Cara Menghapal Sejarah Hidup Seseorang Dalam Waktu Kurang Dari Sehari

unsplash.com


Kelak, yang saya tulis di bawah ini akan membuat makhluk berakal yang hidup empat puluh sampai lima puluh tahun mendatang menemukan ilmu yang semakin memajukan teknologi dan peradaban manusia di Indonesia.

Peradaban gundulmu!

Saya bohong, kok. Ehehe.

Akhir-akhir ini, saya mencoba untuk lebih sering mendengarkan daripada mengecap berbicara. Dari sana, saya menarik dan menggulung beberapa kesimpulan bahwa; pertama, masa hidup manusia tidak lebih dari sehari. Kedua, tidak ada yang menarik, kecuali diri sendiri.

Kesimpulan saya tentu bisa saja salah. Tapi.

Kemarin siang—saat saya dalam perjalanan pulang ke rumah dengan kereta api, saya bertemu teman MTs saya yang sudah lama sekali tidak bertemu. Kurang lebih 31.104.000 detik. Berapa tahun tuh?

Yap. Kamu benar.  1.866.240.000 sekon.

Sebelum berada di dalam kereta, saya sering membayangkan bahwa di dalam nanti saya akan duduk berdekatan dengan perempuan yang punya senyum seperti bayi atau bapak-bapak yang punya cerita lucu atau minimal jangan ketemu mas-mas yang suka bilang; ‘biarkan uang yang bekerja untuk Anda’. Jangan...saya sudah lelah dengan kapal pesiar, ‘kaki-kaki’ atau downline yang dikoar-koarkan itu. Dan terima kasih, saya bertemu dengan Fajar, teman MTs yang jika kita menebak berapa umurnya, pasti kelebihan 5 sampai 8 tahun. Wajahnya sekarang penuh jambang ala Ridho Roma Kelapa. Alhasil, kami mendadak reuni di dalam kereta.

Yang tidak saya lupakan dari sosok Fajar ini adalah dia menyukai Michael Jackson. Di kelas—waktu itu, ia sering menirukan gerakan penyanyi pop yang telah meninggal dunia tersebut. Dan itu bagi saya pribadi adalah hal yang ‘aneh’ sekali. Maksud saya, Fajar menyukai Michael Jackson tepat ketika penyanyi tersebut meninggal dunia. Tapi, ya, tidak apa-apa. Saya baru ingat, kita saja pernah lebih mencintai seseorang, tepat ketika seseorang itu telah pergi.

Kami membicarakan banyak hal. Tentang perkebunan di Indonesia (itu bidangnya), dunia jurnalistik dan tentang wisudanya yang beberapa hari lagi. Dan kamu tahu, dari pembicaraan tersebut, hampir seluruh yang saya bicarakan dengannya adalah tentangnya, bukan saya. Biasanya memang seperti itu yang kamu dapat dari mendengar. Mari kita tinggalkan Fajar sebentar. Di depan tempat kami duduk ada satu ibu-ibu muda yang gelisah entah karena apa.

“Kenapa, Bu?” Saya tanya.

“Ini kenapa? Barusan jatuh. Jadi gini.” Dia balik tanya sambil menunjukkan layar handphone-nya yang menghitam.

Karena satu pertanyaan itu, saya bisa menghapal sejarah hidupnya dan keluarganya tidak lebih dari tiga jam. Saya hampir tahu masa hidupnya. Di mana dia sekolah dan pindah sekolah, kenakalan waktu dia sekolah, prestasi, pekerjaan-pekerjaan yang pernah dia kerjakan, bagaimana dia menikah, beberapa kebiasaan suaminya, perbedaan ia, anak-anaknya dan suaminya, nama anaknya, kenakalan anaknya, di mana sekolah anaknya dan banyak banyak lainnya.

Ya, karena satu pertanyaan itu, obrolan kami jadi memanjang. Saat saya mendengarkan, orang-orang lebih tertarik menceritakan hidupnya daripada mendengar cerita hidup orang lain. Cerita diri sendiri tampaknya selalu lebih menarik daripada orang lain. Meskipun, jika ada cerita orang lain yang memang lebih ‘megah’, berkesan dan berbekas, tetap saja rasanya lebih nikmat menceritakan kisahnya sendiri. Saat saya mendengarkan orang lain bercerita, saya merasa mereka seringkali lebih bersemangat dibanding saat mereka mendengar saya bercerita.

Sebelum saya menyesal kereta berhenti dan kami turun, saya bertanya; “ada keponakan atau saudara yang seumuran dengan saya, Tante?”

“Ada.” Dia senyum. Mengeluarkan hape lain dari dompet kecil. “Tapi, sudah punya pacar.”

Tiba-tiba saya ingin melupakan apa yang sudah dia ceritakan. Tidak menarik!

Jika kamu ingin tahu sejarah hidup seseorang, yang harus kamu lakukan hanyalah mendengarkan. Tapi, apakah hal itu menarik?


ULANG TAHUN

#PUISI


Berziarah ke Makam Sendiri



Berziarah ke Makam Sendiri

Tanah pekuburan itu tak punya lagi bau basah
Bunga-bunga telah kering dijemur waktu
Rumput-rumput berdiri bebas di kaki dan kepala
Nama di patok makam; huruf-hurufnya berjatuhan dan terkubur dalam tanah

Tak ada yang bisa diperbuat
Rasa sesal adalah pekerjaan yang sama sekali tak berdampak untuk masa lalu

Hari ini, orang-orang sedang sibuk menziarahi makam orang lain
Aku menziarahi makamku sendiri
Yang tak terawat sejak empat puluh langkah orang-orang pergi

Aku tebas rumput-rumput yang menutupi kaki dan kepala
Di sana pikiran-pikiran tumbuh kacau dan tak punya batas
Jalan-jalan yang pernah dituju oleh kaki adalah
Jalan-jalan yang meninggalkan jauh rumah asal

Aku menyiram tanah makamku sendiri
Semoga debu-debu di kepala terbang ke langit
Nyala api yang membakar
Berganti wajah jadi nyala api yang memberi cahaya

Di beranda makamku
Kutaburkan bunga-bunga indah dari Tivoli
Dan menanam pohon kecil dengan do’a agar ia bisa menjulang tinggi

Agar pada suatu pagi, embun mau mencintai makamku
Daun dan Bunga pohon mau menjatuhkan hatinya kepada makamku
Dan makamku tak lagi kesepian, tak lagi menuntut apa-apa
Dan makamku punya Kekasih
Kekasih yang tak punya kepala seperti isi kepala manusia
Kekasih yang tak pernah mungkin lupa

Aku menggali tanah
Mencari huruf-huruf yang hilang dan menyusunnya kembali jadi namaku
Hujan tiba-tiba mencium ke makamku
Ternyata ada yang masih suci di dunia ini


Sebelum Menggunting Rambut Ibu



Sore itu, di depan cermin berukuran kira-kira 60cmx80cm ada wajah perempuan yang saya kenal betul. Lengan kiri memegang sisir dan gunting berada di lengan kanan. Sebagai anak yang pernah belajar PPKN di sekolah dasar dan di madrasah (walaupun guru ppkn itu masuk cuma ngasih tugas lalu muncul kembali dari laci meja saat bel pulang sekolah), saya tahu apa yang mesti dilakukan.

“Yakin bisa?” tanya ibu saya.

Sedari kecil saya perhatikan, ibu saya jarang sekali menggunting rambut di salon-salon pasar atau salon-salon banci di tikungan gang. Menggunting rambut bagi ibu saya adalah pekerjaan yang bisa dilakukan sendiri. Hasilnya; menurut saya tentu cantik. Tidak tahu kalo yang menilai Ivan Gunawan.

“Bisa.” jawab saya yakin. Gunting beralih ke tangan saya.

Sebelum menawarkan diri untuk menggunting rambut ibu, saya punya beberapa pengalaman yang cukup mampu membuat saya yakin kalau menggunting rambut adalah hal yang bisa saya lakukan meskipun sebelumnya tidak pernah.

Saat SD, pengalaman menggunting rambut saya dapatkan dari saudara saya. Kala itu, kalau boleh jujur, dia adalah tamu yang cukup mengerikan buat saya. Bagaimana tidak, setiap dia bertamu, pasti akan terjadi proses menggunting rambut; hal yang tidak saya sukai.

Setelah selesai dicukur saya selalu bercermin, dan di sana; saya temukan diri saya menjadi korban. Tapi, saya tidak menangis. Setidaknya bisa menahan itu sampai saudara saya pulang. Anehnya, setelah selesai dicukur dan sebelum saudara saya yang baik perangainya itu pulang, saya selalu diberi uang jajan. Lalu kesedihan saya selesai. Hmm, untuk mendapatkan sesuatu memang selalu ada ‘harga’ yang mesti dibayar, saudaraku. Entah itu uang atau lainnya.

Saya  masih menyimpan foto itu; di usia SD, saya dengan style rambut bayi. Maaf, tidak untuk dikonsumsi publik. Jadi, tidak saya upload, ya. Saudara saya itu telah mengajarkan kepada saya bagaimana mencukur rambut agar tumbuh kembalinya lama. LAMA SEKALI. Terima kasih, saudaraku.

Saat Mts atau madrasah, saya dikenalkan dengan namanya razia rambut. Proses mencukur rambut oleh guru kala itu tidak kalah mengerikan. Kalau kamu terjaring razia, hasil akhir rambut kepala kamu tidak lain adalah botak. Dan botak, tidak lain adalah sapaan baru di sekolah. Sapaan yang membuat hatimu nyeri dan kamu bakal mengalami itu minimal dua minggu. Guru itu mengajarkan kepada saya; mencukur rambut semestinya dilakukan dengan tenang, tanpa dendam dan tidak bisa salah. Jika salah, bakal ada sesuatu yang tidak bisa diulang. Sesuatu yang tidak bisa diulang seringkali menyakitkan.

Sewaktu SMA, saya kebanyakan lolos dari razia. Entah karena rambut saya memenuhi kriteria atau karena saya selalu tidak ada saat razia berlangsung atau berhasil melarikan diri. Satu dua kali pernah terjaring razia, tidak menarik untuk diceritakan kembali. Tapi tenang saja, di tingkat ini, pendidikan mengenai mencukur, saya pelajari dengan cara merapihkan rambut teman saya. Dengan silet. Ya, silet. Hasilnya; hmm… ada luka-lukanya. Tapi, kan...

Pengalaman saya mengenai menggunting rambut tidak berhenti di situ saja. Saya pernah teleportasi; berpindah ke suatu tempat dengan cara rahasia. Sekedip mata saja, saya sudah berada di Spanyol (tentu saja ini bohong). Di sana, saya belajar dengan Pakde Almando, belio ini mencukur rambut dengan senjata orang-orang Jepang. Ya, dua samurai. Pakde Almando ini mengajarkan kepada kita bahwa hidup tak boleh terlalu kaku. Di tangannya, samurai bisa menjadi alat cukur. Barangkali guru-guru sekolah bisa meniru ini?

Pakde Almando sedang mencukur mbak maimun

Setelah ke Spanyol, dan saya tidak menemukan ale-ale di sana, padahal tembolok serasa kering, akhirnya saya teleportasi lagi ke China. Di China, kamu bisa menemui Wang Xiayou—kang cukur rambut dengan gaya kungfu. Belio ini mencukur rambut dengan posisi terbalik; kaki di atas, kepala di bawah, hati disakiti. Mencukur rambut dan seni bela diri adalah komposisi yang indah, bagi Wang Xiayou.

Wang Xiayou--bajunya belum ada yang kering

Dengan pengetahuan itulah, saya mulai menggunting rambut ibu saya. Selama proses menggunting rambut, saya mengelilingi ibu saya; dari depan, pindah ke belakang, ke samping kanan, ke samping kiri. Begitu terus. Ternyata saya benar-benar berbakat dalam hal ini.

“Kok dari tadi nggak pake sisir?” tanya ibu saya.

Saya diam. Wajah saya sudah penuh keringat.

Di depan cermin itu, ibu saya diam melihat hasil rambutnya dan saya cepat-cepat pamit untuk mandi saja.