyum. Mengeluarkan hape lain dari dompet kecil. “Tapi, sudah punya pacar.”

Tiba-tiba saya ingin melupakan apa yang sudah dia ceritakan. Tidak menarik!

Jika kamu ingin tahu sejarah hidup seseorang, yang harus kamu lakukan hanyalah mendengarkan. Tapi, apakah hal itu menarik?


ULANG TAHUN

#PUISI


Berziarah ke Makam Sendiri



Berziarah ke Makam Sendiri

Tanah pekuburan itu tak punya lagi bau basah
Bunga-bunga telah kering dijemur waktu
Rumput-rumput berdiri bebas di kaki dan kepala
Nama di patok makam; huruf-hurufnya berjatuhan dan terkubur dalam tanah

Tak ada yang bisa diperbuat
Rasa sesal adalah pekerjaan yang sama sekali tak berdampak untuk masa lalu

Hari ini, orang-orang sedang sibuk menziarahi makam orang lain
Aku menziarahi makamku sendiri
Yang tak terawat sejak empat puluh langkah orang-orang pergi

Aku tebas rumput-rumput yang menutupi kaki dan kepala
Di sana pikiran-pikiran tumbuh kacau dan tak punya batas
Jalan-jalan yang pernah dituju oleh kaki adalah
Jalan-jalan yang meninggalkan jauh rumah asal

Aku menyiram tanah makamku sendiri
Semoga debu-debu di kepala terbang ke langit
Nyala api yang membakar
Berganti wajah jadi nyala api yang memberi cahaya

Di beranda makamku
Kutaburkan bunga-bunga indah dari Tivoli
Dan menanam pohon kecil dengan do’a agar ia bisa menjulang tinggi

Agar pada suatu pagi, embun mau mencintai makamku
Daun dan Bunga pohon mau menjatuhkan hatinya kepada makamku
Dan makamku tak lagi kesepian, tak lagi menuntut apa-apa
Dan makamku punya Kekasih
Kekasih yang tak punya kepala seperti isi kepala manusia
Kekasih yang tak pernah mungkin lupa

Aku menggali tanah
Mencari huruf-huruf yang hilang dan menyusunnya kembali jadi namaku
Hujan tiba-tiba mencium ke makamku
Ternyata ada yang masih suci di dunia ini


Sebelum Menggunting Rambut Ibu



Sore itu, di depan cermin berukuran kira-kira 60cmx80cm ada wajah perempuan yang saya kenal betul. Lengan kiri memegang sisir dan gunting berada di lengan kanan. Sebagai anak yang pernah belajar PPKN di sekolah dasar dan di madrasah (walaupun guru ppkn itu masuk cuma ngasih tugas lalu muncul kembali dari laci meja saat bel pulang sekolah), saya tahu apa yang mesti dilakukan.

“Yakin bisa?” tanya ibu saya.

Sedari kecil saya perhatikan, ibu saya jarang sekali menggunting rambut di salon-salon pasar atau salon-salon banci di tikungan gang. Menggunting rambut bagi ibu saya adalah pekerjaan yang bisa dilakukan sendiri. Hasilnya; menurut saya tentu cantik. Tidak tahu kalo yang menilai Ivan Gunawan.

“Bisa.” jawab saya yakin. Gunting beralih ke tangan saya.

Sebelum menawarkan diri untuk menggunting rambut ibu, saya punya beberapa pengalaman yang cukup mampu membuat saya yakin kalau menggunting rambut adalah hal yang bisa saya lakukan meskipun sebelumnya tidak pernah.

Saat SD, pengalaman menggunting rambut saya dapatkan dari saudara saya. Kala itu, kalau boleh jujur, dia adalah tamu yang cukup mengerikan buat saya. Bagaimana tidak, setiap dia bertamu, pasti akan terjadi proses menggunting rambut; hal yang tidak saya sukai.

Setelah selesai dicukur saya selalu bercermin, dan di sana; saya temukan diri saya menjadi korban. Tapi, saya tidak menangis. Setidaknya bisa menahan itu sampai saudara saya pulang. Anehnya, setelah selesai dicukur dan sebelum saudara saya yang baik perangainya itu pulang, saya selalu diberi uang jajan. Lalu kesedihan saya selesai. Hmm, untuk mendapatkan sesuatu memang selalu ada ‘harga’ yang mesti dibayar, saudaraku. Entah itu uang atau lainnya.

Saya  masih menyimpan foto itu; di usia SD, saya dengan style rambut bayi. Maaf, tidak untuk dikonsumsi publik. Jadi, tidak saya upload, ya. Saudara saya itu telah mengajarkan kepada saya bagaimana mencukur rambut agar tumbuh kembalinya lama. LAMA SEKALI. Terima kasih, saudaraku.

Saat Mts atau madrasah, saya dikenalkan dengan namanya razia rambut. Proses mencukur rambut oleh guru kala itu tidak kalah mengerikan. Kalau kamu terjaring razia, hasil akhir rambut kepala kamu tidak lain adalah botak. Dan botak, tidak lain adalah sapaan baru di sekolah. Sapaan yang membuat hatimu nyeri dan kamu bakal mengalami itu minimal dua minggu. Guru itu mengajarkan kepada saya; mencukur rambut semestinya dilakukan dengan tenang, tanpa dendam dan tidak bisa salah. Jika salah, bakal ada sesuatu yang tidak bisa diulang. Sesuatu yang tidak bisa diulang seringkali menyakitkan.

Sewaktu SMA, saya kebanyakan lolos dari razia. Entah karena rambut saya memenuhi kriteria atau karena saya selalu tidak ada saat razia berlangsung atau berhasil melarikan diri. Satu dua kali pernah terjaring razia, tidak menarik untuk diceritakan kembali. Tapi tenang saja, di tingkat ini, pendidikan mengenai mencukur, saya pelajari dengan cara merapihkan rambut teman saya. Dengan silet. Ya, silet. Hasilnya; hmm… ada luka-lukanya. Tapi, kan...

Pengalaman saya mengenai menggunting rambut tidak berhenti di situ saja. Saya pernah teleportasi; berpindah ke suatu tempat dengan cara rahasia. Sekedip mata saja, saya sudah berada di Spanyol (tentu saja ini bohong). Di sana, saya belajar dengan Pakde Almando, belio ini mencukur rambut dengan senjata orang-orang Jepang. Ya, dua samurai. Pakde Almando ini mengajarkan kepada kita bahwa hidup tak boleh terlalu kaku. Di tangannya, samurai bisa menjadi alat cukur. Barangkali guru-guru sekolah bisa meniru ini?

Pakde Almando sedang mencukur mbak maimun

Setelah ke Spanyol, dan saya tidak menemukan ale-ale di sana, padahal tembolok serasa kering, akhirnya saya teleportasi lagi ke China. Di China, kamu bisa menemui Wang Xiayou—kang cukur rambut dengan gaya kungfu. Belio ini mencukur rambut dengan posisi terbalik; kaki di atas, kepala di bawah, hati disakiti. Mencukur rambut dan seni bela diri adalah komposisi yang indah, bagi Wang Xiayou.

Wang Xiayou--bajunya belum ada yang kering

Dengan pengetahuan itulah, saya mulai menggunting rambut ibu saya. Selama proses menggunting rambut, saya mengelilingi ibu saya; dari depan, pindah ke belakang, ke samping kanan, ke samping kiri. Begitu terus. Ternyata saya benar-benar berbakat dalam hal ini.

“Kok dari tadi nggak pake sisir?” tanya ibu saya.

Saya diam. Wajah saya sudah penuh keringat.

Di depan cermin itu, ibu saya diam melihat hasil rambutnya dan saya cepat-cepat pamit untuk mandi saja.

Sepasang Suami Istri dan Kucing Kurus



Papan yang berisi pengumuman “rumah ini dikontrakkan” dilepas saat koper Bayu sudah berdiri tegak di dalam rumah.

Jum’at Malam, Pukul 11.45, 13 November 2015

Pintu rumah itu tetap saja diketuk berkali-kali meskipun Bayu sudah menyaut dari ruang santai, tempatnya menonton tv. Ketukan itu berhenti saat pintu sudah dibuka dan sialnya Bayu tidak menemukan siapapun. Kejadian itu berulang lebih dari tiga kali dan Bayu tetap saja punya nyali untuk membuka pintu. Tidak kapok. Terakhir, saat pintu itu diketuk lagi, Bayu yang kesal segera berlari dan membuka pintu dengan cepat, agar yang bersembunyi ketahuan. Jangan bercanda!

Tidak ada siapa-siapa. Bayu kaku.

Tetapi, suara pintu yang diketuk berkali-kali itu belum menghilang. Suara itu masih terdengar amat jelas. Hanya saja pindah ke arah lain; pintu kamarnya. Bayu sudah menyadari degup jantungnya bekerja lebih dari biasanya, kakinya mulai gemetar. Merinding. Nyatanya, ini memang bukan bercandaan teman-teman kampusnya.

Perlahan, ia mendekati arah suara ketukan itu. Ia menarik napas dalam dan menghembuskan dengan berat sekali. Pintu itu masih diketuk berkali-kali dari dalam kamar. Suaranya makin kuat. Tempo ketukannya makin cepat.

Bayu sudah memegang gagang pintu. Tanpa harus lari mengelilingi lapangan, tubuh Bayu sudah dipenuhi keringat sekarang. Bayu menahan napas. Agak sesak. Ia memejamkan mata dan membuka pintu pada saat yang hampir bersamaan. Beberapa detik kemudian, ia membuka kedua matanya perlahan.

Tidak ada siapa-siapa.

Huft. Sekali lagi Bayu menghembuskan napas berat. Amat berat. Sedikit lega. Ia menutup kembali pintu kamar tetapi dari arah berlawanan seperti ada yang menahan. Menarik gagang pintu juga.

Bayu melepaskan pegangannya, membiarkan pintu itu terbuka, entah apakah sudah siap menghadapi dalangnya. Kemudian suara teriakan keras yang ditahan Bayu pecah dalam satu waktu. Wajah makhluk itu berjarak sejengkal dengan wajah Bayu.

***

Jum’at Malam Sabtu, 13 November 2000

Sepasang suami istri yang baru menikah sehari yang lalu berada di dalam kamar. Saling bercerita tentang masa lalu. Banyak tertawa. Sang suami yang lebih dulu membuat jeda dalam obrolan seru mereka.

“Sebentar. Mas mau minum dulu. Cerita bikin haus ternyata.” pamit suaminya. Sang istri mengiyakan dan masih senyum-senyum mengingat kelucuan sebelumnya.

Sehabis minum, sang suami memadamkan lampu dapur kembali dan berniat ke kamar lagi. Tepat setelah lampu dipadamkan, ada hal ganjil yang dilihat selintas oleh sang suami. Penasaran, sang suami menyalakan lampu kembali dan benar, ia melihat kucing sedang makan ikan bakar miliknya. Kesal, sang suami mengambil sapu di dekatnya dan menghajar hewan kurang ajar itu. Tidak kena. Kucing itu berhasil mengelak dan pergi membawa curiannya.

Bukannya mereda, kemarahan sang suami makin menjadi. Ia mengejar kucing yang lari ke belakang rumah, kamar mandi. Kucing itu sepertinya meledek. Ia makan dipinggir sumur. Makin kesal, sang suami mengambil balok kayu yang cukup besar dan langsung menyambar tubuh kucing kurus itu. Kena!

Dipukulnya kucing itu berulang-ulang dan tentu saja si kucing berusaha meloloskan diri. Berhasil! Kucing kurus itu berhasil meloloskan diri dari pukulan balok kayu dengan menceburkan diri ke dalam sumur.

Dari kamar, sang istri bertanya-tanya apa yang terjadi dengan suara mengeong cukup keras dan suara suaminya yang bicara “mati kamu, ya.” berulang-ulang. Meskipun kedua suara itu sayup-sayup. Tidak berapa lama, disusul suara suaminya yang teriak seperti orang ketakutan dan beberapa detik kemudian terdengar bunyi benda—seperti batu besar atau entah apa jatuh ke dalam sumur. Dentuman. Jelas dan besar sekali. Kejadian itu membuat tetangga-tetangga mengetuk pintu rumahnya.

Besoknya, orang-orang mengenakan pakaian hitam. Ada juga dokter yang menjahit kepala jenazah. Wajah jenazah serupa—entah apa dan bagaimana kalimat yang baik untuk mewakili dan menjelaskan. Jadi, tidak perlu ditulis.

Sang istri menangis hingga pingsan. Ibu-ibu tetangga membawa dan mengistirahatkannya di kamar.

Seminggu setelah kejadian itu, sang istri ditemukan gantung diri. Ranjangnya ada darah dan di balik selimut putih itu ada mayat kucing yang kepalanya terpisah. Ya, dua kucing kurus.

***

Kata salah seorang warga sekitar, seringkali ada kejadian aneh di rumah itu; bunyi orang seperti membelah kayu tengah malam, bunyi benda jatuh ke dalam sumur, perempuan mengerikan yang mengintip dari jendela kaca dan kejadian yang dialami Bayu semalam. Tanpa pikir dua kali, Bayu memutuskan untuk pindah kontrakan malam itu juga. Padahal ia belum seminggu berada di rumah tersebut.

Papan yang berisi pengumuman “rumah ini dikontrakkan” dipasang kembali. Beberapa hari kemudian, tiga orang wanita bersiap menempati rumah tersebut.

Apakah salah satunya kamu?






Tulisan ini diikutkan dalam tantangan #NulisBarengAlumni tema #horor Kampus Fiksi.

Wi-fi dan Hal Lain Yang Lebih Penting


wi-fi dan hal lain yang lebih penting
Tugu Payan Mas, Tugu Kotabumi

Tampaknya Bapak Agung kami, bupati Lampung Utara sudah mulai peka mengenai satu dari sekian perasaan warganya. Baru-baru ini, di taman dan tugu kota sudah tersedia wi-fi gratis. Dan itu artinya, kota kita tak perlu takut lagi kehabisan kuota.

Kota, kita dan kuota. Ketiga hal itu berkawan baik satu sama lain. Kita butuh kota agar hubungan punya tempat tinggal. Dan kuota, seringkali jadi perantara yang bagus untuk mempertemukan kita di zaman layar sentuh dan malu berkenalan secara langsung ini. Ya, pura-pura ngerti sajala, kita yang saya maksud itu anak-anak muda gemes sekarang.

Terima kasih, Pak Agung dan rekanan atas pemasangan wifi-nya. Eh, sebentar. Tunggu dulu.

Sebelum berterima kasih kepada beliau, ada baiknya kita nggak melupakan Hedy Lamar. Artis Wanita Hollywood yang terkenal dan sensasional di era perang dunia. Tapi jangan salah. Mbak Hedy Lamar dan temannya inilah penemu sistem komunikasi rahasia di tahun 1942. Alat yang sangat membantu sekali mempertahankan keamanan dalam komunikasi militer pada waktu itu. Singkatnya, penemuan tersebut jugalah yang menjadikan lahirnya teknologi modern di zaman ini; handphone, bluetooth dan ya, wi-fi.

Kabarnya, akan ada teknologi terbaru macam wi-fi, yaitu li-fi (light fidelity). Kecepatan internetnya 1Gpbs bahkan bisa sampai 224 Gbps hanya dengan bantuan lampu LED. Tapi, jangan dibayanginlah. Masih ada kartu tri, kok. Ehgimana-gimana.

Yang jelas, terima kasih untuk Mbak Hedy Lamar.
wi-fi dan hal lain yang lebih penting
Taman Santap, Taman Kota

Garis bawahi; artis terkenal dan sensasional bisa menemukan alat yang berguna untuk masa depan.

Jadi, tidak menutup kemungkinan, artis-artis terkenal dan sensasional di Indonesia yang sering kita cemooh dan nyinyirin itu bisa juga membuat penemuan-penemuan canggih—yang kita tidak tahu. Mungkin, Bang Ipul sedang bikin alat-alat hebat untuk masa depan. Siapa yang tahu. Halah!

Kembali lagi ke wi-fi di pusat kota. Ada hal yang luput dari rekanan saat memasang wi-fi gratis di taman kota, ialah pemasangan colokan. Padahal ini penting. Apalagi untuk laptop saya yang ditinggal buang air kecil saja sudah mati kalau tidak di-charge.

Dan, saya juga punya banyak kenalan yang memiliki permasalahan sederhana tapi cukup rumit. Permasalahan itu jauh lebih penting dari proyek pengadaan wi-fi gratis di pusat kota, yaitu pengadaan wife bagi jomlo yang umurnya kian menua.

Juga barangkali tidak ada perempuan yang peduli dengan tetek bengek atau siapa itu Hedy Lamar yang sudah saya jelaskan sesingkat-singkatnya di atas. Yang lebih mereka pedulikan ialah; kapan adek dilamar?

Itu.

Celengan Babi



Kenangan serupa saudara jauh yang bertamu tiba-tiba. Asal bisa menerima, segalanya akan baik-baik saja, termasuk soal luka.

Celengan babi. Benda itu sudah dihadapan kami. Aku menimang seperti bayi. Kami belum memiliki bayi. Hujan di luar masih deras, aku memadamkan lampu kamar dan membiarkan nyala lilin menerangi ruangan ini agar suasana makin mendukung untuk mengenang, untuk berjalan jauh ke belakang.

*

Kian. Dia yang memberikan benda ini tepat di hari ulang tahunku yang ke enam belas tahun. Kado macam apa untuk lelaki seumuran itu? Harusnya dia memberikan jam tangan ori yang dibungkus rapih dan di dalamnya diselipkan beberapa puisi. Kalau dia tidak bisa membuat atau menulis puisi, dia bisa mengutip puisi Pablo Neruda dan lain-lain, asal jangan Tere Liye. Maksudku, kata-kata Tere Liye sudah sering dibagikan orang banyak. Jadi, pasti ketahuan.

Aku menerima kado yang tidak dibungkus itu dengan terpaksa dan senyum kecut.

“Mulai hari ini,” katanya, “sisihkan uangmu untuk pernikahan kita kelak. Kita mesti mempersiapkannya dari sekarang.”

Aku tertawa. Dia tidak.

“Aku serius,” katanya.

“Kenapa harus celengan? Kita bisa bikin ATM.”

“Nggak. Kalau ATM, masih bisa kita ambil. Kapanpun. Kalau celengan, harus dipecahkan. Tapi, ini celengan limited. Orang lain nggak ada yang punya. Jadi, kamu nggak bisa ngakalin dengan beli celengan baru lagi.”

Aku diam. Ada jeda sebentar. Mengeluarkan dompet di saku celana belakang dan memasukkan selembar uang seratus ribu.

“Kamu marah?” Dia tertawa menggoda.

“Biar lebih cepat,” kataku sekaligus menyindir, “sekarang giliranmu, calonku,” Aku menyodorkan celengan itu. Seramah dan semanis mungkin.

“Nggak-nggak!” Dia tertawa, tambah bahagia. Aku semakin kecut, “tenang. Aku juga punya celengan seperti itu.”

Heh. Kami saling senyum.

Sekolah sudah sepi sejak tadi. Baju kami sudah penuh coretan tanda tangan dan pilok warna-warni. Sore kami rasa Minggu pagi. Langit masih saja terang dan aku tidak ingin gelap datang. Pada Bumi atau pada hati kami.

“Lusa aku jadi berangkat,” Langit tiba-tiba gelap. Sedikit kebahagiaan dicuri dalam diriku.

“Pulang, yuk!” ajakku.

“Kita mampir makan dulu.”

“Uangmu tadi sudah lebih dulu dimakan celengan babi.”

Dia melongo. Aku lari. Tertawa.

Celengan babi. Benda itu benar-benar menjadikanku disiplin dan pecundang pada saat yang bersamaan. Lusa yang dikatakan Kian adalah hari kepergiannya ke Jogjakarta sekaligus hari terakhir ia tinggal di Lampung. Tambahan; seminggu sejak kepergiannya, ia tak ada kabar. Mengabari, tidak sama sekali. Tetapi, kisah mana yang selalu tetap? Dengan bodohnya, aku masih menabung. Babi itu makin gemuk. Aku sebaliknya.

Aku ingin menjadi serigala yang setia hanya pada satu kekasih. Sekali, seperti hidup manusia di dunia. Tetapi, kisah mana yang selalu tetap? Aku bertemu Pratiwi. Kesetiaanku kacau tapi hidup mulai membaik. Seperti kisah pada umumnya, pertemuan selalu sederhana, perpisahanlah yang membuatnya begitu rumit.

Aku bertemu Pratiwi di tempat perpisahan; pemakaman. Agak lucu memang, manusia tidak lahir dan mati sendirian. Di belahan bumi lain, pasti ada yang lahir seperti hari kelahiranmu. Begitu juga dengan kematian.

Aku menghadiri pemakaman yang salah karena terlambat. Kukira itu adalah pemakaman Abah Gede—kakek temanku yang sudah kuanggap sebagai kakek, ternyata itu adalah pemakaman teman Pratiwi. Jaraknya memang agak berdekatan dan sama-sama dipenuhi para pelayat.

Aku dan Pratiwi, percaya atau tidak; sama-sama salah menghadiri pemakaman. Aku baru menyadari saat Pratiwi ditelepon temannya bahwa ia salah tempat. Temannya yang menelepon tepat di sampingku.

“Salah makam, ya?” kata pertama yang aku ucapkan saat berpapasan dengannya. Dia tersenyum. Mungkin malu. “Kamu nggak sendiri.” lanjutku.

Dari kejauhan aku meliriknya, ia bercakap-cakap dengan temannya itu. Banyak tersenyum. Aku tahu mereka membicarakanku. Itu  gosip yang paling membahagiakan.

Setelahnya kami berkenalan lebih jauh dan dalam lagi. Aku dan Pratiwi tidak pernah mengucapkan saling cinta. Tidak dengan kata-kata tetapi prilaku. Aku tidak pernah bermasalah dengan itu. Yang terpenting, perasaanku tidak jatuh sendirian.

Aku ingin memberi tahu hal; ini bukan masalah seseorang yang bingung memilih masa lalu atau masa kini. Tetapi tentang hal yang sederhana; celengan babi.

Suatu sore, tiba-tiba saja Kian menemuiku di kontrakan. Aku sudah wisuda dan bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan makanan ringan. Dia tahu alamatku dari teman lama. Datang dengan penuh penyesalan dan minta maaf—ada menangisnya juga.

“Aku—“ Masih ragu. Aku ingin bilang bahwa aku sudah punya pacar. Tetapi, dia lebih dulu mengeluarkan sesuatu dari tas. Ya, celengan babi.

“Tabungan ini kukira sudah cukup. Bisa kita pecahkan sekarang?”

Dia mulai menghitung mundur bahkan sebelum aku menjawab iya atau tidak. Dan setelah hitungan ke satu, ia menjatuhkan celengan itu di lantai. Pecah! Babi itu mengeluarkan banyak uang. Dia tidak menatap celengan yang pecah itu. Matanya berair, ia menggeleng-geleng seakan kecewa.

Aku masih menggenggam erat celengan itu. Beberapa detik kemudian dia pergi. Sebelum pergi dia mengatakan; sebelum menemui kamu, aku sudah menemui Pratiwi.

Pelan-pelan, aku memunguti uang yang berserakan itu dan segera menelepon Pratiwi.

“Saya sudah tahu semuanya. Termasuk tentang Kian,” katanya, “Kamu jangan ke kontrakan saya. Karena itu sia-sia. Saya sudah menulis alamat tempat saya tinggal sekarang di kertas kecil. Kertasnya saya masukkan di celengan jelekmu itu.”

Tut. Dia mematikan teleponnya. Aku belum berkata sepatah kata pun.

Besoknya aku berjalan-jalan di pasar dan tidak sengaja melihat celengan babi—sama seperti punyaku, dijual di salah satu toko. Uang Kian, segera aku kembalikan.

*

Hujan di luar masih deras. Lilin membakar dirinya sendiri dan sebentar lagi nyalanya akan padam. Celengan babi itu masih utuh, entah berapa jumlah uang di dalamnya. Aku menyalakan lampu kembali. Banyak nyamuk. Diana—istriku yang sedari tadi mendengar penuh perhatian, tersenyum.

“Masa lalu yang indah,” katanya, “kadang hal-hal sederhana memiliki kenangan yang rumit juga hebat, ya. Tapi, kenapa kamu nggak pilih salah satu dari mereka?” tanyanya.

“Sederhana; karena mereka bukan kamu,” Aku tersenyum menggenggam tangannya, “sekarang giliranmu, amplop yang kamu pegang itu, bagaimana kenangannya?”

Dia menarik napas panjang.

“Dulu…” Diana berdehem, “dulu, aku lesbi.”

Aku kehilangan kata-kata. Gempa bumi di dalam diri.

“Aku bercanda, lho,” Diana menyerahkan amplop itu kepadaku, “aku hamil, Mas.”

Bagaimana Mempekerjakan Keikhlasan?

foto by unsplash

“Ikhlas itu apa?” tanyanya.

Saya heran dengan manusia-manusia yang mengamalkan ikhlas hanya jika—setelah sebuah kepergian atau kehilangan. Sudah, ikhlaskan saja kepergiaannya. Ambil saja hikmahnya. Kalimat-kalimat seperti dan semacam itu seringkali kamu dengar di sebuah pemakaman atau setelah kehilangan seseorang atau sesuatu hal yang penting dalam hidup. Lucunya, yang menyuruh ikhlas bukanlah orang yang bisa ikhlas.

Kenapa harus menunggu sebuah kepergian atau kehilangan dulu, baru “ikhlas” itu dipekerjakan?

Dan bodohnya—saya berani berkata dengan amat jujur; saya tidak bisa menyediakan ruang kerja ikhlas di dalam kepala atau hati saya. Sebab, saya tidak pernah siap mengikhlaskan kehilangan yang baru saja terjadi atau menyiapkan keikhlasan untuk segala hal yang akan terjadi.

Termasuk pada hari itu. Hari yang seharusnya saya tidak memilih pergi konsultasi ke rumah sakit. Hari penuh kejutan; tanggal merah pada hari Senin.

“Saya turut berduka,” Dokter itu memulai pembicaraan dengan bahasa yang tidak enak betul untuk didengar. Dan diakhiri dengan nasehat yang malah cocok digunakan untuk keadaan politik Negara ini. “Sabar dan ikhlas.”

Saya mandul. Bukan istri saya. Sialan! Jika saja sebaliknya, saya bisa memiliki istri lagi. Tapi, saya yang mandul. Lucu? Saya menulisnya dengan amat menyedihkan, andai kamu tahu.

“Kamu bisa menikah lagi, Beb…” kata saya.

“Hah?”

Saya pergi. Dia tidak menahan sama sekali.

***

“Ikhlas itu apa, Om?” tanyanya lagi. Membuyarkan ingatan saya tentang luka.

“Nama toko manisan.” jawab saya. Yang bertanya malah melongo. Saya menunjuk ke seberang. Tepat pada plang toko. Anak kecil itu tertawa—jika saya boleh asal menebak, umurnya lima tahun. Saya diam saja. Hujan makin deras. Kami bakal berteduh lama di sini. Di depan toko yang sudah tutup.

Seseorang nenek mendekat ke kami—saya tidak memperhatikan ia datang dari mana. Mungkin dari toko yang berada di ujung kiri dan tidak mungkin menyembul tiba-tiba dari aspal.

“Mungkin,” kata anak kecil itu. Kepala saya dipadati masalah, “mungkin ikhlas itu nama pemilik toko. Pak Ikhlas. Hehe.”

Gadis mungil tersenyum. Saya masih diam saja. Ohya? Bodok amatlah, Dek! Abang lagi pusing. Seperti itu kira-kira.

“Hoi!” Saya bener-bener kaget. Sumpah! Dasar nenek funky! Dandanannya dengan jeans robek di lutut, jaket hitam dan topi. Gila.

“Masih muda sudah banyak melamun. Sekarang jam berapa, Ganteng?” tanya nenek funky.

Saya melotot. Nenek tersenyum.

“Jam setengah empat, Nek.” Ramah saya menjawab. Lebih tepatnya, luka saya amat sakit.

Toko-toko di sini memang sudah pada tutup jam setengah tiga. Kenapa? Memang sudah dari dulu.

“Ganteng-ganteng tapi budek. Jam berapa sekarang?!” suaranya cempreng serupa suara mainan kapal air yang sering dijual di pasar malam lapangan dekat rumah.

“Jam enam sore, Nek!” Saya teriak sekeras yang saya bisa. Gadis mungil tertawa. Nenek menepuk-nepuk bahu saya. Pertanyaannya diulang; jam berapa? Saya menahan emosi dan menjawabnya dengan isyarat. Sekarang hujan makin deras campur gledek. Mungkin langit ikut emosi.

Gadis mungil dan nenek funky tertawa. Duka saya bertambah.

“Siapa nama kamu anak manis? Kenapa sendirian di sini?” Kali ini nenek bertanya pada gadis mungil.

Saya bakal mulai tersenyum.

***

“Hah?”

Saya pergi. Dia tidak menahan sama sekali. Tepat selangkah keluar dari rumah, Kumala—istri saya melayangkan luka dan duka secara bersamaan.

“Lebih baik kita cerai, Mas.”

Sejak kapan perceraian itu baik, Kumala? Saya menoleh dan tersenyum kecut. Kemudian dia melayangkan high heels-nya. Sabar dan ikhlas, Kumala. Persetan!

***

“Kumala.” jawabnya tepat di telinga nenek. Seperti berbisik tapi suaranya besar. Persetan! Saya melonjak kaget.

“Kumala?” Saya memastikan.

“Namanya Kumala. Ganteng-ganteng kok budek, sih!”

Gadis mungil dan nenek funky tertawa bersamaan. Saya menarik napas dalam. Mereka melanjutkan obrolan. Saya tidak mau mendengarkan lagi. Di sebelah toko—berjarak dua toko dari tempat kami berteduh, tiba-tiba saja dibuka. Tumben sekali. Seseorang bapak tua keluar dengan tergesa-gesa.

Kemudian… ya. Bergabung bersama kami. Hujan belum reda, obrolan masih berjalan. Begitu juga dengan luka di dada kiri saya.

“Kurang ajar sekali ayahmu itu, anak manis.” Nenek mengelus rambut gadis mungil, “sabar dan ikhlaskan saja, ya. Nanti kamu ikut Om ini.”

“Ikhlas itu apa, Nek? Tadi Ayah juga menyuruh aku ikhlas.”

Awalnya saya biasa saja. Tapi setelah tahu apa yang terjadi kepada gadis mungil, saya jadi kelabakan. Jujur, saya tidak peduli mengenai gadis mungil. Saya lebih peduli terhadap luka dalam diri saya. Sedang yang ada di luar diri adalah debu, adalah semu. Tidak saya pedulikan.

Termasuk bertanya kenapa gadis mungil sendirian di sini? Kenapa nenek funky memilih berpenampilan seperti belalang? Kenapa engko-engko (saya suka sekali memanggil bapak-bapak cina yang sering menjaga toko dengan panggilan itu) tiba-tiba pergi dengan tergesa-gesa?

Tapi, saya jadi tertarik mendengar cerita-cerita mereka.

Ayah gadis mungil menyuruhnya untuk menunggu di depan toko ini. Rumahnya di Jakarta. Tapi, ini di Lampung. Semua orang dewasa tahu bagaimana nasib gadis mungil ini selanjutnya.

Nenek funky semasa mudanya sudah tumbuh di jalanan. Tetapi, sekarang ia memiliki rumah dan suami yang mencintainya. Katanya. Tapi kenapa dia di sini? Tentu saja saya tidak bertanya kepadanya. Luka dan duka membuat saya tidak ingin berteriak. Kecuali dalam hati.

Engko-engko. Saya tertawa mendengar ceritanya. Ya, saya sendiri. Ia diusir istrinya karena hal sepele; menyembunyikan remot tv. Padahal, toko mereka adalah toko elektronik. Yang pasti menjual remot tv untuk semua merk tv. Ya, kan?

“Kamu kenapa di sini?”

“Kalo Om, kenapa di sini?”

Pertanyaan mereka bersamaan. Yang berbeda, satu suara lembut, satu ala cina dan satu lagi suara belalang. Entah kenapa saya suka menyebutnya belalang. Saya diam agak lama. Menimbang untuk diceritakan atau tidak. Pilihannya yang pertama.

Hujan sudah mulai reda. Matahari pulang kerja. Tapi, luka masih saja deras terasa dalam dada.

Selesai cerita semua terdiam. Nenek mengelus punggungku. Saya heran kenapa nenek suka mengelus? Hujan sudah reda. Saya pamit pulang dengan semua.

“Lo olang kalo pulang semua, gimana dengan gadis cantik ini? Dan saya?” Pertanyaan engko-engko itu lebih seperti mencegah saya.

“Kamu bawa pulang saja anak manis ini. Angkat sebagai anak,” Nenek memberi saran.

Saya tambah pusing. Perceraian seperti di depan mata.

“Oke. Kumala, kamu ikut Om pulang saja, ya.”

“Nggak, Om. Ayah menyuruhku menunggu di sini. Aku akan menunggu ayah menjemputku.”

“Kalian dengar?” Saya ingin mereka berdua menyaksikan, “dia nggak mau ikut saya. Biarin aja dia nunggu selamanya seperti Hachiko.”

Mereka berdua mengomel seperti menggongong. Saya akhirnya membawa Kumala pulang. Tetapi, hal di luar dugaan muncul. Nenek pikun, lupa jalan pulang. Engko memohon menumpang semalam, karena istrinya ngambek tidak lebih dari sehari.

Situasi makin rumit saja. Luka dalam hati saya sulit menemukan jalan keluar.

Saya menggendong gadis mungil yang tertidur di balik punggung saya. Rasanya bulan berada di atas kepala saya. Indah. Nenek bernyanyi, engko menyuruh nenek berhenti. Saya tertawa. Lupa pada luka, lupa pada duka. Selamanya atau sementara?

***

Kumala—istri saya tentu saja nyaris jantungan ketika membuka pintu dan melihat saya seperti membawa keluarga baru. Dia diam saja dengan mulut sedikit terbuka. Kemudian menutup pintu dengan cara dibanting. Brak!

Saya duduk di teras dan menidurkan gadis mungil di kursi panjang. Nenek dan engko sibuk mengetuk pintu dan membujuk Kumala sampai pada akhirnya kembali dibuka. Tetapi saya tidak boleh masuk. Tidak apa-apa. Kata saya. Jangan lupa beri makan gadis mungil itu. Dia lapar.

Dua jam setelah itu, Kumala—istri saya membuka pintu dan mendekati saya. Yang lain sudah pada tidur. Selama dua jam sebelumnya, entah apa yang dibicarakan.

“Kamu mau angkat mereka semua jadi keluarga baru?”

“Nggak.” Saya tersenyum, “cukup Engko aja.”

“Hah? Maksud kamu?”

“Bercanda. Gadis mungil aja.”

Kumala tersenyum. Senyum bulan pindah di wajahnya. Gemas sekali melihatnya.

“Maaf,” ucap saya. Dia sudah paham mengenai apa yang saya maksud. Ikhlaskan saja. Katanya. Kumala menggenggam tangan saya erat. Kami saling berhadapan. Kumala mencium bibir saya.

“Masuk yuk! Aku buatin mie rebus campur telor.”

Saya tidak tahu bagaimana cara kerja atau mempekerjakan keikhlasan. Saya hanya mencoba menerima apa yang telah terjadi dalam hidup saya. Lalu meminta maaf dan memaafkan, termasuk kepada diri sendiri.

Saya menyusul Kumala dan memeluknya dari belakang.

Saya ingin menyediakan ruangan khusus dan nyaman agar keikhlasan bisa bekerja dengan baik? Tapi, bagaimana mempekerjakan keikhlasan?


Manis Yang Berbulu




Sudah lama nggak nulis di blog. Ada jeda selama tiga bulan lebih. Nulis setelah lama nggak nulis rasanya kaku kayak bincang pertama kali sama calon mertua atau ngerjain soal ujian matematika di kantor guru. Sendirian. Malam hari. Penerangannya cuma nyala lilin doang.

Eh, itu mah uji nyali.

Sekarang sudah jam setengah dua belas. Itu artinya malam minggu tanggal tiga puluh Januari bakal ketemu akhir. Sunyi dan sepi. Tapi, mata belum mau diajak tidur. Kopi masih ada sedikit. Tiga teguk. Tenang, kopinya nggak beracun, kok. Sianidanya saya pisah.

Di pojok ruangan, ada kucing saya yang sudah tidur dari jam delapan tadi.

Entah cuma kucing saya atau semua watak kucing memang menghabiskan waktu dengan tidur(?). Mungkin dunia di dalam tidurnya lebih nyata dan menyenangkan ketimbang dunia saat dia terjaga. Kucing saya bangun cuma karena satu hal; makan.

Seringkali dia bangun di waktu yang nggak tepat. Saat-saat stok makanan kosong. Sayangnya lapar kucing ternyata nggak bisa ditunda—meski dengan Okky Jelly Drink. Kalau sudah begitu, saya membiarkannya mencari makan di luar rumah. Ya, dalam hal ini saya bukanlah contoh majikan yang baik.

Pernah suatu ketika ia mengalami kesialan. Mencari makan di luar rumah ternyata bukan pilihan yang baik. Kucing saya seringkali pulang dengan bulu-bulu yang basah. Haru melihat kucing yang kebasahan saat hari sedang cerah-cerahnya. Saya mengeringkan badannya dan ia terus mengeong yang nggak saya pahami maksudnya. Yang pasti satu hal;

Ada yang membuatnya basah. Disiram(?)

Di rumah, saya pernah memelihara dua kucing. Pertama, kucing yang sekarang lagi tidur ini dan kedua, anak kucing tanggung yang tiba-tiba masuk ke rumah entah dari mana. Yang akhirnya dipelihara nggak lebih dari dua tahun. Kucing kedua meninggal karena sakit yang nggak begitu jelas. Mungkin dalam bahasa kedokteran di dunia kucing disebut “Miaw”.

Selama masa pemeliharaan, kedua kucing itu nggak pernah berteman semenit pun. Masing-masing. Hidup sendiri-sendiri. Saya pernah berpikir, apakah kucing nggak mengalami rasa kesepian seperti yang dialami manusia jika hidup sendirian? Kalau mereka merasa kesepian, gimana cara kucing mengatasi itu? Kalau nggak, kenapa bisa nggak?

Soalnya, kucing perempuan yang saya pelihara dari masih bayi ini sudah kehilangan sanak saudaranya. Kakak-kakaknya sudah mati, induknya pergi tiba-tiba tanpa kabar, tanpa meninggalkan surat. Dan dia adalah kucing perempuan yang gagal punya keturunan. Anak-anaknya lahir dan kemudian mati. Singkat. Jika kucing saya adalah manusia, mungkin kesehatan tubuhnya sudah digerogoti oleh pikiran. Sungguh dramatis sekali kisah ini. Semoga Mas Hanung Bramantyo membaca ini. Halah!

Sebaliknya, ternyata kucing ini bisa mengatasi kesedihannya dengan baik. Dia masih sanggup hidup lama. Sampai sekarang. Umurnya beda lima tahun dengan umur saya. Sekarang umur saya 20 tahun. Namanya, Manis. Dia adalah salah satu manis yang berbulu. Ehgimana.

Jika saya sedang kesepian, dia bisa saya manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Di situlah salah satu hal menyenangkan dari yang namanya memelihara. Apapun yang dipelihara, yang pasti kita menabung kasih sayang. Yang pada akhirnya, tabungan kasih sayang itu kembali ke kita.

Tapi, saya sadar; jauh di luar itu, memelihara kucing sama saja menyiapkan kehilangan dan kesedihan. Waktu itu pasti datang. Saya sudah dua kali mengalaminya.

Saya pernah baca entah di mana; jika kucing merasa umurnya sudah sangat pendek, ia akan berusaha untuk pergi meninggalkan rumah dan pemiliknya sebelum kematian datang. Maybe.

Nah… Ini Manis bangun. Mau ngapain dia deket-deket sini? Mau nemenin saya nulis? Ah. Nggak mungkin deh. Pasti mau makan.

Jangan naik meja! Awas kopi!

Oke. Terima kasih, Manis. Kopinya tumpah.

Sebenernya yang majikan itu saya atau kucing?

Paedofil “Bermoral”



“Rey, apakah kamu menyukai anak-anak lebih dari seharusnya?”

Aku menyesal telah bertanya seperti itu kepadanya. Di kamar yang berantakan; baju-baju kotor berserakan, bekas botol bir dan tumpahannya yang sudah mengering, lengket di lantai, bau apak dan alkohol tercampur jadi satu. Benar-benar komposisi menjijikan!

Jujur, aku agak gemetar. Merinding. Kami duduk bersilang di atas ranjang.

Dia menggeleng.

Hening. Ia menatapku dan aku jadi gelagapan. Menatap ke arah lain; jendela kaca, baju yang berserakan, botol bir dan… sebuah kado bermotif Superman di kolong kursi. Aku jadi ingat perayaan ulang tahun keponakanku.

Saat nyanyian selamat ulang tahun menggema dalam ruangan yang cukup besar. Kebahagiaan menyala dengan amat terang; Rey malah pergi seperti lilin kue ulang tahun yang ditiup padam. Sahabatku itu lenyap tak menyisakan bayangan. Selama tiga tahun lebih.

Tapi, kini aku melihatnya lagi dengan amat kacau; mata sembab, rambut berantakan, bau tak enak.

Aku menemukan Rey dari cerita ibu penjaga warung yang merasa aneh dengan seseorang yang tinggal di dekat rumahnya selama ini.

“Dia jarang keluar rumah, Mas. Keluar rumah palingan cuma beli makanan aja.”

“Lalu?” tanyaku.

“Udah seminggu ini ibu nggak liat dia—“ jeda. Mungkin ia berpikir sejenak. “Pokoknya orang itu aneh, Mas. Kalo ketemu anak-anak dia cepet-cepet ngehindar—“

Belum habis ceritanya, tapi aku sudah tahu siapa itu. Aku berlari menuju rumah itu dan mendobrak pintunya. Brak! Mencari sekeliling ruangan; tak ada. Lalu mendobrak pintu kamar dan menemukan Rey sedang bersiap gantung diri. Aku berlari, mendorong dan menghajarnya sampai ia jatuh tersungkur.

Setelah adegan itu kami saling diam selama kurang lebih dua jam. Lalu aku bertanya dan menyesal telah bertanya seperti itu.

“Menurutmu; apa aku kelihatan berbeda?” Rey balik bertanya. Mengagetkanku.

“Apa?” Aku pura-pura tak mendengar. Memikirkan kenapa ia bertanya seperti itu.

“Ya, aku suka anak-anak,” Dia mengangguk-angguk. Air mata membelah pipinya, “lebih dari yang seharusnya.”

Kali ini ia tertawa. Tawa seperti mentertawakan kesedihan dalam dirinya sendiri. Tawa tanpa suara. Sebatas ekpresi saja.

“Dari mana kamu tahu aku berbeda? Apa perbedaan itu terlihat terang, Sen?” Ia mengulang tawa itu lagi. “Ah, ya. Kamu pecinta Sherlock Holmes. Kamu Sherlock Holmes.”

“Maaf. Bukan—“

“Seno memang penyidik hebat!”

Aku tak pernah membayangkan hal ini. Pertanyaan awal itu menciptakan ngeri dalam dada sendiri. Bayangkan saja, hanya ada dua orang di kamar ini. Satu, adalah penyidik yang tak pintar benar berkelahi. Satunya lagi, orang yang memiliki penyakit cukup menakutkan. Dan dua jam yang lalu, ia mencoba bunuh diri. Dalam keadaan kacau begini salah satu atau keduanya bisa saja mati. Ada yang membunuh atau terbunuh.

“Kamu boleh membawaku ke kantor polisi, Sen. Tapi, sebelum itu, tolong dengarkan ceritaku.”

Aku mendongak ke arahnya.

***

Apakah kamu pernah melihat anak jalanan sambil memegang gitar kecil, bernyanyi dengan suara pas-pasan saat lampu sedang merah? Bukannya menghibur malah terdengar memusingkan kepalamu yang sudah penuh dengan masalah. Karenanya, ada seseorang yang dengan cepat menutup kaca mobil, memaki entah itu dalam hati dan yang lainnya mengisyaratkan dengan tangan “Pergi! Daripada gua hajar, palak lo benjol!”

Tolong, maafkanlah mereka.

Anak-anak jalanan dengan baju lusuh dan bau busuk menyengat. Karenanya, seseorang menutup hidung mungkin itu kamu dan pastinya bukan aku. Karena aku pernah menjadi anak jalanan itu.

Kami terlahir entah karena mewarisi karma atau entah ada dosa dalam diri yang membuat kami menjadi anak jalanan yang malang. Harus bekerja mencari uang untuk disetor kepada kepala pemimpin di bawah jembatan atau tempat-tempat tersembunyi yang tak pernah kamu tahu.

Anak-anak jalanan itu lahir karena orang tua yang tak bertanggung jawab atau kehidupan ekonomi atau apapun alasannya yang semua itu bukanlah benar. Karena yang benar selalu samar dan yang salah selalu bisa menyamar jadi benar.

Aku; anak yang dijual kepada kepala pemimpin untuk menjadi anak jalanan. Bolehkah aku membuat pernyataan bahwa tak semua orang tua berhak punya anak? Tetapi, Tuhan yang tak pernah kusangkal keberadaannya menciptakan hal semacam itu. Dan, aku terlalu dangkal untuk melihat makna kenapa semua ini terjadi kepadaku.

Aku dilecehkan. Disodomi oleh kepala pemimpin. Tak cuma sekali dan tak cuma oleh satu orang. Setelah dewasa aku berhasil keluar dari pekerjaan itu. Tetapi, menjadi sakit; ketertarikan seksual hanya pada anak-anak.

***

“Sen,” ia menggenggam tanganku. Sumpah! Aku benar-benar takut dan gemetar sekarang. Tak bisa kusembunyikan. “Aku memiliki ketertarikan hanya pada anak-anak! Selama dua puluh tahun aku menahan keinginan seksualku ini. Rasanya sakit! Aku berani sumpah belum ada korban. Karena aku tahu, betapa lebih menyakitkan hal itu. Jadi, tolong sembuhkan aku, Sen…”

Rey menggenggam tanganku lebih erat. Air matanya sudah jatuh, bukan hanya membasahi pipinya. Tapi hatiku. Sesak mendengarnya.

Aku menggeleng. Tak bisa melakukan apapun. Dan tak mengerti tentang ini.

“Apakah aku harus dikebiri, Sen? Nggak ada cara lain?” Ia mengguncangkan bahuku. Lagi-lagi aku beku.

“Kamu tidak akan ke kantor polisi atau dikebiri, Rey,” kataku mencoba meredakan apa-apa yang terasa tak enak. “Saya akan pikirkan caranya. Kamu pasti sembuh. Tapi, bukan bunuh diri. Ngerti? Kamu bisa sabar, kan?”

Rey berterima kasih dan mengiyakan. Kemudian kami membereskan kamar dan memar di pipinya.

***

Aku selalu menyempatkan diri mengunjunginya setiap hari. Satu bulan. Tiga bulan. Masalah Rey belum juga terpecahkan. Kondisinya buruk. Badannya kurus.

Tapi, di bulan ke-empat ia terlihat lebih bahagia daripada sebelumnya.

“Sen,” katanya suatu ketika, “ Tuhan sudah menanam penyakit ini. Itu artinya, penyakit ini adalah bagian dari diriku. Yang mesti kulakukan hanyalah menerima. Terima tapi tidak hanyut. Mungkin penyakit ini ada karena dosa yang pernah kulakukan dan nggak kusadari. Aku menerima diriku. Aku memaafkan aku. Kamu nggak perlu repot ke sini lagi.”

Hari Jum’at pagi, aku menemukan slogan iklan dalam bahasa Jerman dari Dunkelfeld Prevention Project yang bunyinya;

    "Apakah Anda menyukai anak-anak lebih dari seharusnya? Kini ada pertolongan."

Cepat-cepat aku mengunjunginya. Ini berita penting! Menurut ahli perawatan radikal untuk paedofil, Rey adalah kategori paedofil selibat atau “bermoral”; sebatas ketertarikan seksual bukan tindak kekerasannya. Banyak testimoni yang menyatakan paedofil bisa disembuhkan dengan terapi dan kemauan kuat.

"Ini serius?" Rey tak percaya.

"Tentu. Jadi, kapan kita berangkat?"

"Kita?"

"Selama ini, aku juga menghindari anak-anak. Bedanya, aku lebih pintar menyembunyikan."

Rey melongo. Beberapa saat kemudian ia menepuk bahuku.


Menulis Hujan



Kenangan itu serupa langit yang menurunkan hujan; tak bisa dicegah, tak bisa dihentikan. Dinikmati saja sampai ia reda dengan sendirinya.

Aku tidak menulis kisah orang lain. Aku menulis kisah Hujan; pemuda yang menjalani proses rumit dalam hidup.

1.

Di usia TK, ayah Hujan pergi meninggalkan ia dan ibunya untuk menikah lagi. Sehari setelah kepergian ayah dari rumah; ibunya gantung diri. Jadilah, kakek dari ibunya yang mengurusi.

“Kenapa saya diberi nama Hujan? Nama yang aneh.”

“Mulutmu itu!” kakek menjawil bibir mungilnya. “Hujan itu rezki Tuhan yang suci. Mutlak.”

“Tapi, Mbah Laseh bilang; hujan bisa bikin sakit.”

“Tidak semua. Yang bikin sakit itu hujan panas. Hujan waktu langit sedang cerah-cerahnya. Hujan panas itu pertanda ada yang meninggal. Kamu bukan hujan jenis itu. Kamu hujan setelah kemarau bertahun-tahun. Berkah.”

Hujan ingat betul percakapan waktu itu. Esok siangnya, air hujan jatuh saat langit sedang cerah-cerahnya. Tepat setelah kuburan kakek ditaburi bunga. Langit ikut sedih atas kematian kakek. Maka, Hujan harus rela diasuh oleh Made, teman ibunya di Bali. Dari sana, ia dewasa dengan melukis.

Tapi, semakin berjalan usia, ia merasa ada yang tak beres dalam hidupnya. Ia selalu mengenang masa lalu dan banyak memikirkan hal yang belum terjadi. Dalam dirinya, tak pernah ada yang namanya kini. Seperti pada pagi ini, ia sembunyi di antara dua batu karang besar di bibir laut dengan satu buku novel setebal 4.215 lembar di genggaman. Terbaca In Search of Lost Time, Marcel Proust. Dua tahun yang lalu, Rena—pacarnya yang memberikan novel itu.

“Maaf,” kata Hujan menolak sopan, “kamu tahu saya nggak suka baca yang terlalu panjang. Daripada buku ini jadi debu atau dimakan rayap. Sia-sia.”

“Cuma 4.215 lembar, kok.”

“Hah?” Ribuan lembar dibilang cuma. Untung saja Rena kekasihnya. Hujan mengusap dahi yang sudah berkeringat dari tadi. Ombak laut mengisi jeda percakapan mereka.

“Kamu harus hargai penulisnya, dong!” Rena kembali menyodorkan buku itu. Hujan tak langsung menerimanya. Ia menatap Rena dalam, hampir tenggelam.

“Setelah menikah, kamu beneran langsung cerai, kan?”

“Terima dulu bukunya. Satu hari baca satu lembar.”

Terpaksa, Hujan menerima.

“Ya, kan, Ren?” Hujan mengulang lagi.

2.

Perbedaan selalu dipermasalahkan dan didebatkan. Tak ada habis-habisnya. Malah, dari sana timbul hati yang terluka. Di ruang tamu berdekorasi klasik, kursi ukiran lama yang mengkilap dan bau kayu cendana tanda rumah sudah tua, perbedaan itu ditampakkan.

“Saya serius menjalin hubungan sama anak Bapak. Dan saya siap menikahinya.” ikrar Hujan di depan keluarganya (pada saat itu ada kedua orang tua, dua kakak perempuan beserta suaminya dan satu orang tak Hujan kenal)

“Bapak hargai maksud kamu. Tapi...” Tak pernah ada yang suka mendengar kata tetapi setelah sebuah penghargaan. “Tidak bisa. Kamu belum punya pekerjaan.”

“Saya bekerja sebagai pelukis.”

“Berpenghasilan tetap?”

Semua orang ingin tetap. Tak ada perubahan-perubahan yang tak diinginkan. Tetapi, apa yang tetap? Semuanya bergerak dari detik ke detik. Hujan sangat tersinggung. Ingin dia utarakan pendapatnya itu tapi tak ada kesempatan. Bapak Rena lebih banyak menuding.

“Tidak, kan?” vonis bapaknya. Lebih kepada merendahkan.

Hujan mengangguk positif.

“Tidak cuma itu. Lukisanmu juga belum memiliki pelanggan setia. Ya, kan?”

 Lagi, Hujan mengiyakan.

"Ini Bayu," Ditampilkan orang yang tak dikenal Hujan di percakapan itu. "Dia pengusaha batu bara. Muda, mapan dan sukses."

Hati Hujan pilu. Ia sudah cukup tahu bahwa ini penolakan kasar.

"Kalau boleh tahu; apa cita-cita Bapak sewaktu kecil?" tanya Hujan ramah. Bapaknya tertawa.

"Pilot. Kenapa?"

"Tidak terwujud, kan?"

Pernyataan itu menghadirkan keheningan paling sunyi. Hujan beranjak dari kursi dan lantas pergi. Ketika Hujan keluar dari rumah Rena, terbesit harapan agar langit yang sedang cerah-cerahnya itu menurunkan hujan. Pertanda untuk Bapak Rena. Tapi, sayangnya itu tak terjadi.

3.

Di antara dua batu karang itu, Hujan mengenang Rena lagi. Selalu. Pagi ini, ia sudah membaca sampai halaman 4.215, yang itu artinya; hari ini ia mengkhatamkan novel terpanjang yang pernah ia baca. Meskipun banyak kata dan kalimat yang tak ia mengerti.

Hujan berjalan mendekati air laut. Suara keras debur ombak yang menghantam batu-batu karang tak juga bisa meredam kenangan yang berputar di kepalanya itu. Lagi, seperti hujan, kenangan itu jatuh tanpa bisa dicegah.

“Setelah menikah, kamu beneran langsung cerai, kan?”

“Terima dulu bukunya. Satu hari baca satu lembar.”

Terpaksa, Hujan menerima.

“Ya, kan, Ren?” Hujan mengulang lagi. Rena berjalan menjauhi Hujan. Sesekali ia menendang air laut entah untuk apa. Hujan mengejar. Mendapati tangan Rena.

“Jawab, Ren.”

“Aku tidak tahu.”

“Apa harus saya yang kasih tahu cara agar bercerai? Atau yang mengurusi perceraian? Apa susahnya, sih, buat kesan calon suamimu itu bersalah agar hubungan kalian berantakkan?”

“Aku pasrah, Sayang. Jalani apa yang ada sekarang. Jadi lakon.”

“Lalu untuk apa kamu ke Bali, ke sini, nemui saya?”

“Perpisahan.”

Perlahan, Rena melepaskan diri dari genggaman tangan Hujan. Sebaliknya, ego Hujan untuk memiliki Rena, masih kuat, tak mudah dan tak mau lepas.

“Kita mesti sama-sama belajar untuk nggak mengharap apapun saat mencintai atau memberi. Cuma itu satu-satunya cara biar nggak ada yang namanya patah hati. Kecewa.”

“Nggak bisa, Ren. Semua udah terlanjur.”

“Belajar, Sayang.”

“Jangan panggil 'sayang' kalau pada akhirnya kita nggak bisa bersama. Kamu tahu, ini menyakitkan, Ren.”

“Ya. Kita nggak bisa bersama,” Rena lebih dulu menitikan air mata. “Nggak akan pernah!”

Kemudian Rena meninggalkan Hujan sendirian bersama remah-remah kehancuran. Langit berubah mendung. Tak perlu hitungan menit, ia menumpahkan kesedihan. Air dari langit dan air dari kedua mata Hujan saling berlomba; siapa yang lebih dulu reda?

4.

Tamat.

Novel yang dibaca Hujan akhirnya selesai juga. Tak ada tulisan Rena di selembar kertas pada bagian akhir novel itu. Tak ada jejak apa-apa yang ditinggalkan Rena dalam buku itu. Juga tak ada kabar tentang Rena setahun ini. Lagi-lagi harapan Hujan patah. Sunyi di dalam hatinya terasa tambah nyeri. Perpisahan itu benar-benar menjadi yang terakhir antara mereka. Dan buku tebal yang ada di tangan, tak cukup menyembuhkan lukanya.

Hujan mendekati air laut. Siapa tahu, laut bisa melarutkan kepedihannya itu.

Tiba-tiba, langit yang sedang cerah-cerahnya menurunkan air hujan. Ini yang namanya hujan panas kata kakek tempo dulu.

Tapi, siapa yang meninggal?
 

Tanpa tersadar, Hujan sudah mendekati air laut sampai seluruh tubuhnya tenggelam.

Aku tidak menulis kisah orang lain. Aku menulis Hujan; pemuda yang menjalani proses rumit dalam hidup.