Cernak Dimuat Di Padang Ekspress

23:40 Unknown 2 Comments



Ini Cerita anak perdana yang dimuat di Padang Ekspress. Cerita anak, ya, bukan cerita dewasa. Eh.

Ya, mudah-mudahan aja terhibur. Minimal bisa ngobatin insomnianya. Happy Reading!





Tolong Kancil, Teman!


Kancil berlari dengan kencang memasuki hutan untuk menemui teman-temannya. Ia perlu bantuan Orang Utan, Si Dokter itu untuk mengobati sakit adiknya. Masalahnya, tempat tinggal Orang Utan itu harus menyeberangi sungai yang banyak sekali Buayanya. Dan Kancil tidak bisa menyeberanginya.

“Monyet tolong aku,” kata Kancil dengan napas kelelahan ketika baru saja tiba di rumah monyet. “Adikku sakit. Bisakah kamu menyebrangi sungai untuk memanggil Orang Utan?”

Tapi Monyet malah tertawa. “Kancil, jangan coba membohongi aku lagi seperti waktu itu. Aku tidak mau!” Monyet menolak. Kancil mengingat hari sebelumnya. Ia pernah membohongi Monyet, bilang bahwa Monyet dipanggil Kura-Kura untuk hal penting. Lekas Monyet pergi ke rumah Kura-Kura. Tapi, setiba di sana, Kura-Kura bilang ia tidak pernah memanggil.

“Kali ini aku tidak berbohong,” kata Kancil menyakinkan.

“Tidak. Aku tidak mau tertipu lagi. Pergi saja sendiri sana!” Monyet mengusir.

Kancil putus asa lalu meninggalkan Monyet. Ia berpikir siapa lagi temannya yang bisa menolong. Oh, iya! Anjing baik itu pasti bisa! seru Kancil. Cepat ia kembali berlari menuju rumah Pak Tani, tempat tinggal Anjing. Itu dia Anjing! Kancil melihat dari kejauhan. Anjing sedang menjaga perkebunan Pak Tani. Segera Kancil menghampiri.

“Anjing, kau kan akrab dengan Buaya, bisakah kamu menolong aku untuk memanggil Orang Utan? Adikku sedang sakit,” keluh Kancil.

“Kenapa tidak kau saja?”

“Aku pernah membohongi Buaya waktu itu. Jadi aku tidak mungkin bisa menyeberangi sungai lagi.”

“Aku tidak mau. Kau pasti mau membodohiku lagi, kan? Aku tidak mau tertipu lagi,” tolak Anjing.

“Kemarin saja kau bilang aku dipanggil Pak Tani, tapi setelah kutinggal, kau mencuri mentimun kami. Kau pasti berbohong lagi.”

“Tidak. Aku tidak berbohong. Adikku benar sedang sakit. Kumohon bantu aku…”

“Aku tidak mau. Kau pembohong, Kancil. Sana pergi! Sebelum Pak Tani menghajarmu!” Anjing juga mengusirnya.

Kancil sangat putus asa dan tidak tahu harus meminta tolong siapa lagi. Ia berjalan menunduk dan menangis. Kancil menyesal pernah membohongi teman-temannya itu. Sekarang, ia menerima hukuman, teman-temannya tidak ada yang mempercayainya lagi.

“Hei Kancil! Kau kenapa?” tanya Singa, Si Raja Hutan melihat Kancil murung.

“Jangan dekat-dekat!” teriak Kancil ketakutan.

“Tenang…Aku tidak akan memakanmu. Aku ingin menolongmu. Aku kan Raja di sini. Sekarang, apa yang bisa aku bantu, Kancil? Katakan saja.”

“Tidak! Kau pasti berbohong, Singa. Kamu pasti mau memakanku!”

Kancil berlari secepat-cepatnya meninggalkan Singa. Kemudian ia kembali ke rumah untuk melihat keadaan adiknya. Dilihat wajah adiknya yang pucat dan menggigil kedinginan. Bagaimana ini?! Sakit adikku tambah parah! Kancil mengeluh sendiri.

“Tolong! Tolong!” teriak Kancil.

Tidak ada yang menyahut. Kancil menangis dan benar-benar menyesal. Tidak ada yang mempedulikan dia.  Beberapa saat kemudian, Singa datang dengan Anjing, Monyet, Orang Utan serta binatang hutan lainnya.

“Maafkan kami, Kancil. Kami mengira kamu membohongi kami lagi,” Anjing dan Monyet memeluk Kancil.

“Tidak. Aku yang minta maaf kepada kalian karena sering membohongi kalian. Maafkan aku, ya. Terimakasih sudah menolongku,” kata Kancil.

“Berterimakasihlah kepada Singa. Singa yang menanyakan kami masalahmu dan Singa juga yang memanggil Orang Utan.” Monyet menjelaskan.

Kancil tambah malu. Barusan saja ia menuduh Singa akan memakannya. Ternyata tidak begitu. Kemudian Kancil meminta maaf kepada Singa dan berterimakasih kepada semua teman-temannya. Ia berjanji kepada diri sendiri agar tidak pernah membohongi teman-temannya lagi.



Untuk Alpukat dan Es Kacang Merah, selamat ulang tahun, ya...)


2 comments:

  1. Wohoo keren nih bang broo! :D dimuat di koran PaDek :D

    Btw, orang padang yaa? kalo iya sama dong ? :D

    salam kenall hehee

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wah... thanks Bang Afif sdh mampir.

      Bukan orang Padang, Bang. Tinggal di Lampung saya. Itu cernak yg pernah saya kirim ke koran PaDek.

      Salam kenal juga...

      Delete

Terimakasih udah ngeluangin waktunya buat baca ini. Sebelum pergi, baiknya tinggalkan jejak. Jejak untuk dikenang. Dikenang keindahannya. Jadilah tak terlupakan. Silakan coret kalimat di kolom komentar. :)