Berziarah ke Makam Sendiri
Berziarah ke Makam Sendiri
Tanah pekuburan itu tak punya lagi bau basah
Bunga-bunga telah kering dijemur waktu
Rumput-rumput berdiri bebas di kaki dan kepala
Nama di patok makam; huruf-hurufnya berjatuhan dan terkubur dalam tanah
Tak ada yang bisa diperbuat
Rasa sesal adalah pekerjaan yang sama sekali tak berdampak untuk masa lalu
Hari ini, orang-orang sedang sibuk menziarahi makam orang lain
Aku menziarahi makamku sendiri
Yang tak terawat sejak empat puluh langkah orang-orang pergi
Aku tebas rumput-rumput yang menutupi kaki dan kepala
Di sana pikiran-pikiran tumbuh kacau dan tak punya batas
Jalan-jalan yang pernah dituju oleh kaki adalah
Jalan-jalan yang meninggalkan jauh rumah asal
Aku menyiram tanah makamku sendiri
Semoga debu-debu di kepala terbang ke langit
Nyala api yang membakar
Berganti wajah jadi nyala api yang memberi cahaya
Di beranda makamku
Kutaburkan bunga-bunga indah dari Tivoli
Dan menanam pohon kecil dengan do’a agar ia bisa menjulang tinggi
Agar pada suatu pagi, embun mau mencintai makamku
Daun dan Bunga pohon mau menjatuhkan hatinya kepada makamku
Dan makamku tak lagi kesepian, tak lagi menuntut apa-apa
Dan makamku punya Kekasih
Kekasih yang tak punya kepala seperti isi kepala manusia
Kekasih yang tak pernah mungkin lupa
Aku menggali tanah
Mencari huruf-huruf yang hilang dan menyusunnya kembali jadi namaku
Hujan tiba-tiba mencium ke makamku
Ternyata ada yang masih suci di dunia ini
Sebelum Menggunting Rambut Ibu
Sore itu, di depan cermin berukuran kira-kira 60cmx80cm ada wajah perempuan yang saya kenal betul. Lengan kiri memegang sisir dan gunting berada di lengan kanan. Sebagai anak yang pernah belajar PPKN di sekolah dasar dan di madrasah (walaupun guru ppkn itu masuk cuma ngasih tugas lalu muncul kembali dari laci meja saat bel pulang sekolah), saya tahu apa yang mesti dilakukan.
“Yakin bisa?” tanya ibu saya.
Sedari kecil saya perhatikan, ibu saya jarang sekali menggunting rambut di salon-salon pasar atau salon-salon banci di tikungan gang. Menggunting rambut bagi ibu saya adalah pekerjaan yang bisa dilakukan sendiri. Hasilnya; menurut saya tentu cantik. Tidak tahu kalo yang menilai Ivan Gunawan.
“Bisa.” jawab saya yakin. Gunting beralih ke tangan saya.
Sebelum menawarkan diri untuk menggunting rambut ibu, saya punya beberapa pengalaman yang cukup mampu membuat saya yakin kalau menggunting rambut adalah hal yang bisa saya lakukan meskipun sebelumnya tidak pernah.
Saat SD, pengalaman menggunting rambut saya dapatkan dari saudara saya. Kala itu, kalau boleh jujur, dia adalah tamu yang cukup mengerikan buat saya. Bagaimana tidak, setiap dia bertamu, pasti akan terjadi proses menggunting rambut; hal yang tidak saya sukai.
Setelah selesai dicukur saya selalu bercermin, dan di sana; saya temukan diri saya menjadi korban. Tapi, saya tidak menangis. Setidaknya bisa menahan itu sampai saudara saya pulang. Anehnya, setelah selesai dicukur dan sebelum saudara saya yang baik perangainya itu pulang, saya selalu diberi uang jajan. Lalu kesedihan saya selesai. Hmm, untuk mendapatkan sesuatu memang selalu ada ‘harga’ yang mesti dibayar, saudaraku. Entah itu uang atau lainnya.
Saya masih menyimpan foto itu; di usia SD, saya dengan style rambut bayi. Maaf, tidak untuk dikonsumsi publik. Jadi, tidak saya upload, ya. Saudara saya itu telah mengajarkan kepada saya bagaimana mencukur rambut agar tumbuh kembalinya lama. LAMA SEKALI. Terima kasih, saudaraku.
Saat Mts atau madrasah, saya dikenalkan dengan namanya razia rambut. Proses mencukur rambut oleh guru kala itu tidak kalah mengerikan. Kalau kamu terjaring razia, hasil akhir rambut kepala kamu tidak lain adalah botak. Dan botak, tidak lain adalah sapaan baru di sekolah. Sapaan yang membuat hatimu nyeri dan kamu bakal mengalami itu minimal dua minggu. Guru itu mengajarkan kepada saya; mencukur rambut semestinya dilakukan dengan tenang, tanpa dendam dan tidak bisa salah. Jika salah, bakal ada sesuatu yang tidak bisa diulang. Sesuatu yang tidak bisa diulang seringkali menyakitkan.
Sewaktu SMA, saya kebanyakan lolos dari razia. Entah karena rambut saya memenuhi kriteria atau karena saya selalu tidak ada saat razia berlangsung atau berhasil melarikan diri. Satu dua kali pernah terjaring razia, tidak menarik untuk diceritakan kembali. Tapi tenang saja, di tingkat ini, pendidikan mengenai mencukur, saya pelajari dengan cara merapihkan rambut teman saya. Dengan silet. Ya, silet. Hasilnya; hmm… ada luka-lukanya. Tapi, kan...
Pengalaman saya mengenai menggunting rambut tidak berhenti di situ saja. Saya pernah teleportasi; berpindah ke suatu tempat dengan cara rahasia. Sekedip mata saja, saya sudah berada di Spanyol (tentu saja ini bohong). Di sana, saya belajar dengan Pakde Almando, belio ini mencukur rambut dengan senjata orang-orang Jepang. Ya, dua samurai. Pakde Almando ini mengajarkan kepada kita bahwa hidup tak boleh terlalu kaku. Di tangannya, samurai bisa menjadi alat cukur. Barangkali guru-guru sekolah bisa meniru ini?
Pakde Almando sedang mencukur mbak maimun
Setelah ke Spanyol, dan saya tidak menemukan ale-ale di sana, padahal tembolok serasa kering, akhirnya saya teleportasi lagi ke China. Di China, kamu bisa menemui Wang Xiayou—kang cukur rambut dengan gaya kungfu. Belio ini mencukur rambut dengan posisi terbalik; kaki di atas, kepala di bawah,
Wang Xiayou--bajunya belum ada yang kering
Dengan pengetahuan itulah, saya mulai menggunting rambut ibu saya. Selama proses menggunting rambut, saya mengelilingi ibu saya; dari depan, pindah ke belakang, ke samping kanan, ke samping kiri. Begitu terus. Ternyata saya benar-benar berbakat dalam hal ini.
“Kok dari tadi nggak pake sisir?” tanya ibu saya.
Saya diam. Wajah saya sudah penuh keringat.
Di depan cermin itu, ibu saya diam melihat hasil rambutnya dan saya cepat-cepat pamit untuk mandi saja.
Sepasang Suami Istri dan Kucing Kurus
Papan yang berisi pengumuman “rumah ini dikontrakkan” dilepas saat koper Bayu sudah berdiri tegak di dalam rumah.
Jum’at Malam, Pukul 11.45, 13 November 2015
Pintu rumah itu tetap saja diketuk berkali-kali meskipun Bayu sudah menyaut dari ruang santai, tempatnya menonton tv. Ketukan itu berhenti saat pintu sudah dibuka dan sialnya Bayu tidak menemukan siapapun. Kejadian itu berulang lebih dari tiga kali dan Bayu tetap saja punya nyali untuk membuka pintu. Tidak kapok. Terakhir, saat pintu itu diketuk lagi, Bayu yang kesal segera berlari dan membuka pintu dengan cepat, agar yang bersembunyi ketahuan. Jangan bercanda!
Tidak ada siapa-siapa. Bayu kaku.
Tetapi, suara pintu yang diketuk berkali-kali itu belum menghilang. Suara itu masih terdengar amat jelas. Hanya saja pindah ke arah lain; pintu kamarnya. Bayu sudah menyadari degup jantungnya bekerja lebih dari biasanya, kakinya mulai gemetar. Merinding. Nyatanya, ini memang bukan bercandaan teman-teman kampusnya.
Perlahan, ia mendekati arah suara ketukan itu. Ia menarik napas dalam dan menghembuskan dengan berat sekali. Pintu itu masih diketuk berkali-kali dari dalam kamar. Suaranya makin kuat. Tempo ketukannya makin cepat.
Bayu sudah memegang gagang pintu. Tanpa harus lari mengelilingi lapangan, tubuh Bayu sudah dipenuhi keringat sekarang. Bayu menahan napas. Agak sesak. Ia memejamkan mata dan membuka pintu pada saat yang hampir bersamaan. Beberapa detik kemudian, ia membuka kedua matanya perlahan.
Tidak ada siapa-siapa.
Huft. Sekali lagi Bayu menghembuskan napas berat. Amat berat. Sedikit lega. Ia menutup kembali pintu kamar tetapi dari arah berlawanan seperti ada yang menahan. Menarik gagang pintu juga.
Bayu melepaskan pegangannya, membiarkan pintu itu terbuka, entah apakah sudah siap menghadapi dalangnya. Kemudian suara teriakan keras yang ditahan Bayu pecah dalam satu waktu. Wajah makhluk itu berjarak sejengkal dengan wajah Bayu.
***
Jum’at Malam Sabtu, 13 November 2000
Sepasang suami istri yang baru menikah sehari yang lalu berada di dalam kamar. Saling bercerita tentang masa lalu. Banyak tertawa. Sang suami yang lebih dulu membuat jeda dalam obrolan seru mereka.
“Sebentar. Mas mau minum dulu. Cerita bikin haus ternyata.” pamit suaminya. Sang istri mengiyakan dan masih senyum-senyum mengingat kelucuan sebelumnya.
Sehabis minum, sang suami memadamkan lampu dapur kembali dan berniat ke kamar lagi. Tepat setelah lampu dipadamkan, ada hal ganjil yang dilihat selintas oleh sang suami. Penasaran, sang suami menyalakan lampu kembali dan benar, ia melihat kucing sedang makan ikan bakar miliknya. Kesal, sang suami mengambil sapu di dekatnya dan menghajar hewan kurang ajar itu. Tidak kena. Kucing itu berhasil mengelak dan pergi membawa curiannya.
Bukannya mereda, kemarahan sang suami makin menjadi. Ia mengejar kucing yang lari ke belakang rumah, kamar mandi. Kucing itu sepertinya meledek. Ia makan dipinggir sumur. Makin kesal, sang suami mengambil balok kayu yang cukup besar dan langsung menyambar tubuh kucing kurus itu. Kena!
Dipukulnya kucing itu berulang-ulang dan tentu saja si kucing berusaha meloloskan diri. Berhasil! Kucing kurus itu berhasil meloloskan diri dari pukulan balok kayu dengan menceburkan diri ke dalam sumur.
Dari kamar, sang istri bertanya-tanya apa yang terjadi dengan suara mengeong cukup keras dan suara suaminya yang bicara “mati kamu, ya.” berulang-ulang. Meskipun kedua suara itu sayup-sayup. Tidak berapa lama, disusul suara suaminya yang teriak seperti orang ketakutan dan beberapa detik kemudian terdengar bunyi benda—seperti batu besar atau entah apa jatuh ke dalam sumur. Dentuman. Jelas dan besar sekali. Kejadian itu membuat tetangga-tetangga mengetuk pintu rumahnya.
Besoknya, orang-orang mengenakan pakaian hitam. Ada juga dokter yang menjahit kepala jenazah. Wajah jenazah serupa—entah apa dan bagaimana kalimat yang baik untuk mewakili dan menjelaskan. Jadi, tidak perlu ditulis.
Sang istri menangis hingga pingsan. Ibu-ibu tetangga membawa dan mengistirahatkannya di kamar.
Seminggu setelah kejadian itu, sang istri ditemukan gantung diri. Ranjangnya ada darah dan di balik selimut putih itu ada mayat kucing yang kepalanya terpisah. Ya, dua kucing kurus.
***
Kata salah seorang warga sekitar, seringkali ada kejadian aneh di rumah itu; bunyi orang seperti membelah kayu tengah malam, bunyi benda jatuh ke dalam sumur, perempuan mengerikan yang mengintip dari jendela kaca dan kejadian yang dialami Bayu semalam. Tanpa pikir dua kali, Bayu memutuskan untuk pindah kontrakan malam itu juga. Padahal ia belum seminggu berada di rumah tersebut.
Papan yang berisi pengumuman “rumah ini dikontrakkan” dipasang kembali. Beberapa hari kemudian, tiga orang wanita bersiap menempati rumah tersebut.
Apakah salah satunya kamu?
Tulisan ini diikutkan dalam tantangan #NulisBarengAlumni tema #horor Kampus Fiksi.
Subscribe to:
Posts (Atom)
About Me
Like us on Facebook
Banyak Dibaca
-
Ngomongin Samsung Galaxy Young GT-S6310 (Single Sim)
-
Perbedaan Sinopsis, Blurb, dan Resensi
-
Puisi tentang kanker
-
Cara Mengirimkan E-mail ke Media Untuk Memuat Tulisan
-
Cara Membuat Sinopsis Novel ala Editor Bentang Pustaka
-
Belajar Menulis Puisi Dengan Majas.
-
Cerita Dongeng Anak-anak; Lalat Hijau dan Teman Baru






